Opini
Pindah dari Takdir ke Takdir
DALAM upaya memilih takdir, disebutkan bahwa Khalifah Umar bin Khattab Ra, pernah kedatangan tamu dari dusun (seorang badui)
Oleh Prof Dr Al Yasa’ Abubakar MA, Guru Besar UIN Ar Raniry
DALAM upaya memilih takdir, disebutkan bahwa Khalifah Umar bin Khattab Ra, pernah kedatangan tamu dari dusun (seorang badui).
Dia turun dari unta lalu membiarkannya terlepas tanpa diikat.
Umar menyuruh agar dia mengikat untanya terlebih dahulu, baru setelah itu menyelesaikan urusan yang lain.
Dia menjawab, untuk apa diikat.
Kalau Allah menakdirkan unta itu tidak pergi, tentu dia akan tetap di situ.
Sebaliknya kalau Allah menakdirkannya akan pergi dan hilang, tentu kalau saya ikat pun dia akan terlepas dan hilang.
Umar mengingatkan orang itu.
Engkau menjelaskan hal yang benar dengan cara yang salah.
Engkau keliru memahami takdir.
Baca juga: Memahami Corona Sebagai Takdir Allah
Baca juga: Barakah dalam Praktik Ekonomi Syariah
Kalau unta itu kamu ikat dan karena itu dia tidak lepas dan tidak hilang, apakah itu bukan takdir Allah.
Sang tamu tentu tidak bisa menjawab selain dari berkata, bahwa engkau benar wahai Khalifah.
Umar berkata, Engkau tidak akan dapat lari atau keluar dari takdir Allah Swt.
Engkau hanya dapat pindah dari satu takdir ke takdir yang lain.
Seolah-olah Khalifah Umar ingin berkata, engkau harus memilih takdirmu dan jangan salahkan Allah kalau engkau keliru memilih takdir.
Menurut para ulama ada takdir yang dapat dipilih (misalnya bidang pendidikan dan pekerjaan) dan ada yang tidak dapat dipilih (misalnya orang tua).
Dalam kehidupan sehari-hari banyak pernyataan yang tidak sempurna mengenai takdir, sehingga dapat menimbulkan kesalahpahaman.
Ketika sebuah musibah terjadi kita sering mendengar pernyataan “Sabar.
Sudah takdir Allah.
Kita ambil hikmahnya.
Kita pulangkan kepada Yang Di Atas.
” Seolah-olah kalau sesuatu yang buruk terjadi, atau sesuatu terjadi tidak seperti yang kita harapkan maka hal itu terjadi karena adanya “campur tangan Tuhan”.
Sebaliknya kalau yang terjadi itu sesuatu yang baik, atau terjadi sesuai dengan rencana dan harapan kita, maka “campur tangan Tuhan tidak perlu dihiraukan atau disebut-sebut”.
Seolah-olah kalau yang terjadi itu yang buruk-buruk, yang tidak diharapkan maka itu disebut karena campur tangan (takdir).
Sebaliknya kalau yang terjadi itu yang baik-baik, yang sesuai dengan harapan, maka tidak masuk ke dalam takdir.
Hal yang baikbaik dianggap sebagai hasil usaha manusia “yang tidak dicampuri oleh Tuhan,” sedang sesuatu yang buruk yang tidak diharapkan, maka hal itu terjadi “karena ada campur tangan Tuhan atas rencana dan usaha manusia” (oleh sebagian orang disebut takdir).
Menurut penulis pemahaman seperti ini dapat disebut keliru tentang takdir Allah SWT.
Seperti dikatakan Umar Ra di atas, manusia tidak dapat lari dari takdir Allah SWT.
Semua yang terjadi adalah takdir.
Lulus dan tidak lulus ujian adalah takdir.
Sehat atau sakit adalah takdir.
Sampai ke tempat tujuan sesuai dengan waktu yang direncanakan atau tidak sampai karena ada halangan, semuanya takdir.
Tidak ada yang terjadi di atas alam ini di luar takdir Allah.
Allah memberi akal dan nurani kepada manusia agar dia dapat memilih apa yang dia inginkan dan lantas mengusahakannya dengan sungguh-sungguh sembari berdoa secara tulus dan terus menerus.
Sebaliknya mesti berusaha menghindari apa yang tidak dia inginkan dan berusaha menjauhinya secara sungguh-sungguh juga.
Alquran dalam al-Baqarah 286 menyatakan lebih kurang, Allah tidak memberi beban kepada seseorang di luar batas kemampuannya, dan setiap orang akan diberi balasan sesuai dengan usahanya.
Orang yang berbuat baik akan diberi balasan baik dan orang yang berbuat buruk akan diberi balasan buruk.
Selanjutnya di dalam Alquran juga ada ayat yang meminta agar seseorang (sebuah bangsa) merencanakan dan mempersiapkan masa depannya.
Wahai orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah dia perbuat (rencanakan, siapkan) untuk hari esok.
Bertakwalah kepada Allah, karena sungguh Allah mengetahui segala apa yang kalian lakukan.
Allah meminta agar setiap orang berusaha mengubah kehidupannya ke arah yang lebih baik.
Orang yang beruntung adalah mereka yang masa depannya lebih baik dari masa lalunya.
Orang yang dalam kehidupannya tidak ada perubahan, atau malah semakin ke depan semakin buruk, adalah orang yang merugi.
Manusia bebas memilih takdir untuk dirinya, bahkan diminta untuk memilih (merencanakan) yang terbaik untuk dirinya dan berusaha mewujudkannya secara sungguh-sungguh sesuai kemampuan, walaupun tidak semua rencana akan dapat diwujudkan.
Menurut penulis seseorang akan memperoleh masa depan yang lebih baik (takdir yang lebih baik) kalau dia berusaha membuat perencanaan yang baik dan setelah itu berusaha mewujudkannya dengan cara yang baik dan sungguhsungguh.
Jadi hidup ini janganlah sekadar dijalani tanpa perencanaan, apalagi tanpa arah yang jelas.
Untuk itu jangan “mengambinghitamkan” takdir Allah SWT, ketika seseorang mendapat takdir yang tidak sesuai dengan keinginannya.
Doa dan tawakal Seperti telah disebutkan puasa merupakan ibadah yang salah satu hikmahnya--sama seperti ibadah lain, membentuk kesadaran untuk berusaha meningkatkan kualitas diri secara terus menerus dan sungguh- sungguh.
Upaya ini akan berhasil antara lain dengan cara membuat perencanaan yang baik untuk masa depan dan menjalankannya secara baik.
Kesadaran dan usaha ini dengan bahas lain dapat juga disebut sebagai upaya memilih takdir, maksudnya berusaha untuk memperoleh takdir yang lebih baik, agar hidup di masa depan menjadi lebih bermakna dan berbahagia.
Dalam kaitan dengan takdir, ada tiga istilah lain yang relatif selalu berhubungan sehingga sukar dipisahkan yaitu ikhtiar, doa dan tawakal.
Dalam hubungan dengan nasib dan kehidupan manusia, takdir ada beberapa macam.
Ada yang seluruhnya merupakan hak Allah seperti siapa yang menjadi orang tua atau anak dari seseorang, atau kenapa dia lahir dalam suku tertentu, bukan suku lainnya (takdir mubram).
Ada yang merupakan ketentuan Allah SWT yang sampai batas tertentu bercampur dengan usaha manusia, seperti pilihan atas bidang pendidikan yang ditekuni, bidang pekerjaan sebagai sumber penghasilan, atau orang yang menjadi pasangan hidup (takdir mu`allaq).
Yang perlu dicatat takdir baru diketahui setelah terjadi, bukan sebelumnya.
Usaha manusia untuk memilih dan menjalani takdir disebut ikhtiar.
Ikhtiar dianggap baik dan sungguh-sungguh apabila dilakukan secara sungguh-sungguh sesuai dengan ketentuannya.
Sebagiannya kita sebut mesti sesuai dan mengikuti “hukum alam”, sedang sebagian lagi kita sebut mesti sesuai “dengan kewajaran”.
Sekiranya meminjam istilah dalam manajemen, maka ikhtiar ini akan meliputi unsur perencanaan, pengaturan, pelaksanaan, dan tujuan yang ingin dicapai.
Sekiranya ada pertanyaan, apakah semua ikhtiar akan mencapai hasil seperti diharapkan, maka jawabannya adalah tidak, karena selalu ada “faktor X” (sesuatu yang tidak sesuai dengan sunatullah) yang luput dari perhitungan.
Adapun doa merupakan permohonan dan permintaan yang disampaikan hamba kepada Allah mengenai apa saja yang dia anggap perlu dan inginkan, baik untuk kehidupan di dunia atau kehidupan di akhirat nanti.
Dalam arti yang lebih luas, doa meliputi pengakuan dan pengaduan mengenai kelemahan diri seraya mengharap bantuan, pertolongan, petunjuk, dan berbagai kemudahan dari Dia.
Doa yang dipanjatkan mesti dibarengi dengan ikhtiar.
Doa tanpa ikhtiar dapat dianggap tidak serius dan asal-asalan saja.
Dengan demikian doa dan ikhtiar mesti selalu bersama tidak boleh dipisahkan.
Sedang tawakal merupakan sikap berserah diri kepada Allah atas segala keputusan yang diberikan-Nya, setelah semua usaha (ikhtiar) dijalankan.
Menerima dengan rela dan keyakinaan penuh bahwa apapun yang terjadi, setelah melakukan ikhtiar dan doa secara sungguh-sungguh, adalah keputusan Allah yang terbaik untuknya, betapa pun ketidaksesuaiannya dengan harapan dan usaha yang telah dilakukan dan doa-doa yang telah dipanjatkannya.
Tawakkal adalah ujung yang berisi kemantapan dan kepasrahan atas hasil dari upaya memilih takdir, setelah didahului dengan ikhtiar dan doa.
Tawakkal menjadikan seseorang merasa tenang dan menerima apa yang terjadi tanpa menyesalinya.
Salah satu pertanyaan menggelitik yang pernah diajukan kepada penulis, dapatkah doa mengubah takdir.
Dalam sebuah hadis yang dituturkan oleh Tsawban dan dirawikan oleh Ahmad dan Ibnu Majah disebutkan lebih kurang, Sungguh, rezeki seorang hamba akan terhalang karena dosa yang dilakukannya.
Sungguh takdir itu tidak akan berubah kecuali dengan doa.
Sungguh doa dan takdir saling berusaha untuk mendahului, hingga hari kiamat.
Dan sungguh perbuatan baik (kepada orang tua) akan memperpanjang umur.
Untuk ini perlu diulangi, takdir tidak dapat diketahui sebelum terjadi, dan ketika terjadi kita tidak tahu, apakah takdir menjadi seperti itu karena usaha dan doa yang kita panjatkan, atau memang dengan berusaha tanpa berdoa pun takdirnya akan seperti itu.
Pertanyaan ini menurut penulis tidak dapat dijawab dengan pasti, karena tidak ada jalan bagi pemikiran untuk memasukinya secara meyakinkan (masalah gaib).
Sekiranya dikembalikan kepada Alquran, ada tiga hal yang perlu diperhatikan.
Pertama Alquran dan hadis menyuruh kita berdoa sebanyak dan sesering mungkin, karena Allah senang kepada orang yang berdoa dengan “nyinyir” kepada- Nya.
Kedua, tidak semua yang kita anggap baik, betul-betul baik dan sebaliknya yang kita anggap buruk betul-betul buruk.
Allah lebih mengetahui apa yang baik bagi kita dibandingkan dengan pengetahuan kita tentang diri kita.
Ketiga, waktu pengabulan doa mutlak merupakan hak Allah.
Allah tidak boleh “dipaksa” untuk itu.
Kalau kita berdoa agar Allah memberikan sesuatu langsung hari ini juga misalnya, maka secara agama itu bukanlah doa tetapi “pemaksaan kehendak” kepada Allah SWT.
Wallahu a`lam bish-shawab.
Baca juga: Puasa dan Kewenangan Memilih Takdir
Baca juga: Takdir Allah Membawanya Menjadi Peneliti