Kupi Beungoh
Tantangan Mendidik Anak di Era Digital
Anak-anak kita tumbuh bukan hanya sebatas di lingkungan rumah dan sekolah, tetapi juga di dunia digital yang terbuka tanpa batas.
*) Oleh: Tgk H Akmal Abzal, SHI MH
DI TENGAH derasnya arus perkembangan teknologi saat ini, kita hidup dalam sebuah zaman yang sangat berbeda dengan masa lalu.
Anak-anak kita tumbuh bukan hanya sebatas di lingkungan rumah dan sekolah, tetapi juga di dunia digital yang terbuka tanpa batas.
Dalam genggaman kecil mereka, tersimpan akses menuju berbagai informasi liar yang baik maupun yang buruk. Inilah realita yang tidak bisa kita hindari, tetapi harus kita hadapi dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab.
Dalam Islam, anak yang kita lahirkan adalah amanah yang sangat mulia dari Allah SWT. Mereka bukan sekadar anugerah yang membahagiakan, tetapi juga titipan yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Allah SWT mengingatkan dalam firman-Nya QS. At-Tahrim, 6: “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”.
Ayat ini menjadi penegasan bahwa mendidik anak bukan hanya urusan dunia, melainkan juga tanggung jawab akhirat.
Namun, mendidik anak di era digital bukanlah perkara mudah. Jika dahulu orang tua cukup mengawasi pergaulan anak di lingkungan gampong, kini tantangannya jauh lebih besar melewati tapal batas wilayah.
Dunia maya menghadirkan berbagai nilai, budaya, dan gaya hidup yang tidak selalu sejalan dengan ajaran Islam. Tanpa bimbingan yang tepat, anak dapat dengan mudah terpengaruh oleh hal-hal yang merusak akhlak dan keimanan.
Di sinilah pentingnya peran orang tua sebagai pendidik utama.
Rasulullah SAW bersabda: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya anak yahudi, nasrani atau majusi”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadits ini mengingatkan kita bahwa arah kehidupan anak sangat ditentukan oleh bagaimana orang tua membimbingnya.
Mendidik anak di era digital tidak cukup hanya dengan melarang, mengekang atau membatasi. Anak-anak Gen-Z ini membutuhkan pendekatan yang lebih bijaksana.
Mereka perlu dipahami, diajak berdialog, dan diberikan alasan yang masuk akal. Orang tua harus hadir bukan hanya sebagai pengawas, tetapi juga sebagai sahabat yang mendampingi mereka dalam memahami dunia.
Lebih dari itu, keteladanan menjadi kunci utama. Anak-anak adalah peniru yang ulung. Apa yang mereka lihat dari orang tuanya akan lebih membekas ketimbang apa yang mereka dengar. Jika orang tua bijak dalam menggunakan teknologi, maka anak pun akan belajar hal yang sama.
| Jalan Tol Hingga Sepinya Saree, Ketika UMKM Tertinggal di Jalur Lama |
|
|---|
| Nikah Naik di Gayo Lues: Antara Jembatan Restu dan Jebakan Masa Depan Generasi Muda |
|
|---|
| Dari Tenda ke Rumah: Ikhtiar Bupati Mukhlis Menghadirkan Kepastian Hunian |
|
|---|
| Akselerasi PAUD, Penentu Keberhasilan Pendidikan Anak |
|
|---|
| Ruang Publik atau Panggung Personal? Menakar Etika dan Marwah Komunikasi Lembaga |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Akmal-Abzal-OKE.jpg)