Kamis, 7 Mei 2026

Kupi Beungoh

Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (XVIII) - Ukraina, Puasa, dan Panteraja yang Menderita

Ingin menghubungkan cerita warga Panteraja ini dengan kejadian di Ukraina? Buka android, ketik Luhut, tambahkan koma, lalu tulis Ukraina, tekan enter

Tayang:
Editor: Zaenal
Dok Pribadi
Ahmad Humam Hamid, Sosiolog, Guru Besar Universitas Syiah Kuala 

Angka 80 dolar per barel itu mungkin masih dalam batas toleransi, sembari berharap akan kembali ke angka asumsi APBN 2022.

Namun apa yang terjadi? Angka itu terus ketika terus merangkak dan mencapai lebih dari 100 dolar dalam 40 hari terakhir.

Dan angka ini belum selesai.

Jika terjadi perang panjang, dan AS tetap memaksa sanksi ekonomi untuk Rusia, Putin mengancam harga minyak bumi bisa mencapai 200 dolar per barel.

Keterpurukan produksi berikut dengan gangguan rantai pasok global terhadap minyak bumi akibat pandemi Covid-19 telah terjadi sebelunya selama dua tahun.

Dan kali ini hantaman itu bertambah dengan perang di negara penghasil minyak bumi dan gas terbesar di dunia, Rusia.

Dan hari ini, selama skenario akhir perang ini pun belum jelas, demikian juga dengan skenario harga minyak bumi dan komiditi energi lainnya juga tak akan terang.

Kenaikan harga minyak bumi dan gas, seperti yang terjadi dengan pertamax, pertalite, dan gas melon bukan hanya berurusan ketika mengisi bahan bakar kereta atupun mobil.

Urusannya menjadi panjang, karena ibarat luka yang tak tertangani, kejadiannya menjadi panjang karena infeksi.

Yang paling menderita terhadap perang Ukraina adalah negara-negara yang pangannya tergantung ke Rusia atau Ukriana, tergantung energi ke Rusia, atau kedua komoditi itu.

Negara -negara yang sebelumnya rentan ketahanan pangan dan energi juga akan mengalami nasib yang sama.

Sayangnya di antara itu, banyak sekali negara Islam yang terperangkap dengan ketergantungan itu.

Dan kini ummat Islam yang akan memasuki bulan Ramadhan, terutama kelompok miskin akan menerima penderitaan yang lebih berat dari kelompok masyarakat lainnya.

Baca juga: Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (XVI) - Peringatan Untuk Biden, Putin, dan Tsar Bomba 50 Megaton

Baca juga: Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (XI) - Teater Perang Ukraina, Islam vs Islam

Ramadhan dan Dampak Perang

Sejumlah media besar internasional sekelas Aljazera, Wahington Post, France 24, bahkan harian di negara Yahudi, The Times of Israel, memberitakan kesusahan dan penderitaan ummat Islam dunia dalam memasuki bulan Ramadhan tahun ini akibat perang Ukraina.

Ramadhan yang dilukiskan dengan ibadah dan kegembiraan, yang dalam dua tahun terakhir terganggu karena pandemi, kali ini terganggu lagi dengan perang di Ukraina.

Ketika Ramadhan dimulai, di samping praktik ibadah yang lebih dari biasanya dilakukan, ada kelebihan lain yang ditemui secara merata di kalangan ummat Islam seluruh dunia.

Puasa, tarawih, tadarus, dan berbagai ibadah lainnya yang disebut berlebih dari biasa.

Namun selanjutnya Ramadhan juga diimbangi dengan hal lain yang juga tidak biasa dari bulan-bulan sebelumnya.

Hal apakah itu? Apalagi kalau bukan makanan.

Ada perhatian berlebih yang diberikan setiap rumah tangga muslim terhadap makanan, mulai dari jumlah, sampai dengan jenis.

Itu terjadi di perkampungan Bani Tamim, Thibi, dekat Kota Tarim di Provinsi Hadramaut, di Yaman Selatan, terjadi juga di kampung suku Nubuan, Abu Simbel, di Aswan, Mesir, atau  Kampung Nadihal, dekat Srinagar di Kashmir, India, dan juga juga sampai dengan Panteraja, di Aceh.

Ramadhan, ibadah dan makanan adalah tiga hal yang tak dapat dipisahkan di manapun di kawasan dunia Islam.

Kini akibat perang Ukraina, Ramadhan tetap hadir, puasa dan berbagai ibadah penyerta ibadah pasti berlanjut, bahkan lebih baik dari Ramadhan 2 tahun terakhir akibat pandemi.

Namun kini, satu hal yang sudah pasti terancam, bahkan sudah mulai berbahaya, yakni makanan.

Tidak hanya pasal ragam makanan yang berkurang atau tidak bertambah sama sekali, kini ancamannya adalah tidak ada makanan, harga tinggi, atau dua duanya.

Di Aceh khususnya, dan di Indonesia umumnya, karena makanan pokoknya beras, ancaman itu tidak sangat terasa.

Memang harga terigu sudah mulai naik, akan tetapi Indonesia memang mengimpor sekitar 25 persen gandum dari Ukraina, dan selebihnya dari Australia dan negara lain.

Ketergantungan gandum Ukraina dan Rusia sangat dirasakan oleh kaum muslimin yang makanan pokoknya gandum, dan sangat tergantung dari pasokan kedua negara itu.

Praktis sebagian besar negara Islam baik di Timur Tengah, maupun di tempat lain yang makanan utamanya adalah gandum, mengimpor dari Ukraina atau Rusia, ataupun dari keduanya sekaligus.

Negara-negara itu adalah Mesir, Yaman, Libanon, Iran, Irak, dan Turki.

Paling kurang empat negara Islam di Afrika, yakni Libya, Aljazair, Maroko dan Tunisia juga bergantung pada impor gandum Rusia.

Sedikit negara-negara itu yang mengimpor sekitar 50 persen gandumnya dari Ukraina, selebihnya berada antara 60-85 persen gandum, baik terpisah antara Rusia atau Ukraina, ataupun gabungan keduanya.

Di beberapa negara itu yang mayoritas penduduknya Islam, terutama di kawasan Timur Tengah, dan Afrika Utara terdapat sekitar 350 juta umat Islam yang mengkonsumsi gandum sebagai makanan utama.

Belum lagi di banyak negara lain yang juga mengkonsumsi gandum sebagai makanan utama, atau keduanya, yang juga jumlahnya mencapai ratusan juta orang.

Ditambah dengan total penduduk negara-negara seperti Indonesia, India, Pakistan, Bangladesh, Afghanistan, dan juga beberapa negara lain membuat jumlah akhirnya mungkin hampir mencapai 1,5 miliar dari sekitar 2 miliar pemeluk Islam dunia.

Dalam menghadapi Ramadhan, walupun Indonesia telah mengalami kenaikan harga terigu, akan tetapi karena hanya 25 persen dipasok dari Ukraina, dalam dua tiga bulan ini kenaikannya belum sangat terasa.

Walaupun demikian, sekecil apapun kenaikannya, karena cukup banyak penganan puasa dan lebaran yang bersumber dari tepung terigu, maka akan ada sedikit “penderitaan” yang membuat publik teringat dengan perang Ukraina.

Kawasan yang paling menderita adalah negara-negara yang makanan utamanya gandum dan menjadi pengimpor utama dari Rusia dan Ukraina.

Mereka juga sekaligus menggunakan gandum untuk berbagai penganan buka puasa.

Makanan utama dari bahan pokok gandum seperti- roti Ekmek di Turki, roti Baladi atau pita di Mesir, roti Lahoh di Yaman, roti Khuzbit di Libya dan Marokko, serta roti Mlawi di Tunisia.

Besar kemungkinan dalam bulan Ramadhan tidak sepenuhnya roti-roti itu dapat dimakan oleh masyarakat miskin di negara-negara itu, paling kurang, lebih sedikit dari puasa tahun lalu.

Alasannya sangat sederhana, perang Ukraina, telah membuat negara pengimpor gandum utama dari Ukraina dan Rusia, terkena langsung dampaknya.

Mekanisme dampak perang itu sangat sederhana untuk dijelaskan.

Ukraina karena perang, Rusia karena sanksi ekonomi.

Akibatnya harga roti Baladi di Mesir naik 50 persen, sementara di Tunisia, tepung gandum Semolina-naik hampir 700 persen dalam 5 hari terakhir menjelang puasa.

Kenaikan harga roti di Yaman mencapai 35 persen.

Di Irak terigu dan berbagai barang konsumsi impor dari Ukraina naik antara 20-30 persen.

Di kota Nasiriyah, kota terbesar keempat di Irak dan terletak di tepi Sungai Efrat, beberapa hari yang lalu warganya sudah mulai urun ke jalan.

Mereka memprotes kenaikan harga minyak makan yang sepenuhnya diimpor dari Ukraina.

Disamping itu harga roti Saboon, juga naik walaupun Irak tidak mengimpor dari Rusia atau Ukraina, karena harga gandum di kawasan itu sudah melambung.

Baca juga: Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (I): Denazifikasi dan Demiliterisasi Ukraina

Bersiap Puasa Ganda

Dengan keadaan perang yang tidak menentu, dan kenaikan harga pangan seperti bahan makanan berbasis gandum, maka ada tiga hal yang akan terjadi dengan kelompok miskin di negara-negara Islam yang sangat tergantung dengan gandum Ukrina dan Rusia terutama dalam konteks bulan Ramadhan.

Pertama, jika harga makanan terus meroket seperti kejadian kenaikan harga di Mesir, Tunisia, bahkan di Yaman sekalipun, kaum miskin akan berpuasa ganda.

Pertama, di siang hari melakukan puasa, karena kewajiban agama, kedua di malam hari berpuasa,-karena tak ada roti atau kurang makanan, karena harga makanan yang tak terjangkau.

Konsekuensi kedua, jika perang Rusia Ukraina tidak berakhir, ummat Islam yang tergolong miskin dari berbagai negara terpaksa bertambah puasanya, bisa sebulan, sebulan lebih, atau sampai kapan, seorang pun tak tahu.

Laporan terbaru AFP misalnya, dalam dua bulan mendatang Yaman terancam kelaparan, dan jumlah korbannya akan merangkak terus dan akan mencapai angka 7,3 juta pada akhir tahun ini.

Baca juga: Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (X) - Islam, Ukraina, dan Cerita Abbas dari Ramallah

Mati Kelaparan Akibat Perang Dunia

Direktur eksekutif WFP, David Beasley seminggu yang bahkan memberikan peringatan keras, bahwa perang Ukraina, bila saja terus berlanjut dapat mengulangi bahkan lebih besar dari krisis pangan Perang Dunia ke II.

Seperti diketahui Perang Dunia ke II pernah membuat manusia mati karena kelaparan (Ó Gráda 2019, kompilasi berbagai sumber).

Jumlah  angka kematian akibat kelaparan berada antara 25- 40 juta  manusia, dan terebar mulai dari Rusia, Belanda, Austria, Yunani, Cina, dan Provinsi Bengal di India.

Kematian di Indonesia-Pulau Jawa pada masa itu diperkirakan berada antara 1.3 - 2,4 juta jiwa.

Konsekuensi ketiga dari kenaikan harga bahan makanan adalah naiknya jumlah penduduk miskin.

Penjelasan ekonomi sederhana ekonomi makro menyebutkan, ketika kaum miskin punya uang, pengeluaran terbesarnya adalah untuk makanan, melebihi pengeluaran apapun untuk kebutuhan lain.

Itu artinya, makanan berpengaruh sangat besar pada status kemiskinan yang mereka sandang, dibandingkan dengan komponen lain semisal sandang atau perumahan.

Bagaimana mungkin si miskin akan keluar dari kemiskinan, kalau semua uangnya habis untuk membeli pangan.

Ini artinya perang Ukraina juga akan banyak membawa ummat Islam yang miskin bertambah miskin, dan baru keluar dari garis kemiskinan, akan miskin kembali.

Krisis pangan dan energi akibat perang Ukraina sudah mulai membawa penderitaan kepada banyak negara, terutama penduduk negara Islam, paling khusus kepada rumah tangga muslim miskin.

Terbengkalainya lahan gandum di wilayah pedesaan Poltavska di Ukraina, atau tertimbunnya biji gandum di silo pelabuhan Novorossiysk Rusia, di Laut Hitam, atau penurunan kapasitas pompa minyak di ladang minyak Rusia, Samotlor, Nizhnevartovsk, di Siberia Barat, kini terhubung dengan penderitaan rakyat di banyak desa di dunia.

Kini, terutama dalam bulan Ramadan ini, kaum muslimin, terutama rumah tangga miskin di kampung Thibi, di Yaman, kampung Abu Simbel, di Mesir, Kampung Nadihal, di Kashmir, India, dan  bahkan Keude Panteraja, di Aceh,  bernasib sama, dan bahkan dengan jutaan kampung Islam sedunia.

Ada penderitaan orang miskin di sana, dan itu berhubungan dengan lahan gandum di pedesaan Ukraina Tengah yang terbengkalai, pelabuhan gandum Rusia di Laut Hitam yang terhenti ekspornya, dan juga ladang minyak Rusia di Siberia Barat yang praktis hampir tak bekerja. Kata kuncinya perang.

Ketika nama desa dan kawasan itu ditulis dalam satu kalimat seolah-olah jarak fisik sesamanya, tak lebih dari jarak Keude Panteraja ke gampong terdekat di Tringgadeng, atau gampong -gampong di sekitar Keude Paru, Pidie Jaya.

*) PENULIS adalah Sosiolog, Guru Besar Universitas Syiah Kuala.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis

BACA ARTIKEL KUPI BEUNGOH LAINNYA DI SINI

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved