Kupi Beungoh

Agama dan Perdukunan

Dalam konteks dunia modern, ilmu perdukunan sudah tidak lagi relevan untuk dipraktikkan seiring dengan berkembangnya sains dan teknologi.

FOR SERAMBINEWS.COM
Khairil Miswar 

Identifikasi tokoh agama sebagai sosok religius yang berpegang teguh pada ajaran Tuhan menjadi bias ketika dalam waktu bersamaan ia melakukan praktik perdukunan.

Bias serupa juga terjadi ketika seorang dukun menggunakan simbol-simbol agama dalam menjalankan aksinya. Akibat fusi abnormal kedua identitas ini terminologi tokoh agama dan dukun justru kehilangan karakteristik serta mengaburkan titik diferensiasi keduanya.

Sosok Gus Samsudin yang berseteru dengan pesulap Marcel Radival beberapa waktu lalu adalah contoh konkret tentang bagaimana fusi abnormal itu terjadi.

Gus Samsudin disebut-sebut sebagai sosok sakti yang kerap melakukan aksi pembersihan santet dengan pola mirip perdukunan, namun dalam melakukan aksinya ia justru menggunakan simbol-simbol agama baik secara verbal maupun performan.

Secara faktual, praktik yang dilakukan oleh oknum-oknum semisal Gus Samsudin ini lebih kepada “aksi penipuan” berbasis psikologis. Kuat dugaan berbagai bentuk “ritual” seperti penggunaan keris yang disebut-sebut memiliki daya magis hanyalah sebuah strategi psikologis untuk mengelabui korban.

Dalam konteks ini, penggunaan alat-alat tertentu dan juga penampakan “fenomena aneh” semisal tisu terbakar sendiri akan diidentifikasi oleh korban sebagai wujud kekuatan gaib yang dimiliki oknum dukun.

Dengan demikian akan muncul keyakinan dari korban bahwa oknum dukun memiliki kesaktian. Adapun penggunaan simbol-simbol agama semisal jubah dan tasbih hanyalah kamuflase untuk mempertegas bahwa kekuatan itu datang dari Tuhan, bukan dari setan.

Jika dicermati, aksi menyeret-nyeret agama dalam aktivitas berbau mistik tidak hanya dilakukan Gus Samsudin. Fenomena ini telah muncul jauh sebelumnya semisal acara pemburu hantu yang sempat tayang di salah satu stasiun televisi tanah air.

Dalam aksi ini terlihat jelas penggunaan simbol-simbol agama semisal jubah, tasbih dan juga ucapan doa-doa yang dikutip dari kitab suci. Selain itu juga terdapat semacam “ritual” dan gerakan-gerakan tertentu yang justru mirip dengan gaya dan gerakan dalam praktik perdukunan. Sama halnya dengan kasus Gus Samsudin, di sini juga terjadi fusi abnormal antara agama dan perdukunan.

Dua kasus di atas hanya sekadar contoh tentang bagaimana penipuan-penipuan mistik berbasis agama terjadi di tanah air. Di satu sisi fenomena tersebut dianggap sebagai hiburan, namun di sisi lain justru memunculkan sesat pikir bagi sebagian publik bahwa agama dan perdukunan adalah satu kesatuan.

Kondisi ini tentunya sangat membayakan autentisitas agama yang notabene berisi ajaran moral, bukan praktik kesaktian.

Belajar dari kasus Gus Samsudin sudah semestinya diferensiasi antara agama dan perdukunan dipertegas kembali sehingga fusi abnormal dari kedua terma ini tidak terjadi lagi.

Penegasan ini penting agar praktik-praktik penipuan melalui parade kesaktian tidak sampai mencoreng autensitas agama.

Caranya adalah dengan mengembalikan kedua entitas yang notabene antagonistis tersebut ke habitat masing-masing sehingga tidak ada lagi oknum tokoh agama yang terjebak dalam perdukunan dan tidak ada lagi oknum dukun berkedok agama. (*)

Bireuen, 16 September 2022

*) Khairil Miswar adalah Penulis Buku Islam Mazhab Hamok.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggungjawab penulis.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved