Minggu, 10 Mei 2026

Jurnalisme Warga

Fatahillah, sang Penakluk Sunda Kelapa Keturunan Aceh

'Fadhillah' lebih memungkinkan untuk dicocokkan sebagai verifikasi dengan berita Portugis yang menyebutkan nama 'Falatehan'

Tayang:
Editor: bakri
FOR SERAMBINEWS.COM
MELINDA RAHMAWATI, Alumnus Pendidikan Sejarah Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA dan mantan peserta Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka di Kampus Universitas BBG, melaporkan dari Jakarta 

Sementara, pasukan Kesultanan Banten secara bertahap menduduki wilayah demi wilayah Kerajaan Pajajaran dari arah Barat.

Pasukan Kesultanan Cirebon bergerak menguasai wilayah Kerajaan Pajajaran di bagian Timur Jawa Barat.

Dalam kondisi itu, Pelabuhan Sunda Kelapa masih mampu dipertahankan oleh Kesultanan Banten secara kuat, baik di darat maupun laut.

Setelah melalui pertempuran panjang, pada 22 Juni 1527, armada perang yang dipimpin Fatahillah akhirnya berhasil menaklukkan pasukan Portugis.

Setelah kemenangan tersebut, Fatahillah diperintahkan untuk memimpin di kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa.

Fatahillah kemudian mengganti nama 'Sunda Kelapa' menjadi Jayakarta, yang merupakan cikal bakal lahirnya kota Jakarta.

Setelah kemenangan itu, Fatahillah menikah dengan Ratu Ayu (putri Sunan Gunung Jati).

Selain itu, Fatahillah menghadirkan pola sistem perekonomian dan perdagangannya sesuai syariat Islam di Jayakarta.

Usahanya untuk menegakkan Islam, baik dalam usaha pemerintahan maupun diplomasinya dengan raja-raja Islam, menunjukkan dirinya sebagai seorang ulama dan negarawan yang bijak.

Ketekunannya dalam memperjuangkan Islam serta kesungguhannya mengamalkan agama Islam menjadikannya masuk dalam daftar ulama Wali Sanga (Wali Sembilan).

Baca juga: Pugar Makam Sultan Aceh,Terima Kasih Pak Anies

Fatahillah juga dipandang sebagai panglima perang yang cakap dan gagah perkasa.

Jasanya sangat besar dan pengaruhnya dalam memperluas wilayah dan penyebaran Islam terutama di pesisir pantai utara Jawa.

Selain Jakarta sebagai daerah dakwahnya, dakwahnya juga meluas hingga wilayah Kerajaan Demak, Banten, dan Cirebon.

Itulah sebabnya sejarah Fatahillah yang telah menaruh fondasi dari Kota Jakarta tidak dapat dipisahkan dengan Kerajaan Demak, Cirebon, dan Banten.

Sebagai penghargaan dan peringatan atas jasanya, di Jakarta terdapat sebuah taman di kawasan Kota Tua yang diberi nama Taman Fatahillah.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved