Kupi Beungoh
Merancang Masa Depan Aceh Utara; Buka Kebun, Aktifkan BLK, dan Tangani Banjir
Ketika megaproyek Aceh Utara berakhir, berakhir pula konflik di Aceh, ditandai dengan ditandatanganinya MoU di Helsinki, Finlandia, 15 Agustus 2005.
Oleh: Ridwan Yunus, SH*)
ACEH UTARA memiliki komplikasi permasalahan yang sulit untuk diuraikan.
Komplikasi permasalahan tidak terlepas dari riwayat konflik Aceh yang berkepanjangan.
Di Aceh Utara, konflik tersebut diperparah dengan kondisi sosial yang diakibatkan oleh hadirnya megaproyek pengeboran minyak yang menimbulkan mimpi berkepanjangan bagi rakyat Aceh Utara, namun tidak dibarengi dengan pendidikan dan kemampuan sehingga mimpi tidak pernah menjadi kenyataan.
Ramai juga yang mengklaim bahwa lahirnya konflik yang berkepanjangan di Aceh sangat erat kaitannya dengan mega proyek pengeboran minyak dan gas alam di Aceh Utara.
Memang sedikit membingungkan bila diuraikan, tetapi yang jelas konflik Aceh dimulai ketika megaproyek tersebut dimulai.
Dan ketika proyek tersebut habis, konflik Aceh juga berakhir, ditandai dengan ditandatanganinya Memorandum of Understanding (MoU) di Helsinki, Finlandia, 15 Agustus 2005.
Namun kondisi sosial di Aceh Utara tidak pernah terselesaikan sehingga megaproyek itu selesai.
Baca juga: KKB Papua Serang Pekerja Bangunan di Yahukimo, Bagaimana Nasib Megaproyek Fantastis di Papua?
Baca juga: Banyak Perusahaan di Lhokseumawe Masih Bayar Upah Karyawan di Bawah UMP
Kemiskinan dan Pengangguran
Kondisi sosial ini menjadi sebuah persoalan tersendiri dalam proses pembangunan karena ramai pejabat publik di Aceh Utara notabenenya dari dahulu ramai non-Aceh Utara.
Menghadapi situasi tersebut, Aceh Utara membutuhkan perubahan arah pembangunan yang ekstrim dan prorakyat, mengingat Aceh Utara berada di posisi ketiga termiskin se-Aceh.
Tidak cukup lagi dengan retorika dan janji “mangat” politik ketika kampanye karena sampai hari ini tidak ada perubahan yang membanggakan di Aceh Utara.
Sesuai dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020 Aceh Utara memiliki jumlah penduduk terbesar di Aceh yakni 602,793 ribu jiwa.
Sesuai dengan data BPS pula, Aceh Utara menyumbang pengangguran terbesar keempat yakni 8,56 persen.
Kalau kita menganalisa kondisi sumber daya alam, Aceh Utara memiliki luas wilayah mencapai 3.236,86 kilometer persegi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ridwan-yunus-aceh-utara.jpg)