Opini
Reshuffle Kabinet Minus Aceh: Pertanda Apa?
Joko Widodo (Jokowi) pada Rabu (15/6/2022) siang kembali melakukan perombakan kabinet (cabinet reshuffle) dalam sisa waktu efektif pemerintahan
Bahkan tidak terlihat keterwakilan tokoh-tokoh daerah atau setidak-tidaknya “personifikasi” dari daerah atau wilayah tertentu secara berimbang.
Paling faktual adalah diberhentikannya Menteri ATR/ BPN Sofyan Djalil yang notabene adalah putra Aceh satusatunya dalam Kabinet Indonesia Maju, yang digantikan oleh Marsekal TNI (Purn.
) Hadi Tjahjanto, mantan Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI).
3 Belum diketahui secara pasti, alasan yang mendasari Presiden Jokowi melakukan perombakan kabinet dengan menafikan “keterwakilan daerah” sebagaimana keputusan yang telah diamininya tersebut.
Bahkan ada kalangan yang menilai bahwa langkah Presiden ini masih bertalian dengan setting agenda tiga periode dengan masuknya seluruh keterwakilan parpol koalisi tanpa ada yang ditinggalkan.
Sebuah putusan tak lazim, kabinet tanpa keterwakilan putra/putri terbaik Aceh.
Secara nalar bahkan jika ditakar sesuai indikator-indikator manifesto politik Jokowi-Jusuf Kalla melalui NAWACITA pada periode lalu, dan semangat yang mendasari penyusunan kabinet serta program pemerintahan melalui jargon “Indonesia Maju” sangatlah bertolak belakang.
Semestinya modal untuk mencapai itu semua adalah kebersamaan, soliditas dan keberagaman.
Sesuatu yang pada akhirnya tidak terlihat pada komposisi kabinet yang ada saat ini.
Idealnya komposisi Menteri haruslah beragam, tentu dengan sejumlah pertimbangan yang patut sebagai bentuk manifestasi dan internalisasi nilai-nilai ideologi Pancasila dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika yang tak elok jika ditawar-tawar kembali dalam komitmen bernegara.
Pun demikian preseden yang telah berjalan selama ini, dimana kombinasi konfigurasi keberadaan para tokoh daerah dalam kursi kabinet berikut pula keberadaan para politikus partai dengan menimang konstelasi politik tanah air demi kondusifitas jalannya pemerintahan, telah menjadi konvensi ketatanegaraan sebagaimana telah dipraktikkan dan disemai oleh Presiden-Presiden sebelumnya.
Ketiadaan putra/putri terbaik asal Aceh dalam jajaran Kabinet Indonesia Maju saat ini menjadi catatan khusus bagi publik Aceh.
Sekalipun terdapat adagium dalam politik bahwa “tidak ada teman yang sejati, melainkan hannyalah kepentingan yang abadi”.
Pun tak salah jika ada sebahagian kalangan yang merasa bahwa lagi dan lagi Aceh ditinggalkan, sebab Jakarta tak lagi setia! Sebuah potret romantisme hubungan “kanda-adinda” yang menyejarah yang tak lekang oleh waktu.
Kenyataan bahwa Aceh tak lagi istimewa.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/heikal-daudy-sh-mh-wakil.jpg)