Jurnalisme Warga
Mengenang Sosok dan Jasa Pak Kalam Daud
Sifat itulah yang saya amati pada diri pribadi Drs Mohd Kalam Daud MAg, selama saya bersahabat dengannya lebih dari 20 tahun
Segera saya berangkat mencari alamatnya lagi.
Barulah setelah delapan tahun waktu berlalu saya benar-benar menjumpai Pak Kalam Daud di Lorong Banna, Dusun Lamnyong, Gampong Rukoh, Darussalam, Banda Aceh.
Setelah tsunami Aceh 2004 beliau pindah ke rumah sendiri di Lorong Zakaria Yunus.
Saat pertama kami berjumpa, Pak Kalam sedang di hadapan komputer mencatat sesuatu.
Kemudian saat berkali- kali saya berkunjung ke kediamannya, dia selalu berada di teras rumah bersama laptop.
Ketika itulah saya berkesimpulan bahwa beliau orang yang rajin dan serius.
Namun, anggapan saya bahwa dia sudah lanjut usia teryata tidak benar.
Dia bahkan 3-4 tahun lebih muda dari saya.
Latihan bersabar Suatu ketika seorang mahasiswa menjumpai naskah lama (manuskrip) pada saat pembongkaran rumah tua di Kampung Tijue, Sigli, Pidie.
Semula manuskrip itu dibawa kepada seorang dosen IAIN Ar-Raniry.
Baca juga: Balai Bahasa Provinsi Aceh Luncurkan Kamus Budaya Aceh-Indonesia Berisi 1.800 Lema dan Sublema
Namun, beliau menyuruh mahasiswa membawanya lagi kepada saya.
Setelah saya periksa, dalam buku tebal itu terdapat beberapa judul karangan.
Saya tertarik kepada dua judul manuskrip dalam buku itu.
Pertama, karya Syekh Abdurrauf tentang zikir dan tarekat, yang pada tahun 1976 sudah pernah saya transliterasi ke huruf Latin.
Kedua, naskah yang berjudul “Qawa’idul Islam” yang oleh orang Aceh dinamakan “Kitab Bakeumeunan”, karena di dalamnya banyak dijumpai kata “bakeumeunan” (biarkan dulu).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/TASAKTI-peminat-manuskrip-dan-sastra-Aceh-melaporkan-dari-Banda-Aceh.jpg)