Breaking News:

Opini

Pro Kontra Hukuman Kebiri

Pandangan yang kontra, terhadap kebiri kimia selain dari pihak agamawan, juga berdasarkan perspektif HAM

Editor: bakri
Pro Kontra Hukuman Kebiri
IST
Dr YUNI ROSLAILI MA, Dosen Hukum Pidana Islam Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Pertanyaannya adalah dalam pusaran arus pro kontra hukuman kebiri ini, bagaimanakah Aceh mengambil sikap dalam masalah ini? Apakah Aceh melakukan reafirmasi hukuman kebiri sebagaimana bunyi UU Nomor 17 Tahun 2016 yang dijelaskan teknisnya dalam PP Nomor 70/ 2020 lalu menginputnya ke dalam Qanun Jinayah? Atau mengikuti Fatwa MPU Nomor 2 Tahun 2018 tentang Hukum Kebiri bagi Pelaku Prostitusi yang isi fatwanya menetapkan bahwa hukuman kebiri pada manusia pada dasarnya adalah haram? Sekilas tentang Kebiri Kimia Kastrasi atau kebiri merupakan teknik paling kuno, cepat dan murah untuk mencegah kejahatan, juga untuk teknik pencegahan kehamilan (KB), yang tak diinginkan, sebagaimana dikemukakan Victor T Cheney dalam buku “A Brief History of Castration” terbitan tahun 2006.

Dalam pelaksanaannya kebiri dapat dilakukan dengan dua cara, pertama secara fisik, dengan pengangkatan testis melalui operasi.

Kedua melalui penyuntikan zat kimia tertentu.

Jika kebiri fisik berupa pengangkatan testis melalui operasi, sedangkan kebiri kimia diberikan melalui penyuntikan zat kimia tertentu, yaitu penyuntikan zat anti testosteron.

Kalau itu ditekan, otomatis testis tidak memproduksi testosteron (Nugroho Setiawan, 2016) sehingga diharapkan akan dapat mengurangi dorongan seks, fantasi seksual, kapasitas gairah seksual pada seseorang.

Baca juga: Hukuman Kebiri Bagi Predator Anak Dinilai tak Efektif, LBH Anak: Lebih Baik Hukuman Penjara

Meskipun kedua tindakan kebiri ini tujuannya sama menghilangkan produksi hormon testosteron, namun sementara pihak berpendapat kebiri kimia tidak sama dengan kebiri fisik.

Tindakan kebiri kimia lebih dipandang sebagai sebuah terapi.

Misalnya sebagai salah satu teknik dalam program KB, juga digunakan sebagai terapi hormonal bagi penderita kanker prostat (Alo Dokter, diakses 7 September 2022).

Maka dalam konteks kejahatan seksual, pelaku kejahatan seksual memiliki hormon seks (androgen/testosteron) yang lebih tinggi dibandingkan pria lainnya sehingga kadar testosteron ini perlu dikendalikan.

Namun dalam hal ini menurut penulis, tindakan kebiri sebagai hukuman, tidak berbanding lurus dengan tindakan kebiri dalam konteks pengobatan.

Aceh quo vadis? Saat ini Komisi I DPRA sedang mengumpulkan saran dan pendapat dari masyarakat terkait penguatan draf revisi Qanun Nomor 6 tahun 2014 tentang Hukum Jinayat.

Sementara pihak ada yang berpendapat bahwa hukuman yang ada di dalam Qanun Jinayat masih lemah serta tidak memberikan rasa keadilan bagi korban.

Ada pula inisiasi ingin menghilangkan hukuman cambuk pada kasus jinayah pemerkosaan atau pelecehan seksual terutama yang dilakukan oleh mahramnya sendiri.

Hendaknya kepada pelaku diberikan hukuman penjara saja dengan masa kurungan yang lebih panjang.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved