Breaking News:

Kajian Islam

Hukum Kasih Lebih Saat Bayar Utang, Bisa dapat Pahala Tapi Juga Bisa Jadi Riba, Ini Kata Abu Mudi

Dalam membayar utang, bolehkah seseorang melebihkan pembayaran dengan maksud sebagai tanda terima kasih kepada orang yang meminjamkan? 

Penulis: Firdha Ustin | Editor: Amirullah
For Serambinews.com
Abu Mudi Samalanga 

Hukum Kasih Lebih Saat Bayar Utang, Bisa dapat Pahala Tapi Juga Bisa Jadi Riba, Ini Kata Abu Mudi

SERAMBINEWS.COM - Membayar utang dalam Islam hukumnya adalah wajib dan tidak boleh menunda-nunda untuk melunasinya. 

Namun, dalam membayar utang, bolehkah seseorang melebihkan pembayaran dengan maksud sebagai tanda terima kasih kepada orang yang meminjamkan? 

Untuk mengetahui hukum melebihkan pembayaran saat bayar utang, simak penjelasan ulama Aceh, Abu Mudi sebagaimana dirangkum Serambinews.com dari akun resmi TikTok Lajnah Bahtsul Masail Mudi Mesra Samalanga, @lbm,mudi pada Sabtu (10/9/2022).

Melalui video berdurasi kurang dari 4 menit tersebut, Abu Mudi memberikan penjelasannya dalam sebuah kajian dakwahnya.

Pimpinan dayah Mudi Mesra Samalanga ini mengatakan, apabila si pengutang membayar lebih uang yang dipinjamnya dan keduanya terlibat akad atau perjanjian, hal itu termasuk riba.

"Si pengutang membayar lebih, itu dinamakan riba," kata Abu Mudi.

Baca juga: Malam Jumat, Pasangan Sah Harus Tahu Hukum Oral Anu Suami Menurut Buya Yahya, Bolehkah?

Agar tidak terjadi riba, Abu Mudi memberikan dua solusi jika ingin melebihkan pembayaran saat bayar utang.

Pertama, jangan pernah si pengutang dan si pemberi utang terlibat dalam akad.

Misalnya, jika kita berutang uang Rp 1 juta, kemudian si pemberi utang memberikan uang Rp 1 juta tetapi dengan syarat saat pembayaran harus dikembalikan lebih dari uang yang dipinjam yakni Rp 1,2 juta, hal ini tidak diperbolehkan karena riba.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved