Kupi Beungoh
Rahasia Batin Latihan Persiraja
Demi menjaga mimpi itu, cara yang dilakukan adalah dengan menonton Persiraja saban sore, seperti yang dikisahkan oleh Fadli dalam....
Oleh: Bung Alkaf *)
TEUKU Fadli menulis impiannya tentang memilki Persiraja. Mimpi yang unik. Karena, biasanya, remaja laki-laki Aceh yang sedang tumbuh lebih memilih bermimpi menjadi pemain Persiraja daripada memilikinya.
Membayangkan bermain sepak bola di stadion Lampineung Banda Aceh dengan memakai jersey oranye adalah hal yang terindah.
Namun, tidak semua mampu mewujudkan mimpi itu. Lapangan di stadion Lampineung hanya mampu menampung beberapa puluh orang saja.
Demi menjaga mimpi itu, cara yang dilakukan adalah dengan menonton Persiraja saban sore, seperti yang dikisahkan oleh Fadli dalam kisah mimpinya itu.
Menonton Persiraja latihan, seperti yang saya lakukan di masa remaja, adalah hal yang mengasyikkan. Selepas sembahyang Ashar, saya bersama teman-teman kerap berada di tribun demi menyaksikan para pemain Persiraja menendang bola, berlari, berteriak, tertawa, dan kelimpungan.
Baca juga: Bang Fuad
Baca juga: Serambi
Baca juga: Koes Plus
Dari tribun, ragam aksi terlihat, mulai teriakan dari penonton yang kerap mengundang tawa, kehadiran para pemain lawas Persiraja yang mengamati latihan dengan serius, sampai keberadaan pengamat sepak bola dadakan. Semua menjadi satu saat menyaksikan Persiraja latihan.
Karena sering menonton latihan, saya pernah mendapatkan anugerah yang tak disangka-sangka.
Pada satu pagi, saya terlambat ke sekolah. Tentu, bukan satu-satunya keterlambatan yang pernah saya lakukan. Tetapi, keterlambatan pagi itu sangat bersejarah.
Baca juga: Manajemen Persiraja Ajukan Semua Pertandingan Digelar Sore Hari
Baca juga: VIDEO Setelah Ziarah ke Makam Syiah Kuala, Persiraja Beri Santunan ke Dayah Mini Aceh
Saya saat itu sudah bersekolah di SMA Negeri 4 Lampineung. Karena terlambat, saya memangkas perjalanan melalui stadion Lampineung. Suasana sudah lengang.
Tiada orang di kawasan itu. Kecuali satu orang yang sedang keluar dari pintu utama stadion menuju sepeda motornya.
Saya melihat dari jauh, rupanya Mustafa Jalil, pemain andalan Persiraja.
Dia salah satu tulang punggung tim. Aksinya lincah. Skillnya mumpuni. Dia sering mengacak-ngacak tim lawan dengan gocekannya.
Oleh reporter RRI yang melaporkan siaran langsung pandangan mata, aksinya itu digambarkan dengan, "meliuk-liuk di jantung pertahanan lawan."
Saya semakin mempercepat langkah. Dalam bayangan, guru olahraga yang terkenal tegas sudah menunggu di pintu utama sekolah, sepertinya hukuman untuk saya, karena terlambat, sudah menunggu.
Tiba-tiba, saya dikejutkan oleh seseorang yang bermurah hati menawarkan boncengan. Begitu saya melihat orang tersebut, hati ini berdegup kencang, perasaan gugup langsung menyerang. Orang itu adalah Mustafa Jalil.
Tentu saja, kemurahan hati itu, saya sambut. Sambil duduk di jok belakang motornya, kami berbicara. Rupanya, Mustafa mengetahui kalau saya sering menonton Persiraja latihan.
Percakapan kami kemudian seputar Persiraja. Dia bercerita dengan ringan saja pertandingan persahabatan yang baru saja dilakoni.
Dia juga menyebut nama-nama pemain yang hanya bisa saya saksikan dari atas tribun seperti Irwansyah dan Dahlan Jalil. Namun, bagi saya, percakapan di atas motornya itu sangat mewah.
Tidak lama, sampailah saya di depan gerbang sekolah. Setelah mengucapkan terima kasih, Mustafa pun berlalu.
Dari halaman sekolah, guru olahraga yang ditakuti itu sudah menunggu. Sepertinya, dia telah melihat kalau saya diantar oleh Mustafa Jalil.
Begitu tiba di hadapannya, saya sudah bersiap menerima hukuman. Namun, terjadilah hal yang mengejutkan, saya dibebaskan dari hukuman dan dipersilahkan masuk ke kelas. Mengherankan sekaligus melegakan.
Guru olahraga sekolah kami itu memang fans berat Persiraja. Saya sering melihatnya di stadion Lampineung, baik saat Persiraja bertanding dan berlatih.
Tentu saja, baginya, pemain Persiraja adalah kumpulan elite dan idola masyarakat Aceh saat itu.
Dalam konteks itulah, dia melihat saya dengan cara pandang yang baru: siswanya yang diantar langsung oleh salah satu pemain andalan Persiraja.
Sejak saat itu, hubungan kami berlangsung akrab. Wajahnya terlihat ramah bila berjumpa saya di sekolah. Posisi saya semakin mulia di matanya karena sering bertemu di stadion.
Sebagai siswa yang punya sopan santun - - apalagi yang bisa diandalkan di hadapan guru olahraga yang disegani kecuali hal itu - - saya menyapanya dengan hormat. Dia pun membalas dengan sikap welas asih.
Hubungan baik itu berlangsung lama. Sampai pada satu waktu, dengan keberanian yang mungkin sudah dipupuknya dengan lama, dia bertanya kepada saya.
"Kamu adiknya Mustafa Jalil, ya?"
" Saya? Bukan, Pak."
"Lho, saya pernah melihat kamu diantar sekolah oleh beliau."
"Itu kebetulan jumpa, Pak. Ya, saya terima saja."
Suasana langsung hening seketika. Tanpa dikomando, saya pun meminta izin kembali ke kelas. Untung saja, tidak lama, saya pun lulus dari sekolah itu. (*)
*PENULIS adalah Muhammad Alkaf, akrab disapa Bung Alkaf, seorang Esais Aceh
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggungjawab penulis.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/muhammad-alkaf.jpg)