Kupi Beungoh
Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (XXVI) - Damai vs Adil, dan Keterbelahan Eropa
Keletihan itu kini juga dirasakan oleh negara-negara pendudukung Ukraina yang kebutuhan energinya bergantung kepada Rusia.
Rusia harus bertanggung jawab terhadap agresinya kepada Ukraina, dan Rusia harus dibuat jera agar tak mengulanginya lagi, baik kepada Ukraina, maupun kepada negara-negara tetangga lainnya lagi di masa depan.
Kedua, kelompok negara itu disebut dengan kelompok properdamaian, dan kelompok prokeadilan.
Jerman, Italia, Prancis, dan sejumlah negara lainnya adalah pendukung perdamaian Rusia dan Ukraina.
Sementara itu Inggris, termasuk AS adalah kelompok yang mensposnsori “hukuman” terhadap Rusia.
Reaksi yang paling keras agar Rusia dihukum, terutama terhadap Presiden Putin datang dari negara-negara Baltik, seperti Estonia, Lithuania, dan Latvia.
Mereka adalah tiga negara bekas Uni Soviet yang berbatasan langsung dengan Rusia dan sangat rentan terhadap invasi Rusia setiap saat.
Kelompok pendukung perdamaian yakin dan sangat realistis dengan “tabiat” negara adi kuasa, ketika kepentingan nasional dan ancaman telah didefinisikan, maka langkah yang dilakukan seringkali “sangat brutal” dengan “ongkos kemanusian” yang sangat tinggi.
Inilah yang sedang terjadi hari ini di Ukraina, yakni Rusia menganggap Ukraina segera akan menjadi anggota NATO.
Itu artinya Rusia tidak lagi mempunyai wilayah penyangga, dan negara itu segera akan berbatasan dengan negara anggota NATO.
Perilaku “sangat brutal” negara adikuasa ketika menganggap adanya ancaman bukanlah monopoli Rusia saja.
AS berkali-kali mempraktekkan dan melakukan tindakan “sangat brutal” ketika mengangap dirinya atau kepentingannya terancam.
Perilaku itu dilakukan dalam perang Vietnam, Afghanistan, bahkan dalam perang Irak sekalipun.
Bahkan, sangat sering, baik AS maupun Rusia-Uni Soviet ketika merasa tertekan oleh kekuatan musuh, serangan itu dilipatgandakan.
Negara-negara yang mendorong perdamaian melihat keberlanjutan perang tidak hanya menyangkut dengan kepentingan dirinya, Ukraina, maupun Rusia.
Akan tetapi keberlanjutan itu akan membuat NATO semakin terjerumus dalam konflik itu secara lebih dalam dari keadaan saat ini.