Jurnalisme Warga
Pekan Budaya Barat Selatan Aceh, Memperkuat Identitas dan Persaudaraan
PEKAN Budaya dan Tradisi Barat Selatan Aceh baru saja usai dilaksanakan di Lapangan Sada Kata Kota Subulussalam pada tanggal 19 hingga 21 Maret 2022
Selain itu, kehadiran pekan budaya ini juga memperkuat identitas kebudayaan, dari berbagai kabupaten yang ikut serta menampilkan kesenian dan kebudayaan mereka.
Kontingen asal Aceh Singkil misalnya, menampilkan tari ‘dampeng’ yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.
Ribuan pasang mata menonton ketika dampeng ditarikan dengan energik dan ritmik oleh anak-anak muda Aceh Singkil.
Delegasi Simeulue menampilkan nandong.
Baca juga: Stand Pameran Pekan Budaya Aceh Singkil Dipadati Pengunjung
Nandong merupakan kesenian tradisional Simeulue yang sudah ada sejak dahulu kala.
Bahkan, lestarinya kearifan lokal ‘smong’ di kabupaten kepulauan ini, antara lain, karena peran pelantun nandong yang setia menyanyikannya dari waktu ke waktu.
Hingga sekarang, nandong biasanya ditampilkan dalam berbagai kegiatan, seperti pada acara perkawinan, khitanan, menyambut tamu, juga dalam pertunjukan event seni budaya dalam daerah maupun luar daerah.
Dalam pekan budaya ini, Aceh Jaya menampilkan ‘dikee pam Panga’.
Dikee sendiri berarti zikir, sedangkan pam artinya tidur.
Jika digabungkan menjadi zikir sambilan tidur.
Panga sendiri merupakan nama sebuah desa di Aceh Jaya.
Dikee pam pertama kali digagas oleh Tgk Hamzah pada tahun 1951 dan dimainkan pada acara Maulid Nabi Muhammad.
Tahun 1974 dikee pam bertransformasi menjadi seni pentas.
Perubahan ini diinisiasi oleh Tgk Hanafiah.
Kemudian, Aceh Barat hadir dengan tarian sidalupa yang mempunyai pesan moral untuk memuliakan tamu tanpa memandang fisik tamu tersebut dan pentingnya kesetiaan dalam bersaudara.
Baca juga: Nagan Raya Ikut Meriahkan Pekan Budaya dan Tradisi Barat Selatan di Subulussalam
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/wanhar-lingga-anggota-forum-ace.jpg)