Kupi Beungoh
Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (XXVI) - Damai vs Adil, dan Keterbelahan Eropa
Keletihan itu kini juga dirasakan oleh negara-negara pendudukung Ukraina yang kebutuhan energinya bergantung kepada Rusia.
Oleh Ahmad Humam Hamid*)
ADA nuansa dan suasana “keletihan” global akibat perang Ukraina, terutama yang dialami oeh negara-negara yang terkena dampak langsung akibat perang itu.
Energi, makanan, dan pengungsi, paling kurang adalah tiga isu besar yang kini sedang dihadapi oleh berbagai negara dengan tingkat keparahan yang berbeda.
Negara-negara tetangga langsung Ukraina, seperti Romania dan Polandia adalah dua negara tetangga yang mengalami gelombang pengungsi Ukraina.
Ada juga sejumlah negara Eropa lain yang membuka pintu untuk pengungsi Ukraina, seperti Inggris, Jerman, Italia, dan negara-negara Eropa lainnya, sekalipun dalam jumlah yang relatif kecil.
Pertanyaannya adalah sampai kapan “baik hati” itu akan berlanjut.
Dalam sebuah wawancara baru-baru ini, Perdana Menteri Polandia menyebutkan jumlah pengungsi Ukraina di negerinya yang berjumlah sekitar 2 juta jiwa tidak ditempatkan di kamp pengungsi.
Mereka ditumpangkan di rumah-rumah penduduk, terutama untuk wanita dan anak-anak Ukraina.
Namun pengungsi perang bukanlah seperti pengungsi banjir atau gempa yang jelas ada tanggal akhirnya.
Status pengungsi perang adalah status yang tidak final, karena perang itu sendiri tak jelas kapan akan berakhir.
Dan kini negeri seperti Polandia juga akan dan bahkan sedang merasakan dampak ekonomi dan sosial akibat membludaknya jumlah pengungsi yang kolosal itu, dan dititipkan di rumah warga.
Dapat dipastikan, pada akhirnya sebuah keputusan mesti dibuat.
Keputusan tentang pengungsi akan melahirkan kebijakan yang sangat kompleks, karena hal itu bukan lagi masalah kemanusiaan Ukraina, akan tetapi juga menjadi masalah kemanusiaan Polandia dan negara-negara yang serupa, karena beban yang dahsyat ekonomi dan sosial itu.
Keletihan itu kini juga dirasakan oleh negara-negara pendudukung Ukraina yang kebutuhan energinya- minyak bumi, gas, dan batubara tergantung dari Rusia.
Hal itu sangat dirasakan oleh Italia, Hungaria, dan Jerman.