Kupi Beungoh
Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (VIII) - Akankah AS Salah Hitung dengan Sanksi Ekonomi?
“Kesalahan berhitung” itu pernah dialami AS, dan pernah juga dialami oleh Rusia-Uni Soviet pada masa perang dingin.
AS berhasil membunuh Osama Bin Laden dan banyak pembantu dekatnya.
Apakah setelah “menduduki” Afghanistan 20 tahun, “membangun” demokrasi dengan terpilihnya Hamid Karzai, Ashraf Ghani, dan mencurahkan 2.2 triliun dollar untuk pembangunan dan keamanan AS, negara itu telah menang?
Jawabannya juga tidak.
AS harus realistis, dan harus menerima Afghanistan diperintah oleh “orang berjenggot” dan juga makan dalam “satu piring besar” rame-rame.
Memang AS masih memberi sanksi keuangan kepada Taliban, tetapi negeri itu terus berjalan apa adanya.
Baca juga: Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (I): Denazifikasi dan Demiliterisasi Ukraina
Baca juga: Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (II), Emosional atau Logiskah Alasan Putin?
Baca juga: Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (III), Benarkah Putin Reinkarnasi Ivan ‘Ceulaka’ the Teribble?
Soviet juga Sami Mawon
Apakah Rusia, yang praktis merupakan “sucessor state”-negara pelanjut, dari Uni Soviet alpa dari pengalaman seperti yang dialami AS?
Tidak juga, sami mawon.
Uni Soviet, negara yang mesin perangnya sebanding dengan AS pada akhir tahun tujupuluhan menginvasi negera miskin dan terkebelakang di muka bumi, Afghanistan.
Alasannya apalagi kalau bukan ideologi.
Pada tahun 1978 Partai Komunis Afghanistan yang Prosoviet mengambil alih kuasa dan berperang dengan berbagai front perlawanan, baik yang di para pejuang muslim yang didukung AS- Mujahideen, maupun fraksi kecil komunis Procina.
Soviet membantu rezim Najibullah selama 10 tahun dengan mengirimkan pasukan, mesin perang, dan bantuan keuangan yang cukup besar.
Akhirnya apa yang didapat oleh Uni Soviet?
Negara adikuasa itu kalah dipermalukan oleh Mujahedeen yang berperang dengan strategi gerilya yang tak ada dalam buku cetak perpustakaan Akademi Militer manapun di dunia . Bahkan dalam buku manual perang anti gerilya negara pemenang perang pun, tak ada penjelasan lengkap untuk menandingi gaya perang “kampung” Afghanistan yang menggunakan senjata canggih bantuan AS pada masa itu.
Pengalaman Soviet di Afghanistan, dan pengalaman AS di Vietnam, Afghanistan, bahkan di Irak dan Libya, adalah bukti kuat betapa “miskalkulasi” dapat membuat pihak agresor, seperti AS dan Uni Soviet menderita kekalahan yang sangat memalukan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/prof-ahmad-humam-hamid-1.jpg)