Kamis, 4 Juni 2026

Kupi Beungoh

Aceh dan Kepemimpinan Militer (IV) - Alaiddin Riayat Syah, Sang Penakluk dan Armadanya

Salahudin dimakzulkan, dan Alaiddin Riayatsyah mulai berperan sebagai raja Kerajaan Aceh Darussalam yang ketiga.

Tayang:
Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/Handover
Ahmad Humam Hamid, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh (Foto Maret 2022). 

Pasukan Aru berikut dengan pasukan bantuan dari berbagai kerajaan di Sumatera dan Semenanjung Melayu berhasil dikalahkan oleh pasukan kerajaan Aceh.

Kemenangan itu menjadikan Kerajaan Aceh Darussalam,menjadi benih baru sebagai calon Kerajaan Islam pertama yang terkuat di Asia Tenggara, yang kemudian benar terjadi ketika Iskandar Muda berkuasa.

Menurut Mohammad Said (1981), semenjak itu Alaidin menjadi seorang raja yang ditakuti dan disegani di kawasan Sumatera dan Semenanjung Malaya.

Baca juga: Sambut Tahun Baru Islam 1444 H, Pewaris Kerajaan Aceh Gelar Upacara Pengibaran Bendera Alam Pedang

Baca juga: Lestarikan Nisan Peninggalan Kerajaan Aceh, Hubdam IM Turunkan Prajurit ke Gampong Pande

Memerangi Portugis di Melaka

Alaidin sama sekali belum puas sebelum berhasil memerangi dan mengusir Portugis dari Melaka.

Dalam masa hidupnya, sampai ia meninggal pada tahun 1571, Alaidin menyerang Portugis di Melaka beberapa kali.

Setiap kegagalan tidak pernah membuatnya berhenti untuk melakukan serangan selanjutnya.

Alaidin mengerahkan 3000 tentara Aceh mengepung Malaka pada tahun 1537, namun setelah dua hari bertempur pasukan Aceh terpaksa mundur, karena mendapat pukulan kuat dari tentara Portugis.

Benteng kuat Melaka yang dibuat oleh Portugis, membuat pasukan Aceh sangat sukar melewatinya.

Aceh menderita kematian prajurit yang banyak dalam perang itu.

Alaidin kembali menggempur Portugis pada tahun 1547 dengan mengerahkan 5.000 pasukan yang dibawa dengan 60 kapal.

Taktik pasukan Aceh yang menyerang pada malam hari membuat Portugis tak berkutik.

Sebagian pesisir Melaka di duduki, kapal Portugis dibakar, dan 7 tentara Portugis berhasil diculik.

Inisiatif melancarkan pukulan balik dari Portugis yang sebelumnya dilakukan, kali ini tidak terjadi, dan pasukan Alaidin juga tidak menyerang, namun membangun strategi baru dengan membuat blokade untuk mengepung Melaka.

Strategi blokade Aceh menjadi berantakan, ketika pasukan dari 3 Kerajaan Melayu- Johor, Perak, Pahang, yang bersekutu dengan Portugis menyerang
pasukan Aceh.

Portugis sangat terbantu dengan kedatangan 8.000 tentara dan 300 kapal perang dari ketiga kerajaan itu.

Aceh kembali kalah pada serangan itu.

Kerajaan-kerajaan Melayu telah mendahulukan persekutuannya dengan Portugis dan mengenyampingkan kepentingan agama dan ras Melayu kawasan.

Kecendrungan memihak Portugis dari kerajaan-kerajaan Semenanjung Melayu terus menerus terjadi berpuluh tahun kemudian, bahkan pada masa Iskandar Muda, di kemudian hari.

Kesungguhan Alaidin memerangi Portugis kembali dilancarkan pada tahun 1568, dan kali ini ia sendiri memimpin Perang itu.

Sebagai tambahan, isteri, dan tiga anaknya diikutkan dalam peperangan itu.

Seperti diitulis oleh Amirul Hadi (2010), Aceh berangkat dengan 15.000 pasukan, dengan tambahan 400 tentara Turki, yang diangkut dengan 300 kapal dilengkapi dengan 200 meriam.

Portugis yang nyaris kalah pada saat itu, segera mendapat bantuan pasukan dari kerajaan Johor dan Kedah, dan lagi-lagi Alaidin tak mampu menembus benteng Portugis di Melaka.

Ia menderita kekalahan lagi.

Aceh kehilangan sekitar 4.,000 tentaranya, dan Alaidin harus merelakan putranya, pangeran Abdullah juga tewas.

Ketegangan Aceh dengan Portugis terus berlanjut semasa Alaidin hidup, sampai ia meninggal.

Bahkan sebelum Alaidin mangkat, Aceh sempat malayani Portugis pada tahun 1574, di perairan Aceh dimana 60 kapal perang Aceh berhadapan dengan 14 kapal perang Portugis (Hadi 2010).

Strategi perang Eropa yang digunakan oleh salah satu Laksamana Portugis berpengalaman dalam berbagai perang, Luiz de Melo memang mampu mendesak pasukan Aceh dan bahkan menghancurkan beberapa kapal Aceh, dan menangkap beberapa tangman.

Namun de Melo tidak pernah mendaratkan kakinya di bumi Aceh.

Pasukan itu kemudian kembali ke Melaka.

Alaidin dikenang sebagai petempur yang ambisius dan berani.

Ia memperluas kawasan Aceh, dan mendatangi Portugis di Melaka untuk mengusirnya.

Ia memang tidak berhasil, akan tetapi karena banyak kemenangan yang di dapatkan ia mendapat gelar Al-Qahhar, “Sang Penakluk”.

Obsesi ayahnya Ali Mughayatsyah untuk menjadikan Aceh sebagai kerajaan terkuat di kawasan diwujudkan oleh Alaidin dengan pembanguan armada militer yang tangguh, berikut dengan strategi dan tehnologi perang, berikut dengan navigasi maritim yang ia dapatkan dari persahabatan dengan kerajaan Turki.

Mimpi ayahnya, Mughayatsyah untuk menjadikan Aceh sebagai pintu gerbang perdagangan di mulut Samudera Hindia tidak hanya berlanjut, namun tumbuh dengan pesat.

Salah satu strategi itu yang ia terapkan adalah memperkuat armada militernya, terutama angkatan laut.

*) PENULIS adalah Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Baca Artikel Kupi Beungoh Lainnya di SINI

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved