Jurnalisme Warga
Ulun Tanoh, Desa Literasi di Negeri Seribu Bukit
SEBULAN lalu saya menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Kabupaten Gayo Lues atau yang lebih dikenal dengan julukan “Negeri Seribu Bukit”
OLEH BAIHAKI, Kontributor Majalah Tekkomdik Dinas Pendidikan Aceh, melaporkan dari Gayo Lues
SEBULAN lalu saya menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Kabupaten Gayo Lues atau yang lebih dikenal dengan julukan “Negeri Seribu Bukit”.
Menempuh perjalanan menggunakan bus berangkat bakda Isya lebih kurang sebelas jam dari Kota Banda Aceh hingga paginya tibalah di Desa (Gampong) Ulun Tanoh, Kecamatan Kutapanjang, Kabupaten Gayo Lues.
Tak salah kabupaten ini dijuluki Negeri Seribu Bukit karena untuk menuju ke sana terlihat pemandangan yang dikelilingi perbukitan.
Saya tertarik ke Gayo Lues karena belum pernah sekalipun ke sana dan ingin sekali bersilaturahmi dengan seorang sahabat semasa kuliah yang kini telah menjadi kepala desa (pengulu) berprestasi tingkat nasional.
Setibanya di sana, saya disambut oleh Suhardinsyah yang tak lain Kepala Desa Ulun Tanoh.
Kopi dan lepat khas Gayo menemani sarapan pagi saat kami bincangbincang.
Tiga hari dua malam berada di Gayo Lues, setidaknya saya lebih mengenali Desa Ulun Tanoh yang dulunya terbelakang bahkan disebut “kolot”.
Kenapa disebut desa kolot, ternyata anak-anak muda yang ada di sini banyak pengangguran dan masih suka sabung ayam, serta masih banyak lagi hal negatif yang disematkan ke desa ini.
Bahkan, bagi yang mau menikah dari desa lain pasangannya baik pemuda atau pemudi yang berasal dari Ulun Tanoh, menjadi bahan perbincangan bahkan mengurungkan niatnya untuk menuju ke pelaminan.
Baca juga: Warga Desa Ulun Tanoh Gayo Lues Terima BLT Dana Desa, Penyandang Disabilitas Diantar ke Rumah
Baca juga: Penghulu Desa Ulun Tanoh Resmikan Jembatan Gantung Bantuan Kementerian Desa
Begitulah imej negatif disematkan ke desa tersebut.
Namun, itu dulu.
Seiring dengan perjalanan waktu, Desa Ulun Tanoh yang dulunya desa kolot, sekarang sudah berubah menjadi desa berprestasi dan berliterasi.
Perubahan desa ini yang drastis bukan secara serta merta, melainkan melalui sebuah proses, terutama sejak dipimpin seorang anak muda yang kreatif, inovatif, dan visioner.
Suhardinsyah (42), merupakan sosok kepala desa yang mengubah semuanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/BAIHAKI-Kontributor-Majalah-Tekkomdik-Dinas-Pendidikan-Aceh-melaporkan-dari-Gayo-Lues.jpg)