Breaking News

Kupi Beungoh

Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (XXVI) - Damai vs Adil, dan Keterbelahan Eropa

Keletihan itu kini juga dirasakan oleh negara-negara pendudukung Ukraina yang kebutuhan energinya bergantung kepada Rusia.

Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/Handover
Prof. Dr. Ahmad Human Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. 

Segala cara akan ditempuh oleh NATO  untuk membendung dan bahkan mengusir Rusia dari wilayah yang didudukinya.

Dukungan itu tidak hanya dalam bentuk keuangan, senjata biasa, dan sanksi ekonomi dan pedagangan internasional terhadap Rusia.

Baca juga: Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (XXIV) - Salahkah Putin Menuduh Barat Salah?

Baca juga: Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (XXIII) - 9 Mei dan Hadiah Putin Untuk Rusia

Kini AS bahkan sedang mempersiapkan paket besar pengiriman rudal jarak dekat dan sedang yang akan semakin membakar Rusia untuk menyerang Ukraina lebih “gila” lagi.

Menghadapi musuh yang memberikan perlawanan keras di lapangan, negara adi kuasa seringkali menggunakan dua taktik yang dikenal dengan istilah “doubel down”-pelipatgandaan dan “escalate to deescalate”.

Yang dimaksud dengan pelipatgandaan adalah ketika serangan negara adi kuasa, layaknya Rusia atau AS, terhadap negara pasarán dirasakan kurang mempan, maka yang dilakukan adalah peningkatan kuantitas dan kualitas serangan untuk membuat lawan lumpuh.

Istilah eskalasi untuk deeskalasi pada hakekatnya juga mempunyai makna yang hampir serupa dengan pelipatgandaan, namun yang dimaksud dalam konteks ini lebih banyak bernuansa penggunaan senjata nuklir.

Ketika Putin mengancam Barat untuk tidak terlibat dalan perang Ukraina, maka yang dimaksud adalah setiap tindakan penggunaan senjata konvensional- bukan nuklir, yang dapat mengancam keberadaan Rusia, maka Putin tidak segan menggunakan senjata nuklir.

Putin menggunakan strategi ancaman nuklir yang sebut dengan eskalasi, sesungguhnya lebih ditujukan untuk mengurangi semangat lawan untuk mengalahkan Rusia, apalagi mempermalukan Putin.

Ini artinya peningkatan ketegangan yang dilakukan oleh lawan, bahkan dengan senjata konvensional saja, dapat saja dibalas oleh Rusia dengan senjata nuklir dengan daya rusak tertentu yang terukur.

Apa yang ditakutkan oleh negara-negara pendukung perdamaian adalah adanya sebuah jalan keluar yang memungkinkan kedua negara itu memulai sebuah perundingan yang serius.

Walaupun belum ada saran konkret untuk membuat kedua belah pihak dapat menerima, kelompok negara pendukung perdamaian yakin ketika Ukraina dan Rusia berunding, akan ada sejumlah klausul yang memberi keleluasaan dan keuntungan kepada kedua pihak.

Kelompok pendukung perdamaian yakin, bila perang itu berkepanjangan, maka Ukraina yang hari ini saja praktis telah hancur secara fisik, dengan korban manusia yang juga relatif banyak, akan semakin terpuruk untuk jangka waktu yang tidak menentu.

Perang yang berkepanjangan juga akan membuat ekonomi Rusia terpuruk dan dapat saja mencapai tahapan Rusia tersudut dan bahkan dipermalukan.

Dengan doktrin perang Rusia versi Putin yang mengandalkan kekuatan nuklir, maka ketika Rusia sampai pada tahapan “dipermalukan”, pilihan yang tersedia hanyalah penggunaan senjata pemusnah massal.

Berbeda dengan kelompok negara pedukung perdamaian, bagi kelompok negara pendukung keadilan, negara yang bersalah-dalam hal Rusia, harus diminta pertanggungjawabannya.

Rusia harus ke luar dan diusir ke luar dari Ukraina, dan mendapat hukuman yang setimpal dari komunitas internasional.

Kelompk negara ini tidak peduli dengan kepemilikan senjata nuklir Rusia, yang penting keputusan Putin untuk menjadi agresor negara tetangga, seperti yang telah biasa ia lakukan sebelumnya, kali ini harus diikuti dengan hukuman yang setimpal.

Dalam pandangan negara-negara pendukung keadilan, jika saja Rusia, dalam hal ini Putin dibiarkan menyerang negara-negara kecil tetangganya- walaupun pernah menjadi negara anggota Uni Soviet, maka ia akan menyerang dan bahkan mengambil alih banyak negara-negara lain, bahkan sebagian negara-negara Eropa Timur.

Psikologi ekspansionisme Putin kali ini tidak hanya dibaca oleh negara-negara pendukung keadilan sebagai  keinginan reinkarnasi bekas Uni Soviet, akan tetapi lebih berakar pada “mindset” Putin yang mengimpikan Rusia Raya versi sejumlah pemimpin imperium Rusia, seperti Ivan “Celaka”, Peter Agung, atau Ratu Katherina Agung.

Saat ini perang Ukraina telah memasuki bulan ke lima, dan belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.

Penderitaan perang itu kini semakin meluas.

Dunia yang pernah sangat terganggu dengan pandemi Covid-19, kini semakin terganggu dengan perang itu.

Bencana alam atau juga disebut dengan bencana yang diberikan Tuhan, kini bersambung dengan bencana ciptaan manusia.

*) PENULIS adalah Sosiolog, Guru Besar Universitas Syiah Kuala.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

BACA ARTIKEL KUPI BEUNGOH LAINNYA DI SINI

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved