Jurnalisme Warga
Mengenang Sosok dan Jasa Pak Kalam Daud
Sifat itulah yang saya amati pada diri pribadi Drs Mohd Kalam Daud MAg, selama saya bersahabat dengannya lebih dari 20 tahun
Ada tiga hal menarik dalam kitab Qawa’idul Islam.
Ia tertulis dalam tiga bahasa, yaitu bahasa Arab, Melayu, dan bahasa Aceh dalam jenis prosa.
Prof Ali Hasjmy berpendapat bahwa hampir semua bahasa Aceh tempo dulu tertulis dalam bentuk syair atau sanjak dan nyaris tidak ada dalam bentuk prosa.
Ternyata dalam Qawa’idul Islam saya jumpai bahasa Aceh dalam bentuk prosa.
Keunikan itulah yang mendorong saya berguru kepada Pak Kalam.
Hal ini disebabkan keterbatasan saya dalam memahami bahasa Arab.
Kebetulan kala itu Pak Kalam sedang disibukkan dengan menulis tesisnya di Program Pascasarjana UIN Ar-Raniry.
Setiap saya mampir ke rumahnya, selalu saya jumpai beliau sedang sibuk.
Walaupun demikian, saya tetap berkunjung ketika ada waktu luang.
Baca juga: Polres Kembali Aktifkan TAPS, Gunakan Bahasa Aceh
Di kala itu belum ada alat komunikasi yang canggih seperti sekarang semisal telepon seluler.
Oleh karena itu, setiap ke rumah Pak Kalam, saya selalu menyewa RBT/ojek.
Setelah dua tahun lamanya saya menunggu, barulah Pak Kalam dapat menyelesaikan tesisnya dan mulai ada kesempatannya membantu saya.
Seandainya saya tidak bersabar dalam menunggu dua tahun itu, tentu putuslah “jaringan” saya dengan Drs Mohd Kalam Daud MAg.
Hobi membaca Setahu saya, autobiografi pertama dalam bentuk syair bahasa Aceh ditulis oleh Pak Kalam.
Judulnya “Meudiyeueng Meulinteueng Meuampeueng Hudep”(Lintasan Hidup).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/TASAKTI-peminat-manuskrip-dan-sastra-Aceh-melaporkan-dari-Banda-Aceh.jpg)