Jumat, 5 Juni 2026

Jurnalisme Warga

Mengenang Sosok dan Jasa Pak Kalam Daud

Sifat itulah yang saya amati pada diri pribadi Drs Mohd Kalam Daud MAg, selama saya bersahabat dengannya lebih dari 20 tahun

Tayang:
Editor: bakri
FOR SERAMBINEWS.COM
TA. SAKTI, Pensiunan dosen Prodi Pendidikan Sejarah FKIP USK, melaporkan dari Dusun Lamnyong, Gampong Rukoh, Darussalam, Banda Aceh 

Ada tiga hal menarik dalam kitab Qawa’idul Islam.

Ia tertulis dalam tiga bahasa, yaitu bahasa Arab, Melayu, dan bahasa Aceh dalam jenis prosa.

Prof Ali Hasjmy berpendapat bahwa hampir semua bahasa Aceh tempo dulu tertulis dalam bentuk syair atau sanjak dan nyaris tidak ada dalam bentuk prosa.

Ternyata dalam Qawa’idul Islam saya jumpai bahasa Aceh dalam bentuk prosa.

Keunikan itulah yang mendorong saya berguru kepada Pak Kalam.

Hal ini disebabkan keterbatasan saya dalam memahami bahasa Arab.

Kebetulan kala itu Pak Kalam sedang disibukkan dengan menulis tesisnya di Program Pascasarjana UIN Ar-Raniry.

Setiap saya mampir ke rumahnya, selalu saya jumpai beliau sedang sibuk.

Walaupun demikian, saya tetap berkunjung ketika ada waktu luang.

Baca juga: Polres Kembali Aktifkan TAPS, Gunakan Bahasa Aceh

Di kala itu belum ada alat komunikasi yang canggih seperti sekarang semisal telepon seluler.

Oleh karena itu, setiap ke rumah Pak Kalam, saya selalu menyewa RBT/ojek.

Setelah dua tahun lamanya saya menunggu, barulah Pak Kalam dapat menyelesaikan tesisnya dan mulai ada kesempatannya membantu saya.

Seandainya saya tidak bersabar dalam menunggu dua tahun itu, tentu putuslah “jaringan” saya dengan Drs Mohd Kalam Daud MAg.

Hobi membaca Setahu saya, autobiografi pertama dalam bentuk syair bahasa Aceh ditulis oleh Pak Kalam.

Judulnya “Meudiyeueng Meulinteueng Meuampeueng Hudep”(Lintasan Hidup).

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved