Berita Subulussalam

Kelapa Sawit Penopang Ekonomi di Subulussalam Saat Pandemi, Apkasindo Harap Harga TBS Segera Pulih

PANDEMI Coronavirus Disease 2019  sempat berimbas pada sektor ekonomi masyarakat termasuk di Kota Subulussalam

Penulis: Khalidin | Editor: Muhammad Hadi
Serambinews.com/Khalidin
TANDAN Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit milik petani di Kota Subulussalam dalam proses untuk dimuat ke truk pengangkutan 

Pasalnya, biaya yang dikeluarkan cukup untuk pemeliharaan tanaman termasuk membeli pupuk seperti urea, KCL, dan NPK.

Harga pembelian pupuk dan pestisida serta lainnta tidak sebanding dengan harga jual TBS sawit.

Soal ketidakstabilan harga TBS di Subulussalam memicu reaksi sejumlah kalangan masyarakat dan petani di kota Subulussalam

Netap menambahkan, tanaman kelapa sawit menjadi primadona masyarakat Kota Sada Kata itu sejak era 2000-an silam.

Kini, rata-rata masyarakat mulai kalangan bawah hingga menengah atas memiliki kebun kelapa sawit.

Bahkan, para pengusaha, Apartur Sipil Negara (ASN) hingga pejabat di Kota Subulussalam umumnya juga memiliki usaha samping berupa kebun kelapa sawit.

Baca juga: Empat Pulau Aceh Dicaplok Sumut Sudah Mencuat Sejak 2017, Kenapa Sekarang Baru Heboh?

Apa yang disampaikan Netap bukan tanpa alasan. Pasalnya, sejak pandemic Covid-19, bisnis TBS kelapa sawit lah yang paling bertahan dari gempuran ekonomi global.

Bahkan, sampai saat ini menurut Netap harga TBS kelapa sawit pada Maret lalu masih relative stabil namun dua bulan terakhir terjadi penurunan drastic.

Penurunan harga TBS kelapa sawit ini setelah sempat mengalami lonjakan hingga Rp 2.950 – 3.200 per kilogram di tingkat pabrik.

Menurut Netap, sejauh ini belum ada perubahan drastis terkait kenaikan harga TBS kelapa sawit di kota yang dijuluki Tanah Syekh Hamzah Fansury tersebut.

Selama ini, kata Netap kondisi harga TBS yang mahal sangat membantu petani kelapa sawit di tengah gempuran ekonomi selama masa pandemic.

Netap pun berharap agar harga TBS di Subulussalam kembali naik bahkan dapat melampaui Rp 3.500 per kilogram demi ketahanan ekonomi masyarakat di sana.

Pasalnya, di Provinsi Sumatera Utara dan Jambi, harga TBS kelapa sawit selama ini lebih mahal di banding di Aceh khususnya Kota Subulussalam.

Dikatakan, di Aceh termasuk Kota Subulussalam pihak pabrik masih terkesan belum bersedia mematuhi permentan terkait stabilitas harga TBS kelapa sawit masyarakat.

Mantan anggota DPRK Subulussalam periode 2009-2014 ini juga berharap  pihak perusahaan untuk meningkatkan kepedulian sosial terhadap masyarakat di sekitar perkebunan.

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved