Kupi Beungoh
Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (XIII) - Ada Pekerjaan Kontraktor di Ukraina
Di Ukraina juga ada kontraktor yang tidak sangat serupa prinsipnya dengan di Aceh, dan bahkan pekerjaannya pun sangat berbeda.
Saling tuduh itu kini telah menggelembung ke permukaan.
Uni Eropa dan AS menuduh lebih awal dengan menunjukkan indikasi dan bukti-bukti awal bahwa Rusia telah menerjunkan serdadu bayaran ke Ukraina.
Ketika terbaca atau terdengar nama Wagner terdengar dan terbaca, telinga dan mata kita langsung terasosiasi dengan pihak barat, karena bernada bahasa Inggris.
Tidak, Wagner adalah sebuah perusahaan kemiliteran di Rusia yang cukup terkenal reputasinya dalam berbagai keterlibatan Rusia, dan mungkin juga sejumlah perusahaan multi nasional dalam berbagai wiayah konflik di dunia.
Hasil investigasi BBC (Maraet 2023) pada minggu awal invasi Rusia ke Ukraina, sebuah media sosial VK di Rusia telah membuat iklan yang mengindikasikan rekrutment untuk seradu bayaran itu.
Iklan itu menyebutkan keperluan untuk satuan pengamanan- Satpam, untuk penugasan operasi luar negeri tetangga Rusia.
Iklan itu ditujukan khusus untuk warga negara Rusia dari berbagai wilayah, dengan pembatasan untuk nonwarga negara Rusia, dan individu dengan catatan kriminal.
Banyak pengamat intelijen dan media menghubungkan rekrutmen ini dengan Wagner yang kini secara resmi tidak lagi beroperasi.
Sebenarnya Wagner telah terindikasi sedang melakukan penyusupan ke wilayah Ukraina pada tahun 2020 melalui Belarus.
Menjelang Pilpres di Belarus pada tahun itu pihak keamanan Belarus menangkap 33 warga Rusia, di ibukota Minsk, yang diindikasikan berasosiasi dengan Wagner.
Dari hasil investigisasi terhadap ke 33 tawanan itu, Belarus mengumumkan ada sekitar 200 warga negara Rusia tersebar di Belarus yang hendak mengacaukan Pilpres negeri itu.
Pemerintah Rusia segera memprotes penangkapan itu, dan akhirnya Belarus mengembalikan warga Rusia yang ditangkap.
Akhirnya diketahui bahwa mereka yang ditangkap itu sama sekali tidak ada hubungan dengan Pilpres Belarus, melainkan serdadu bayaran Wagner bersama 200 lainnya yang hendak disusupkan ke Ukraina oleh Rusia.
Belarus, negeri termiskin di kawasan itu, akhirnya mendapat kompensasi bantuan ekonomi dan militer dari Putin, dan bahkan kini menjadi sekutu Rusia dalam memerangi Ukraina. (Aljazera 2020; Financial Times 2020, Washington Post 2020).
Ketika tiga kali percobaan pembunuhan terhadap presiden Zielinski beberapa kali terjadi, namun gagal, pemerintah Ukraina mengindikasikan ada operasi khusus yang dilakukan Rusia untuk pekerjaan itu.
Ukraina bahkan berhasil membunuh pelaku pembunuhan yang gagal itu.
Tak lama kemudian Zielinski mengumumkan secara terbuka melalui media televisi, bahwa Putin menargetkan dirinya, dan bahkan keluarganya untuk mati dibunuh.
Belakangan Ukraina mengumumkan paling kurang 400 serdadu bayaran yang berasosiasi dengan Wagner telah berkeliaran di Kiev, dan umumnya masuk melalui Belarus.
Apakah AS tidak sama dengan Rusia dalam hal menyewa pembunuh bayaran dan kegiatan perusahaan swasta dalam berbagai konflik di dunia?
Sama saja, walaupun masih sedikit pemberitaan tentang keterlibatan AS dalam hal serdadu bayaran di Ukraina, sejarah keterlibatan AS di Afghanistan, Irak, Libya, dan sejumlah tempat lain mengindikasikan hal yang serupa, bahkan kadang lebih dari Rusia.
Baca juga: Daftar Tentara Bayaran yang Terlibat Dalam Perang Rusia-Ukraina, Siapa Saja?
Kisah Serdadu Bayaran di Irak
Dalam buku Blackwater: the Rise of the World’s Most Powerful Mercenery (2007), wartawan independen AS, Jeremy Scahill membongkar habis keterlibatan perusahaan raksasa kemiliteran AS, Blackwater, terutama dalam perang Irak, dan berbagai operasi AS dalam memerangi terorisme.
Pemulangan tentara AS dari berbagai tempat di dunia setelah Uni Soviet bubar, dan “perang panjang” di Afghanistan dan Irak merupakan dua alasan utama kenapa serdadu bayaran menjadi pilihan.
Selain itu apa saja yang dilakukan oleh serdadu bayaran menjadi tangung jawabnya sendiri, terutama ketika melakukan pelanggaran kriminal besar-besaran, sesuatu yang membuat penyewa lepas tangan, dan bersikap pura-pura tidak tahu dan tidak mau tahu.
Hal itu terbukti ketika presiden Donald Trump memberi amnesti kepada 4 serdadu bayaran Blackwater yang dalam operasınya telah menyebabkan terbunuhnya 14 orang sipil Irak di Baghdad, termasuk 2 anak-anak.
Mereka ditangkap oleh pihak keamanan Irak, diserahkan ke AS, diadili, dan diputuskan bersalah oleh pengadilan AS.
Kasus amnesti Trump itu kemudian menjadi bukti puncak gunung es betapa AS terlibat dalam operasi yang menggunakan serdadu bayaran di Irak.
Peneliti pada lembaga independen Brooking Institution, Peter W.Singer (2007) memperkirakan jumlah serdadu bayaran yang berasosiasi dengan Blackwater hampir sama jumlahnya dengan tentara resmi AS di Irak pada waktu, yakni sekitar 160. 000 orang.
Pada tahun 2019 jumlah itu berkurang menjadi 53.000 serdadu kontrak, dibandingkan dengan 35.000 tentara regular.
Angka itu mengkonfirmasi kecendrungan ratio 1:1 antara tentara reguler dan serdadu bayaran yang dimiliki oleh AS , sebelum AS ke luar dari Irak, yang dipublikasikan oleh lembaga independen CSIS AS (2019) yang berkantor di Washington.
Angka itu menunjukan kecenderungan yang semakin meningkat menjadi 1.5 :1.
Artinya AS menggunakan tenaga bayaran yang lebih besar dari tentara reguler.
Bisnis serdadu bayaran ini tidak main-main nilainya.
Sebuah kajian yang dibuat oleh Universitas Brown dan Universitas Boston (2020) dari realisasi dana departemen keamanan AS tahun 2019 yang berjumlah 676 miliar dollar, 370 miliar dolar berurusan dengan kontraktor.
Jumlah ini jauh lebih banyak dari tahun 2015 yang bernilai 274 miliar dolar.
Berapa rupiah nilai kontrak untuk perusahaan militer AS? Tidak cukup kalkulator untuk menghitungnya.
Kalikan jumlah ratusan miliar itu dengan 14.2 triliun lebih permiliar dolar.
Untuk lebih luas lagi, hitung saja berapa kira-kira Rusia mengeluarkan untuk operasi yang hampir serupa di berbagai tempat di dunia.
Tanpa harus menyebutkan beberapa negara besar, ditambah dengan, dan beberapa negara kaya Timur Tengah seperti Uni Emirat Arab, Qatar, dan Saudi Arabia yang juga cukup banyak menyewa serdadu bayaran (Fate, 2019) dapatlah dibayangkan betapa besar bisnis membunuh manusia ini telah, sedang, dan akan terus terjadi.
Sampai hari ini belum sangat jelas dan terpantau operasi serdadu bayaran di Ukraina, baik oleh Ukraina, maupun AS dan Rusia.
Yang pasti asapnya telah mulai ada, walaupun aping belum sangat tampak.
Berbagai saling tuduh, dan sejumah penangkapan kecil di Ukraina intinya adalah, jika pekerjaan itu dikerjakan di tempat lain, mustahil hal itu tidak dilakukan di Ukraina.
Baca juga: Presiden Mesir Minta Pasukan Asing dan Tentara Bayaran Hengkang dari Libya
Sejarah Serdadu Bayaran di Aceh
Tanah Aceh, tempat kita hidup hari ini juga tidak terlepas dari tumpahan darah serdadu bayaran.
Sejarah mencatat antara tahun 1834-1942 Belanda membangun tentara KNIL, terutama untuk melayani Perang Bali, Perang Padri, dan Perang Aceh.
Pasukan non-Belanda diperlakukan sebagai tentara bayaran, baik asing Eropa- kebanyakan warga Swis, maupun lokal pribumi.
Untuk mengetahui tentang seradu bayaran yang berperang di Aceh, datang dan kunjungilah perkuburan, Peucut Kerkhof.
Lihat saja yang namanya bukan berbau Eropa, itulah para serdadu bayaran dari anak bangsa kita yang mau melakukan apa saja untuk mendapatkan keuntungan uang atau materi dari Belanda.
Bagaimanapun, bukankah itu arti dari “mercenaire” nya bahasa Perancis?
*) PENULIS adalah Sosiolog, Guru Besar Universitas Syiah Kuala.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
BACA ARTIKEL KUPI BEUNGOH LAINNYA DI SINI
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/prof-dr-ahmad-humam-hamid-aceh.jpg)