Internasional
Ambisi Lama Terwujud, Erdogan Siap Ubah Turki Menjadi Pusat Gas Alam ke Uni Eropa
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan siap mengubah negaranya menjadi pusat gas alam untuk Uni Eropa dan global.
Pekan lalu, dia mengatakan Rusia dapat terus memasok bahan bakar melalui rute alternatif, termasuk di bawah Laut Hitam yang berbatasan dengan Turki di selatan.
Baca juga: Iran Marah, Kirim Senjata ke Rusia Dapat Sanksi, Uni Eropa dan AS Bantu Ukraina Tanpa Sanksi Apapun
"Kita bisa memindahkan volume yang hilang dari Nord Streams di sepanjang dasar Laut Baltik ke wilayah Laut Hitam," kata Putin pada konferensi energi di Moskow pada 12 Oktober 2022..
"Ini akan menciptakan rute baru untuk pengangkutan gas alam ke Eropa melalui Turki, sehingga menciptakan pusat gas terbesar untuk Eropa di Turki," tambah Putin.
Dia juga menawarkan untuk mengirim gas alam ke Jerman melalui bagian pipa Nord Stream 2 yang tidak rusak, jika UE menginginkannya.
"Kami siap memasok volume tambahan pada periode musim gugur-musim dingin," jelasnya.
Tetapi pemerintah Jerman menolak mentah -mentah proposal untuk menggunakan Nord Stream 2 dengan mengatakan Rusia bukan lagi pemasok energi yang dapat diandalkan.
Ini bukan pertama kalinya Putin menyarankan penggunaan Nord Stream 2.
Bulan lalu, dia mengatakan UE dapat dengan mudah mengaktifkan pipa Nord Stream 2 yang baru jika menginginkan lebih banyak gas alam dari Rusia.
Nord Stream 2 tidak pernah memulai operasi komersial karena Jerman menangguhkan proyek beberapa hari sebelum Rusia menginvasi Ukraina pada 24 Februari.
Baca juga: Mantan Kanselir Jerman Angela Merkel Bela Keputusannya Beli Gas Rusia, Lebih Murah dari Negara Lain
Pembangunan pipa, yang membentang di bawah Laut Baltik dari Rusia ke Jerman, selesai pada September 2021 .
Alexander Novak, wakil perdana menteri Rusia sempat mengatakan ekspor gas ke UE turun sekitar 50 miliar meter kubik pada 2022, kantor berita Interfax melaporkan.
Ini akan menjadi sekitar sepertiga dari 155 miliar meter kubik gas Rusia yang diimpor UE pada tahun
2021, menurut data Badan Energi Internasional.(*)