Internasional

Ambisi Lama Terwujud, Erdogan Siap Ubah Turki Menjadi Pusat Gas Alam ke Uni Eropa

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan siap mengubah negaranya menjadi pusat gas alam untuk Uni Eropa dan global.

Editor: M Nur Pakar
AFP
Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan 

SERAMBINEWS.COM, ANKARA - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan siap mengubah negaranya menjadi pusat gas alam untuk Uni Eropa dan global.

Erdogan mengatakan akan bekerja sama dengan Presiden Rusi Vladimir Putin untuk mengubah Turki menjadi pusat gas alam.

Hal itu akan menjadi langkah berikutnya untuk Putin terus menjual bahan bakar Rusia ke Uni Eropa.

Presiden Rusia Vladimir Putin yang rencananya menjual langsung gas alam ke Eropa telah ditolak.

Saat ini, meminta bantuan Turki untuk menjual bahan bakar ke 'Benua Biru' itu sebagai gantinya.

Erdogaan telah mengatakan negaranya akan bekerja sama dengan Rusia untuk menjadi pusat gas alam global, seperti dilapor Anadolu Agency pada Kamis (20/10/2022).

Baca juga: Rusia Pilih Turki Sebagai Jalur Pipa Gas Baru ke Eropa, Erdogan Perintahkan Studi Teknis

Perkembangan itu terjadi seminggu setelah Putin menawarkan mengalihkan pasokan gas alam ke Eropa secara mengejutkan melalui Turki.

"Ini pertama kalinya kami mendengar ini dan masih terlalu dini untuk membuat penilaian," kata Menteri Energi Turki Fatih Donmez.

"Masih ada yang perlu didiskusikan lagi dengan Rusia," tambahnya.

Putin dan Erdogan bertemu, sehari setelah Putin mengusulkan rencana tersebut.

pemimpin Turki itu mengatakan otoritas energi dari kedua negara akan segera mulai mengerjakan proposal tersebut.

"Kami akan membuat hub di sini dengan gas Turki yang berasal dari Rusia," kata Erdogan.

Dia merujuk pada gas yang berasal dari Rusia sebagai "gas Turki."

"Dan dengan kata-katanya sendiri, Putin mengumumkan kepada dunia, Eropa bisa mendapatkan gas alamnya dari Turki," tambah Erdogan kepada anggota Partai AK pada Rabu (`19/10/2022).

Baca juga: Turki Usulkan Gencatan Senjata di Ukraina, Kedua Belah Pihak Masih Jauh Dari Kata Damai

Sebenarnya, Pemerintah Turki telah lama berambisi untuk menjadi pusat energi .

Dukungan cepat Erdogan atas proposal Putin, membuat hubungan yang semakin dalam antara Moskow dan Ankara, sebuah perkembangan yang mengkhawatirkan Barat dan Amerika Serikat (AS).

Turki anggota NATO dan negara kandidat keanggotaan Uni Eropa telah mengutuk invasi Rusia ke Ukraina.

Tetapi belum memberi sanksi kepada Rusia atau menutup wilayah udaranya ke negara itu.

Rusia telah menjadi salah satu mitra dagang utama Turki .

Eropa menghentikan impor gas alam dari Rusia, tetapi Putin masih mencoba menjual bahan bakar ke benua itu

Kesepakatan Erdogan dengan Putin terjadi tiga minggu setelah kebocoran ditemukan pada pipa utama Nord Stream yang mengangkut gas alam dari Rusia ke Jerman.

Kedua pipa, yang mengalir di bawah Laut Baltik, telah rusak , dengan Denmark dan Swedia mengatakan kepada PBB, kebocoran itu disebabkan oleh ratusan pon TNT atau bahan peledak.

Baca juga: Kebencian Warga Turki Semakin Tinggi, Pengungsi Suriah Bentuk Kafilah Cahaya Menuju Yunani

AS dan Jerman termasuk di antara negara-negara yang percaya sabotase terlibat.

Beberapa anggota parlemen senior di Jerman secara terbuka menuding Rusia.

Putin, pada bagiannya, telah melabeli insiden itu sebagai tindakan terorisme internasional.

Rusia sudah memperlambat ekspor gas alam ke Eropa sebelum pipa rusak.

Tetapi pasokan gas melalui dua pipa telah berhenti tanpa batas setelah kebocoran.

Nord Steam 1 memasok sekitar 35 persen dari impor gas Uni Eropa .

Meski begitu, Putin ingin terus menjual gas alam ke Eropa.

Energi telah menjadi pilar utama ekonomi Rusia, menyumbang lebih dari seperlima dari PDB.

Pekan lalu, dia mengatakan Rusia dapat terus memasok bahan bakar melalui rute alternatif, termasuk di bawah Laut Hitam yang berbatasan dengan Turki di selatan.

Baca juga: Iran Marah, Kirim Senjata ke Rusia Dapat Sanksi, Uni Eropa dan AS Bantu Ukraina Tanpa Sanksi Apapun

"Kita bisa memindahkan volume yang hilang dari Nord Streams di sepanjang dasar Laut Baltik ke wilayah Laut Hitam," kata Putin pada konferensi energi di Moskow pada 12 Oktober 2022..

"Ini akan menciptakan rute baru untuk pengangkutan gas alam ke Eropa melalui Turki, sehingga menciptakan pusat gas terbesar untuk Eropa di Turki," tambah Putin.

Dia juga menawarkan untuk mengirim gas alam ke Jerman melalui bagian pipa Nord Stream 2 yang tidak rusak, jika UE menginginkannya.

"Kami siap memasok volume tambahan pada periode musim gugur-musim dingin," jelasnya.

Tetapi pemerintah Jerman menolak mentah -mentah proposal untuk menggunakan Nord Stream 2 dengan mengatakan Rusia bukan lagi pemasok energi yang dapat diandalkan.

Ini bukan pertama kalinya Putin menyarankan penggunaan Nord Stream 2.

Bulan lalu, dia mengatakan UE dapat dengan mudah mengaktifkan pipa Nord Stream 2 yang baru jika menginginkan lebih banyak gas alam dari Rusia.

Nord Stream 2 tidak pernah memulai operasi komersial karena Jerman menangguhkan proyek beberapa hari sebelum Rusia menginvasi Ukraina pada 24 Februari.

Baca juga: Mantan Kanselir Jerman Angela Merkel Bela Keputusannya Beli Gas Rusia, Lebih Murah dari Negara Lain

Pembangunan pipa, yang membentang di bawah Laut Baltik dari Rusia ke Jerman, selesai pada September 2021 .

Alexander Novak, wakil perdana menteri Rusia sempat mengatakan ekspor gas ke UE turun sekitar 50 miliar meter kubik pada 2022, kantor berita Interfax melaporkan.

Ini akan menjadi sekitar sepertiga dari 155 miliar meter kubik gas Rusia yang diimpor UE pada tahun
2021, menurut data Badan Energi Internasional.(*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved