Minggu, 19 April 2026

Kupi Beungoh

Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (VIII) - Akankah AS Salah Hitung dengan Sanksi Ekonomi?

“Kesalahan berhitung” itu pernah dialami AS, dan pernah juga dialami oleh Rusia-Uni Soviet pada masa perang dingin.

Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/Handover
Prof. Dr. Ahmad Human Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. 

Mereka semua kaya karena Putin.

Privatisasi sumber daya alam dan badan usaha milik negara bekas Uni Soviet adalah ladang kekayaan mereka yang tak terhingga.

Berbagai macam fasilitas dan sumber daya itu diberikan Putin kepada siapa yang dia suka.

Kalau mereka macam-macam, pilihannya tidak banyak, ditangkap, ditahan, hartanya disita, bahkan dibunuh kalau perlu.

Apa buktinya kebrutalan Putin terhadap oligarkhi yang melawan?

Mikhail Khodorkovsky adalah seoorang insinyur muda, pengusaha yang kaya, dan bahkan sangat kaya mendadak ketika Boris Yieltsin menjadi presiden pertama Rusia.

Dipercaya sebagai kroni terdekat Yieltsin, ia mengambil alih BUMN minyak Rusia Yukos yang sedang bangkrut.

Ia segera mengubah Yukos menjadi perusahaan migas terbesar Rusia dan bahkan menjadi salah satu terbesar dunia.

Apa kesalahan Khodorkovsky?

Ia mengeritik Putin dalam sebuah pertemuan pada Februari 2003.

Dalam pertemuan itu ia menyorot korupsi pemerintahan yang luar biasa, dan anak buah Putin yang memerasnya.

Setelah itu mereka tidak pernah bertemu lagi.

Khordovssky mulai khawatir, dan akhirnya ia mencoba melarikan diri ke luar negeri.

Ketika Jet pribadinya sedang mengisi bahan bakar tambahan di lapangan Tolmachevo, di belantara Siberia, ia dicegah dan ditangkap oleh petugas.

Khodorkovsky ditahan di penjara paling ketat dan tekenal di Moscow, Matrosskaya Tishina.

Pada tahun 2005, ia diadili dan diputuskan hukuman 8 tahun.

Putin mengirim Khodorkovsky ke kamp kerja paksa Rusia di Krasnokamensk, propinsi Chita, di Siberia Tengah.

Lokasi ini terletak dekat perbatasan Cina, sekitar 4700 kilometer dari Moscow.

Khodorkovsky dibebaskan oleh Putin pada tahun 2013, dan sekarang ia tinggal berpindah-pindah di AS, Swiss, dan Inggris.

Baca juga: Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (IV), Georgia dan Kegagalan Barat Menjegal Putin

Baca juga: Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (V), Laboratorium Suriah Putin, untuk Ukraina?

Baca juga: Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (VI) - Cina dan Strategi Bismarck Xi Jinping

Setop Impor Migas

Beberapa hari yang lalu, Presiden AS menyetop impor migas dari Rusia, dan dia meminta sekutunya di Eropa untuk melakukan hal yang sama.

Untuk mengimbangi kebutuhan permintaian dunia, ia kini “bersahabat” kembali dengan Presiden Venuzela, Nicholas Maduro-sohib dekat Putin di Amerika Latin, dengan melepas embargo minyak  AS dan sekutu  atas negeri itu.

AS yang punya cadangan migas domestiknya cukup banyak boleh saja menutup keran impor migas dari Rusia yang hanya kurang dari 10 persen.

Tetapi bagaimana dengan negera-negara Uni Eropa yang energinya sangat tergantung dengan Rusia?

Majalah Politico (Maret 2022) menulis ketergantungan negara-negara Uni Eropa kepada Rusia, 27 persen minyak mentah, 41 persen gas alam, dan 47 persen batubara.

Sejumlah negara seperti Estonia, Slovakia, Polandia, dan bahkan Finlandia mengimpor lebih dari 75 persen kebutuhan minyaknya dari Rusia.

Jerman terkenal sebagai negara konsumen gas Rusia terbesar di Eropa.

Akibat serangan AS, Jerman telah menghentikan rencana operasi pipa gas Nord Stream 2 dari Rusia yang melintasi Ukraina dan Polandia.

Apakah Jerman cukup siap dengan sumber daya energinya pada musim dingin yang akan datang?

Inggris dan Italia telah menyiapkan untuk menghentikan impor migas dari Rusia, akan tetapi tidak  saat ini.

Inggris menyebutkan tahun 2023, sementara serangan Rusia atas Ukraina terus berlanjut saat ini.

Sanggupkah Eropa serta merta menghentikan impor migas dari Rusia?

Bagaimana dengan harga minyak dunia, inflasi dan pertumbuhan ekonomi Eropa?

Baca juga: Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (VII) - Putin dan “Teori Ureung Pungo”

Rusia telah memperingatkan, jika skenario penghentian impor terjadi, maka harga minyak mentah dunia per barel bisa melejit dari 130 dollar hari ini, akan melonjak menjadi 300 dollar.

Siapa yang akan menderita, Rusia ataukah negara-negara lainnya?

Tentang potensi dampak ekonomi lainnya akibat penghentian impor migas, terutama terhadap kelompok negara-negara Uni Eropa juga akan terasa.

Kajian Goldman Sachs unit Eropa yang dimuat oleh media CNBC (Maret 2022) menyebutkan Uni Eropa secara keseluruhan akan turun GDP nya tahun ini menjadi 2,2 persen - tahun 2021, 4,6 persen, sementara kontraksi akan dialami lebih kuat oleh Jerman -3,4 persen, dan Italia -2,6 persen.

Akankah Uni Eropa bersedia menjadikan dirinya korban, dan apakah ini mungkin?

Baca juga: Terungkap Senjata Mematikan Rusia yang Mampu Membawa 12 Rudal Nuklir, Dunia Bisa Dihancurkan

Bom Nuklir Keuangan

Bagimana dengan sanksi mengeluarkan Rusia dari keluarga besar jaringan dan pasar keuangan global, terutama dengan mendepak Rusia dari sistem pembayaran global terbesar dunia, SWIFT- Society for Worldwide Interbank Financial Telecomunication.

Jaringan ini menghubungkan klien korporasi dari 265 negara, berikut dengan 9000 lembaga keuangan.

Sanksi yang ditujukan ke 7 bank besar Rusia itu, berikut dengan Bank Sentralnya, belum pernah diberikan sebelumnya.

Sanksi ini diberi julukan oleh berbagai media sebagai “bom nuklir keuangan” yang dahsyat dari pihak Barat untuk menghukum Rusia.

Sejumlah analis menyebutkan pengeluaran Rusia dari SWIFT sebagiannya juga merugikan negara-negara maju yang mengimpor migas dari Rusia, dan menganggu transaksi keuangan internasional.

Apakah Rusia akan diam?

Rusia tidak memberi komentar banyak terhadap hal itu, dan kini sejumlah pihak mulai mencurigai bahwa Rusia bisa saja merusak sistem kabel bawah laut antarbenua yang akan menyebabkan semua transaksi keuangan global terhenti.

Banyak pihak menyangka, kemajuan arus informasi digital hari ini lebih berurusan dengan sistem satelit dan sistem cloud, padahal 95 persen arus informasi internet harian terjadi melalui  kabel fiber optik bawah laut.

Kini praktisi keuangan global mengkhawatirkan bahwa Rusia akan menggunakan kekuatan kapal selamnya untuk mensabotasie jaringan kabel bawah laut yang menjadi nadi jaringan infomasi global, termasuk SWIFT.

Laporan Laurence (2017) melalui di situs BBC, menejelskan bahwa Rusia telah membangun sebuah kapal selam pada tahun 2015 di pangkalan Severomorsk.

Kapal selam itu-tepatnya kapal selam mata dapat dianggap sebagai sebagai kapal selam induk kecil yang juga membawa sejumlah kapal selam kecil yang berawak, maupun tidak berawak.

Yantar mempunyai kemampuan untuk pemetaan, sabotase, penyadapan, dan bahkan pemutusan kabel bawah laut antar benua.

Pada tanggal 18 Augustus 2021, Naval News ( Maret 2022) meencatat sebuah sistem identifikasi otomatis milik perusahaan swasta mendeteksi Yantar berkeliaran di seputar jaringan kabel bawah laut Trans -Atlantik yang menghubungkan benua Amerika dan Eropa.

Apa implikasinya?

Apa yang akan terjadi bila Rusia membalas blokir SWIFT Barat dengan memotong jaringan kabel bawah laut yang menjadi jantung transaksi keuangan SWIFT dan berbagai lembaga dunia lainnya? 

Lalu lintas internet antar benua akan kolaps, dan Rusia berikut dengan seluruh  negara-negara SWIFT secara kolektif akan mengalami serangan “nuklir keuangan”.

Jika itu dilakukan, jangankan transaksi besar miliaran dolar, warga London dan New York pun akan tidak dapat menarik uang dari ATM.

Punya nyalikah Putin, dan siapkah AS dan sekutunya? (BERSAMBUNG)

*) PENULIS adalah Sosiolog, Guru Besar Universitas Syiah Kuala.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

BACA ARTIKEL KUPI BEUNGOH LAINNYA DI SINI

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved