Rabu, 29 April 2026

Kupi Beungoh

Agama dan Perdukunan

Dalam konteks dunia modern, ilmu perdukunan sudah tidak lagi relevan untuk dipraktikkan seiring dengan berkembangnya sains dan teknologi.

FOR SERAMBINEWS.COM
Khairil Miswar 

Oleh: Khairil Miswar *)

AGAMA yang dimaksud dalam tulisan ini mengacu pada agama monoteisme, khususnya Islam, sebab hanya Islam yang secara tegas menolak dan melarang praktik perdukunan bagi pemeluk-pemeluknya.

Bahkan dalam Islam praktik perdukunan dikategorikan sebagai dosa besar. Pelarangan ini selain didasarkan pada dalil-dalil teologis juga dimaksudkan untuk menjaga kemaslahatan masyarakat dan stabilitas sosial.

Dalam konteks dunia modern, ilmu perdukunan sudah tidak lagi relevan untuk dipraktikkan seiring dengan berkembangnya sains dan teknologi.

Penemuan-penemuan ilmiah di bidang kesehatan juga semakin mempertegas bahwa praktik perdukunan sudah tidak lagi kompatibel dengan ragam penyakit yang ada sekarang.

Jika pun hendak ditolerir, mungkin hanya dukun pijat dan dukun patah yang masih memiliki peluang untuk eksis. Selebihnya nonsens.

Baca juga: Rahasia Batin Latihan Persiraja

Baca juga: Syariat Islam Kenapa Digugat

Baca juga: Ambil Hikmahnya

Namun demikian, di sebagian tempat, khususnya di Jawa, kepercayaan kepada praktik perdukunan masih lumayan tinggi. Menurut Huda (2015) kondisi ini disebabkan oleh masih adanya masyarakat yang terpengaruh dengan paham religio-magis yang dilatari animisme-dinamisme di masa lalu.

Dalam hal ini animisme-dinamisme dan perdukunan memiliki hubungan yang melingkar karena pertumbuhan religi animisme-dinamisme sangat dipengaruhi oleh pengembangan praktik perdukunan. 

Sementara dalam konteks teologi Islam, animisme-dinamisme justru tidak mendapat tempat. Demikian pula dengan klaim pengetahuan dukun terkait soal-soal kegaiban juga ditolak.

Hal ini ditegaskan dalam teks kitab suci (QS. 6: 59 yang berbunyi: wa ‘indahu mafaatihul gaibi, la ya’lamuha illa huwa (Dan di sisi Tuhanlah kunci-kunci kegaiban itu, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia). Teks ini dengan sangat jelas menegasikan klaim-klaim pengetahuan mistik yang kerap dipamerkan oleh sosok dukun.

Dalam konteks sosio-kultural eksistensi dukun juga dipandang ambigu. Di satu sisi dukun dianggap sebagai “penolong” yang dapat memberi penyembuhan atas penyakit, memikat pasangan dan juga membuat mantra-mantra pelaris.

Namun di sisi lain, keberadaan dukun juga kerap diposisikan sebagai “ancaman” ketika berhadapan dengan hal-hal berbau pelet, santet dan teluh. Di sini terlihat jelas adanya disparitas pandangan terkait dukun dan praktik perdukunan di Indonesia.

Fusi Abnormal

Dalam teologi Islam hubungan antara agama dan perdukunan bersifat antagonistis. Namun dalam realitas sosial kerap terjadi anomali, di mana ada oknum tokoh agama yang melakukan praktik perdukunan dan ada pula oknum dukun yang berkedok tokoh agama.

Integrasi tak wajar antara tokoh agama dan dukun ini telah berdampak pada munculnya kebingungan dan keresahan publik.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved