Jumat, 8 Mei 2026

Jurnalisme Warga

Etos Kerja di Kalangan Masyarakat Aceh

Etos berarti sikap, kehendak, kebiasaan, watak, cara berbuat, dan perhatian. Jadi, etos adalah suatu karakter yang sudah mendarah daging

Tayang:
Editor: bakri
FOR SERAMBINEWS.COM
T.A.SAKTI, peminat manuskrip dan sastra Aceh, melaporkan dari Bale Tambeh, Tanjung Selamat, Aceh Besar 

Lukisan sikap budaya Aceh terhadap kedua jenis perilaku manusia ini tercermin lewat kristal-kristal budaya yang kita warisi dari endatu (nenek moyang) kita sendiri.

“Peue dale dahoh siuroe suntoek, kon tabeudoh laju tajak mita boh-boh sidom” (Kerjamu melulu hanya nongkrong setiap waktu, kan lebih baik berangkat mencari ‘telur-telur semut’).

Perumpamaan sebesar telur semut, berarti harta sebanyak apa pun, memang mesti dicari dan diusahakan.

Banyak sekali ungkapan bernada meremehkan si pemalas dalam kehidupan masyarakat Aceh sehari-hari.

“Teguran” atau nasihat ini biasanya terselip dalam pergaulan para warga desa umumnya.

“Peue lale duek dukhoh siuroe seuntok” (Kenapa hanya nongkrong saban hari).

“Hana peue shot buleuen ngon ujong sadeuep” (Tak usah mencolok bulan dengan ujung sabit; kerja sia-sia).

“Bek preh dahoh” (Tak perlu banyak tunggu!) dan “bek preh geulupak gob top” (jangan mengharap belas kasihan orang lain).

Terdapat pula pepatah Aceh yang bernada mengejek seorang lelaki, “Hana peng, hana inong” (Tak punya uang, tak bakal mendapat perempuan; istri).

Kesemua pribahasa Aceh di atas adalah sindiran tajam yang “menusuk hati” bagi orang yang berperilaku demikian.

Kritik sosial ini akan lebih cepat mencapai sasaran, terutama bagi mereka yang memiliki “mata hati” yang jernih dan terang.

Sementara bagi insan-insan yang “klop prip dan gai bugai” (tak mempan lagi dinasihati), petuah sebaik apa pun tak bakal lagi menggugah mereka, terkecuali dengan siraman taufik serta hidayah dari Allah Swt.

Penghargaan kepada mereka yang rajin (jeumot) juga sering tersentil dalam percakapan sehari-hari.

“Nyang meurot cit leumo tumbon” (orang kaya memang orang-orang rajin).

Para pedagang obat kaki lima, biasa pula mengawali gelaran dagangannya dengan pepatah, “Tapak jak urat nari, na tajak na raseuki” (Kaki berjalan, otot urat melenggang; insyaallah rezeki pun datang).

Biarpun memiliki pupuk budaya kerja yang menyanjung orang rajin serta mengutuk si pemalas, bukan berarti sibeue-o si-iet (pemalas) itu tidak mempunyai tempat sandaran kemalasannya.

Di antara hadih maja (peribahasa) Aceh yang “mendukung” sifat malas, yaitu “Atra sikai hanjeuet sicupak, beurang ho tajak ka dumnan kada” (Soal rezeki, sudah ditentukan Tuhan, tak bisa diubah-ubah lagi).

“Keupeue le that atra, peue na tapeulob lam uruek” (Untuk apa berharta banyak, ‘kan tidak dibawa ke kubur,” cetus si kakek yang berkehidupan papa-merana.

Sang nenek tak sependapat, lalu ia menyelutuk, “Bak akhe donya on trieng meuhareuga (Di zaman canggih, daun bambu pun bisa jadi duit),” celoteh seorang nenek di pojok rumah, pertanda gembira.

Akibatnya, terwujudlah etos kerja positif.

Baca juga: Persaingan Ketat, PNS Bireuen Diminta Tunjukkan Etos Kerja yang Baik

Baca juga: Pemuda Desa Ini Jarang Keluar Rumah, Dikira Kerja Gaib, Ternyata Kelola Server di Berbagai Negara

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved