Kamis, 7 Mei 2026

Kupi Beungoh

Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (XVIII) - Ukraina, Puasa, dan Panteraja yang Menderita

Ingin menghubungkan cerita warga Panteraja ini dengan kejadian di Ukraina? Buka android, ketik Luhut, tambahkan koma, lalu tulis Ukraina, tekan enter

Tayang:
Editor: Zaenal
Dok Pribadi
Ahmad Humam Hamid, Sosiolog, Guru Besar Universitas Syiah Kuala 

Walaupun pendapatan rata-rata rakyat AS per tahun jauh di atas kita, kenaikan itu tercatat sebagai tertinggi dalam sejarah.

Kenaikan itu hanya 71 sen atau sekitar 10.295 rupiah per 3,7 liter, bandingkan dengan di Indonesia, kenaikan pertamax antara Rp 3.500-4.000 per liter.

Baca juga: Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (XV) - Kinzhal, Mie Razali, Canai Mamak, dan Stringer

Baca juga: Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (XII) - Ukraina dan Permainan Frenemy Erdogan

Orang Miskin Semakin Menderita

Dalam kaitan dengan kehidupan global yang saling kait mengkait, seperti globalisasi Panteraja misalnya, ketika ada perang yang berdampak besar terhadap ekonomi global seperti seperti terjadi di Ukraina, selain manusia dalam kawasan perang, siapakah manusia lainnya yang paling menderita?

Ketika perang itu berdampak besar terhadap krisis energi dan bahan makanan, siapakah yang paling terkena dampaknya?

Tanpa harus menjadi jenius, jawabannya hanya satu dan pasti, orang miskin.

Tanpa harus mencari data yang sangat canggih, keterangan menteri Luhut Panjaitan tentang kenaikan harga Pertamax, Pertalite, dan gas melon dengan jelas memberi arah siapa sasaran korban pertama dari perang Ukraina, masyarakat miskin.

Luhut “murka”, karena Pertamina ketinggalan kereta dalam menaikkan harga dibandingan dengan negara-negara lain yang sudah duluan, karena mungkin APBN bisa bobol.

Akibat dari statement itu membuat “orang miskin” lebih murka lagi kepada Luhut.

Harus diakui apa yang dilakukan Luhut itu memang terpaksa.

Hanya saja gaya komunikasi kebijakan publik Luhut terlihat kasar, dan seolah “tak berperasaan”, membuat publik marah.

Dalam rencana APBN 2022 memang harga minyak bumi diasumsikan berada pada angka 63 dolar per barel.

Sementara dalam kenyataannya pada hari kedua agresi Rusia ke Ukraina, harga minyak telah mencapai lebih dari 100 dolar per barel.

Hampir saja dua kali lipat.

Harga minyak bumi sebelum perang itu pun sebenarnya sudah naik semenjak awal tahun, bahkan pada minggu pertama Januari 22, harga minyak bumi sudah mendekati 80 dolar per barel.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved