Breaking News

Kupi Beungoh

Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (XXVI) - Damai vs Adil, dan Keterbelahan Eropa

Keletihan itu kini juga dirasakan oleh negara-negara pendudukung Ukraina yang kebutuhan energinya bergantung kepada Rusia.

Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/Handover
Prof. Dr. Ahmad Human Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. 

Sekalipun kebijakan boikot energi Rusia telah disepakati, terutama di kalangan anggota NATO di Eropa, namun pelaksanaannya tidaklah begitu mudah.

Pasokan kebutuhan dan infrastruktur migas yang telah berjalan selama ini, kini telah disepakati untuk diubah, yakni dengan menghentikan secara total atau bertahap aliran dari Rusia.

Baca juga: Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (XXV) - Dari Krisis Pangan ke Krisis Kemanusiaan Global

Baca juga: Singgung Perang Dunia III, Rusia Mengaku Punya Senjata Rahasia yang Bisa Bikin Seisi Bumi Ketakutan

Mulai Berbeda Pendapat

Bagimana perang ini akan berakhir?

Apa kerugian, keuntungan, atau insentif yang akan didapatkan oleh kedua negara yang sedang berperang itu?

Puaskah Rusia dengan hanya menduduki sebagaian besar Ukraina Timur, termasuk  Crimea, lalu kemudian menjadikanya sebagai bagian dari Rusia?

Maukah Rusia cukup hanya dengan menguasai kawasan itu, lalu diakhiri dengan sebuah kesepakatan bahwa Ukraina tidak akan pernah menjadi anggota NATO, bahkan dengan jaminan masyarakat Internasional?

Apakah Ukraina setuju dengan proposisi pelepasan dan pengakuan terhadap tingkah laku Rusia.

Apakah Ukraina cukup hanya menyatakan dengan sebuah perjanjian tidak menjadi anggota NATO, namun tetap meminta wilayahnya dikembaikan?

Akankah Rusia setuju dengan posisi Ukraina yang seperti itu?

Mungkinkah ada pihak ketiga yang netral seperti layaknya Cina, Turki, atau Israel yang akan menjadi mediator sekaligus pendamai antara Rusia dan Ukraina dan negara-negara pendukung Ukraina.

Apa yang dikemukakan di atas hanyalah pertanyaan-pertanyaan asumtif yang mungkin relevan atau sama sekali tidak relevan dengan apa yang sedang terjadi saat ini.

Akan tetapi, terhadap keberlanjutan atau penghentian perang Ukraina itu, kini sejumlah negara-negara Eropa, terutama anggota NATO mulai berbeda pendapat.

Ada kelompok negara-negara yang ingin Ukraina dan Rusia didamaikan dengan konsesi plus minus kepada kedua pihak.

Sebaliknya ada pula negara-negara menginginkan keadilan ditegakkan.

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved