Jurnalisme Warga

Labuhanhaji di Mata Mahasiswi Simeulue

Zaman dahulu kecamatan ini merupakan tempat berkumpulnya jamaah haji yang ingin pergi menunaikan ibadah haji ke tanah suci, Makkah

Editor: bakri
zoom-inlihat foto Labuhanhaji di Mata Mahasiswi Simeulue
FOR SERAMBINEWS.COM
NURUL HUSNA, Mahasiswi Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Anggota UKM Jurnalistik UBBG Banda Aceh, serta Anggota FAMe. melaporkan dari Labuhanhaji, Aceh Selatan

OLEH NURUL HUSNA, Mahasiswi Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Anggota UKM Jurnalistik UBBG Banda Aceh, serta Anggota FAMe melaporkan dari Labuhanhaji, Aceh Selatan

LABUHANHAJI merupakan sebuah kecamatan yang terdapat di Kabupaten Aceh Selatan.

Penulisan kata Labuhanhaji yang benar adalah bersambung (tidak dipisah).

Kebanyakan orang sudah mengenal kecamatan ini.

Zaman dahulu kecamatan ini merupakan tempat berkumpulnya jamaah haji yang ingin pergi menunaikan ibadah haji ke tanah suci, Makkah.

Melalui jalur laut dengan menggunakan kapal pada masa itu, inilah awal mulanya nama Labuhanhaji disematkan untuk daerah yang kaya akan tradisi dan budaya ini.

Sudah menjadi pengetahuan umum beberapa tahun silam bahwa Labuhanhaji dahulunya satu kecamatan yang luas.

Kemudian, mekar menjadi tiga kecamatan, yaitu Labuhanhaji Barat, Labuhanhaji (induk), dan Labuhahaji Timur yang sekarang dikenal dengan Labuhanhaji Raya.

Walau sudah tidak lagi satu kecamatan, di mata kebanyakan orang jika mendengar kata Labuhanhaji identik dengan daerah yang memiliki banyak pesantren, masjid, dan ulama yang menyeru kepada kebaikan dan melarang untuk berbuat keburukan.

Baca juga: Rekreasi Menarik di Pantai Pasir Putih SBB Labuhanhaji

Baca juga: Paguyuban Mahasiswa Labuhanhaji Bagi-bagi Takjil kepada Masyarakat

Labuhanhaji Raya ini selain kaya akan tradisi, adat, dan budaya, juga memiliki lingkungan yang masih asri.

Baik gunung dan lautnya mampu membuat siapa pun takjub bila mendatanginya.

Beberapa objek wisata yang ada di pegunungan dan lautan mampu membuat orang bergantian mendatanginya.

Ditambah cita rasa masakan khas Labuhanhaji mampu memanjakan lidah orang yang pernah mencicipinya.

Rasa empati dan kekeluargaan yang besar mampu membuat orang lain betah berada lama di daerah ini.

Di Kecamatan Labuhanhaji terdapat satu pelabuhan yang cukup besar, lokasinya di laut yang ada di Desa Pasar Lama.

Semenjak saya kecil, pelabuhan ini sudah berdiri dengan kokohnya hingga tahun 2022.

Sekarang kapal masih rutin bersandar di pelabuhan ini.

Dermaga kapal yang ada di Labuhanhaji ini menjadi salah satu dermaga yang menghubungkan antaran Labuhanhaji dengan Kabupaten Simeulue, yang penduduknya ramai bermukim di sana.

Orang Labuhanhaji berlayar ke Simeulue ada yang untuk liburan, berdagang, bekerja, menetap, bahkan menikah di sana.

Begitu pula dengan orang Simeulue yang datang ke Labuhanhaji mereka bekerja, menikah, dan menetap di sini.

Jika dilihat secara kasatmata, hubungan yang terjalin sangat erat dan harmonis meski kedua daerah ini terpisah oleh laut.

Namun, dermaga mempersatukan keduanya.

Para mahasiswa ikut serta menggunakan moda transportasi laut.

Bagi yang menempuh kuliah di luar daerah, khususnya Banda Aceh, ada tiga dermaga yang bisa dipilih oleh seluruh mahasiswa asal Simeulue, yaitu dermaga kapal Calang (Aceh Jaya), Meulaboh (Aceh Barat), dan Labuhanhaji (Aceh Selatan).

Mereka boleh memilih salah satu dermaga yang mereka sukai sesuai dengan kata hati masing-masing sebagai penumpang.

Minggu malam (8/5/2022), saya kembali dari Labuhanhaji ke Banda Aceh sekitar pukul 21.30 WIB naik mobil penumpang dan saya penumpang kedua yang dijemput.

Sopir mobil menjemput lagi penumpang yang lain sehingga mobil penuh dengan orang dan barang penumpang.

Maklumlah, libur Lebaran Idulfitri membuat kami duduk berempat satu banjar (re) dan saya tertidur ketika sopir menjemput penumpang berikutnya.

Saat terbangun, mobil sudah berada di sekitar pelabuhan yang ada di Labuhanhaji.

Suasana gelap membuat indahnya panorama pantai yang ada di sekitar dermaga, tapi kapal tak kelihatan.

Ada yang menarik perhatian saya dan penumpang lainnya, yakni begitu banyak mahasiswi asal Simeulue yang tiba dengan feri.

Mereka berada di sekitar dermaga kapal sedang menunggu mobil penumpang yang menuju Banda Aceh.

Rabu (11/5/2022), saya berada di Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG) Banda Aceh yang terkenal sebagai kampus sarat prestasi dalam segala kondisi.

Di kampus ini saya bertemu dengan seorang mahasiswi asal Simeulue, lalu berkenalan dan berbincang-bincang ringan dengannya.

Namanya Ayu Refianti, kuliah di UBBG Banda Aceh pada program studi Penjaskes, angkatan 2021.

Ayu menceritakan kesan dan pengalamannya tentang Labuhanhaji, sewaktu kembali ke Banda Aceh.

Dia menaiki kapal Feri Teluk Singkil yang berhenti di dermaga kapal Labuhanhaji.

Alasannya naik kapal ini karena bagus dan merasa nyaman saat berada di dalamnya.

Orangorang yang bekerja di kapal ini pun sangat sopan dan bertanggung jawab terhadap semua penumpang.

Ia juga berharap agar bisa kuliah pada hari pertama pascalibur puasa dan Lebaran, Senin (9/5/2022), makanya buruburu menuju Banda Aceh pascalibur Lebaran.

Ketika Ayu sampai di dermaga kapal Labuhanhaji, Minggu (8/5/2022), dia katakan pelabuhannya bagus dan dermaganya tidak jauh dari tempat kapal berhenti.

Suasana malam membuatnya tak bisa menikmati keindahan alam sekitar.

Di pelabuhan kapal ini terasa sangat nyaman, apalagi dermaganya tidak jauh dari rumah- rumah warga.

Berjalan pun tidak terasa lelah saat menenteng banyak barang bawaan.

Orang-orang yang ada di sekitar pelabuhan juga sangat ramah, baik, dan sopan, serta saling peduli akan lingkungan sekitar.

Mereka baik terhadap orang lain dan para mahasiswa-mahasiswi asal Simeulue.

Ibu-ibu dan bapak-bapak yang mempunyai warung menyediakan kamar untuk disewa oleh para mahasiswa dan mahasiswi yang ingin bermalam di Labuhanhaji.

Pelayanannya sangat baik, para pemilik warung ramah, sopan, peduli, dan suka menolong.

Malam itu sangat ramai mahasiswa asal Simeulue yang sedang beristirahat menunggu mobil penumpang.

Ada yang memutuskan menginap karena mobil penumpang yang ada di Labuhanhaji semuanya penuh.

Sulit mendapatkan mobil menuju Banda Aceh, penginapan pun semuanya penuh sehingga ramai yang tidak dapat tempat penginapan.

Ayu tidak menginap di Labuhanhaji karena cepat menghubungi mobil temannya dari Tapaktuan.

Kondisi di dalam mobil yang ditumpanginya penuh, tapi tidak masalah bagi Ayu.

Yang penting, cepat sampai di Banda Aceh dan bisa masuk kuliah paginya.

Nah, itulah sekilas Labuhanhaji di mata mahasiswi asal Simeulue, suatu perjuangan yang besar untuk menyandang status mahasiswi.

Ia dkk rela meninggalkan kebahagiaan yang masih dalam momen Lebaran di kampung halaman, meski rindu belum hilang terhadap orang tua.

Walau kaki enggan melangkah meninggalkan kampung halaman tercinta, menuju kampus impian.

Semua itu akan bisa diatasi jika niat, tekad yang kuat, dan profesionalisme di dalam diri masingmasing itu ada.

Semoga dermaga kapal Labuhanhaji tetap ada sampai kapan pun, tetap menjadi yang terbaik di antara yang terbaik lainnya.

Selalu menjadi pilihan semua orang yang pernah menginjakkan kakinya di dermaga ini.

Semoga selalu menjadi pilihan para mahasiswa dan mahasiswi asal Simeulue yang ingin pergi meninggalkan kampung dan pulang ke kampung halamannya nun jauh di pulau.

Baca juga: Komunitas Wisata Tuantapa Ajak Seniman Aceh Eksplore Spot Wisata di Labuhanhaji Raya Aceh Selatan

Baca juga: Gubernur Aceh Diminta Alihkan Kembali Wewenang dan Aset Pelabuhan Labuhanhaji ke Pemkab Aceh Selatan

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved