Senin, 27 April 2026

Jurnalisme Warga

Kenduri Buku, Hajatan Literasi Warga Sukma Bangsa

Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang dicanangkan Kemendikbud beberapa tahun lalu, seluruh sekolah di Indonesia menyambut baik program ini

Editor: bakri
FOR SERAMBINEWS.COM
AZWAR ANAS, S.Pd, Wakasek Bidang Kesiswaan SMP Sukma Bangsa Lhokseumawe dan Pegiat FAMe Chapter Lhokseumawe, melaporkan dari Bireuen 

OLEH AZWAR ANAS, S.Pd, Wakasek Bidang Kesiswaan SMP Sukma Bangsa Lhokseumawe dan Pegiat FAMe Chapter Lhokseumawe, melaporkan dari Bireuen

SEJAK digaungkannya Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang dicanangkan Kemendikbud beberapa tahun lalu, seluruh sekolah di Indonesia menyambut baik program ini dengan menyelenggarakan berbagai program literasi di sekolahnya.

GLS menjadi program sekolah yang berfokus pada penekanan aktivitas membaca, melihat, menyimak, menulis, hingga berbicara.

Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkembangkan budi pekerti siswa melalui pembudayaan ekosistem literasi di lingkungan sekolah guna meningkatkan kapasitas warga sekolah agar menjadi kaum yang literat.

Menyikapi hal tersebut, Sekolah Sukma Bangsa (SSB) ikut andil mengambil bagian dengan melaksanakan kegiatan Kenduri Buku yang rutin diadakan di sekolah tersebut.

Kenduri Buku merupakan hajatan tahunan SSB yang bertujuan untuk mengapresiasi para siswa, guru, dan seluruh warga sekolah yang telah berjuang dalam mengembangkan kemampuan literasi, khususnya dalam bidang menulis.

Setelah pelaksanaan Kenduri Buku I pada 2020 lalu, tahun ini SSB mengadakan Kenduri Buku II yang dilaksanakan pada Sabtu (3/9/2022) di Kompleks SSB Bireuen, Gampong Cot Keutapang, Kecamatan Jeumpa, Kabupaten Bireuen.

Dalam kenduri kali ini, tak kurang dari sekitar 500 tamu dan undangan ikut hadir dan menyaksikan langsung seremoni peluncuran buku karya warga SSB dari empat lokasi di Indonesia, yaitu Lhokseumawe, Bireuen, Pidie, dan Sigi, Sulawesi Tengah.

Kegiatan ini berlangsung secara hibrida, di mana tamu dan undangan serta warga sekolah dan orang tua siswa juga dapat menyaksikan pelaksanaan kegiatan ini secara daring, di samping juga untuk mengakomodasi para siswa dan pimpinan SSB Sigi, yang tidak dapat mengikuti kegiatan secara langsung akibat keterbatasan jarak dan lokasi.

Kata kenduri digunakan dalam kegiatan ini sebagai bentuk syukur warga SSB atas pencapaian yang telah diraih dalam bidang literasi.

Hal tersebut dikarenakan kenduri sangat erat kaitannya dengan konteks masyarakat, khususnya di Aceh.

Baca juga: Tingkatkan Literasi Membaca Siswa, MIN 27 Aceh Besar Buat Kegiatan Baca Senyap

Baca juga: Lapak Baca dan Wisata Literasi Masyarakat Bireuen

Berbagai acara adat atau syukuran seperti saat pernikahan, tujuh bulanan, lahiran, hingga khitan misalnya, masyarakat Aceh lazimnya melaksanakan kenduri.

Bedanya jika kenduri dalam masyarakat disajikan berbagai jenis makanan lezat, dalam Kenduri Buku justru tamu dan undangan disuguhi hidangan mahakarya literasi warga SSB dalam bentuk buku.

Selain penyerahan buku secara simbolis bagi tamu yang berhadir, seluruh undangan juga akan mendapatkan ragam jenis buku yang diluncurkan di hari tersebut.

Tentunya hal ini begitu unik dan menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung.

Pada pelaksanaan Kenduri Buku kali ini SSB meluncurkan 38 buku karya guru dan siswa yang terdiri atas tujuh buku dari SSB Pidie, delapan buku dari SSB Bireuen, 16 buku dari SSB Lhokseumawe, dan tujuh buku dari SSB Sigi.

Buku-buku tersebut merupakan karya guru dan siswa SSB yang dikumpulkan dalam kurun waktu satu tahun ke belakang.

Semua buku tersebut tak lahir secara serta-merta dan jadi begitu saja.

Butuh proses panjang yang dilakoni oleh SSB dalam membentuk kegiatan literasi bagi warganya guna menghasilkan buku hingga dapat dikonsumsi oleh masyarakat.

Pelaksanaan kegiatan literasi di SSB dapat dikatakan cukup baik.

Berdasarkan pengamatan saya sebagai salah satu bagian dari sekolah ini, SSB sangat fokus dalam pengembangan literasi, khususnya dalam hal menulis.

Baca juga: Prodi S2 KPI UIN Ar-Raniry Sukses Gelar Pendampingan Literasi Digital di Pesantren Modern Al-Manar

Baca juga: Bupati Shabela Lantik Puan Ratna Jadi Bunda Literasi Aceh Tengah

Tak hanya diwajibkan bagi siswa, program literasi di SSB juga diamanatkan untuk para guru.

Setiap guru wajib secara rutin menuliskan refleksi yang dilaksanakan dalam pembelajaran di kelas bersama siswa pada aplikasi yang telah disediakan.

Kegiatan ini dilakukan guru untuk setiap kelas yang diampu.

Selain sebagai bahan refleksi mengajar, hal ini secara perlahan juga akan melatih guru untuk mengembangkan kemampuan literasinya, khususnya dalam bidang menulis.

Di samping beberapa kegiatan lain seperti program guru menulis di media massa dan program cetak buku guru juga sangat digalakkan.

Sementara itu, pelaksanaan kegiatan literasi bagi siswa juga terus digemari.

SSB menyediakan berbagai program pengembangan literasi siswa seperti adanya jam khusus untuk membaca (reading hour) yang dimasukkan dalam kegiatan ekstrakurikuler.

Pada kegiatan ini seluruh siswa akan membaca buku secara serentak, kemudian menuliskan hasil bacaannya pada jurnal yang telah disediakan, dan dikahiri dengan sesi menyampaikan bacaannya di depan anggota belajarnya.

Selain itu, guna menumbuhkan minat dan motivasi siswa dalam menulis, SSB juga kerap menyelenggarakan berbagai kegiatan yang dapat merangsang daya literasi siswa, seperti kegiatan sayembara menulis, proyek menulis buku antologi kelas, cipta pantun dan puisi, hingga beragam kegiatan serupa lainnya.

Begitu konsentrasinya SSB dalam dunia kepenulisan hingga kemampuan menulis siswa menjadi salah satu standar dan syarat kelulusan yang harus dipenuhi siswa ketika akan menyelesaikan pendidikannya di SSB.

Baca juga: RTIK Aceh Seminar Literasi Digital Saweu Gampong, Antisipasi Dampak Negatif Media Digital dan Sosmed

Kembali ke Kenduri Buku.

Pelaksanaan kenduri tahun ini agaknya memiliki atmosfer yang berbeda dari tahun sebelumnya.

Kenduri Buku kali ini dilaksanakan bersamaan dengan peringatan Hari Pendidikan Daerah (Hardikda) Aceh yang jatuh pada hari sebelumnya, 2 September 2022.

Berkenaan dengan hal ini, guna memperingati momentum penting tersebut, SSB mempersembahkan beragam karya buku hasil warganya kepada masyarakat melalui Kenduri Buku, di samping hal ini juga bertujuan untuk terus mendukung pendidikan di daerah khususnya dan Indonesia pada umumnya agar menjadi lebih baik.

Guna menyemarakkan Hardikda, pada momen Kenduri Buku kali ini juga ikut hadir sosok tokoh legendaris pendidikan Aceh yang yang memiliki segudang pengalaman dalam dunia pendidikan, Bapak Qismullah Yusuf.

Pak Qis, begitu beliau akrab disapa, memberikan orasi tentang bagaimana perkembangan pendidikan di Aceh dalam ceramah singkatnya.

Pada sesi akhir kegiatan, beberapa buku karya guru dan siswa dibedah oleh para praktisi literasi di Aceh: Yarmen Dinamika, Ayi Jufridar, Teuku Kemal Fasya, dan Nazaruddin Abdullah.

Kegiatan bedah buku ini bertujuan untuk mendalami kembali isi buku karya warga SSB agar dapat dijadikan bahan refleksi (baik dari segi metodologi, kualitas isi, bahasa, dan teknik penyajian) untuk hasil yang lebih baik di tahun mendatang.

Terakhir, tak berlebihan agaknya jika kita melirik sejenak dan memberikan apresiasi sebesarnya atas apa yang telah dilakukan SSB.

Kenduri Buku ini menjadi bukti nyata bahwa pelaksanaan kegiatan literasi di sekolah dapat dikemas dengan baik oleh setiap satuan pendidikan.

Maka, perlu adanya usaha sadar dan dukungan dari semua pihak, khususnya manajemen sekolah dalam menghidupkan literasi di sekolah sehingga apa yang sudah dilakukan SSB dapat juga diterapkan di sekolah-sekolah lain guna mewujudkan gerakan literasi sekolah yang madani.

Sampai jumpa pada Kenduri Buku selanjutnya! (azwaranas1993@ yahoo.com) 

Baca juga: Ulun Tanoh, Desa Literasi di Negeri Seribu Bukit

Baca juga: Kepala ANRI Ajak Semua Pihak Hadirkan Kembali Kejayaan Kearsipan dan Literasi Aceh

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved