Jurnalisme Warga
Mengenang Sosok dan Jasa Pak Kalam Daud
Sifat itulah yang saya amati pada diri pribadi Drs Mohd Kalam Daud MAg, selama saya bersahabat dengannya lebih dari 20 tahun
OLEH TA. SAKTI, Pensiunan dosen Prodi Pendidikan Sejarah FKIP USK, melaporkan dari Dusun Lamnyong, Gampong Rukoh, Darussalam, Banda Aceh
BERPENAMPILAN bersahaja, sederhana, dan tenang.
Sifat itulah yang saya amati pada diri pribadi Drs Mohd Kalam Daud MAg, selama saya bersahabat dengannya lebih dari 20 tahun.
Orang yang biasa disapa Pak Kalam ini lahir di Cot Paleue Masjid, Kecamatan Simpang Tiga, Kabupaten Pidie, pada 6 Juli 1957.
Semasa hidupnya, dia Staf Pengajar UIN Ar-Raniry yang pada akhir Desember ini akan pensiun.
Namun, pada 12 Desember 2022/18 Jumadil Awal 1444 H pukul 09.15 WIB beliau berpulang ke rahmatullah.
Innalillahi wainna ilaihi raji’un.
Awal pertama saya mengenal nama beliau dalam rubrik Surat Pembaca Harian Serambi Indonesia tahun ’90-an.
Saat itu Pak Kalam menanggapi surat pembaca mengenai bahasa Aceh.
Saat membaca tulisan itu saya berpikir bahwa orang ini sudah tua, tapi cukup ahli bahasa Aceh.
Karena itu, saya mesti mencari tempat tinggalnya, yakni di Kampung Keuramat, Banda Aceh.
Begitulah, saya segera berangkat mencari alamat itu.
Baca juga: Kebangkitan Bahasa dan Sastra Aceh
Baca juga: USK dan Yayasan Malem Putra Gelar Pelatihan Bahasa Inggris untuk Lulusan Sarjana di Aceh
Teman-teman tetangga kos mengatakan bahwa Pak Kalam sudah pindah ke Darussalam tanpa diketahui alamat yang jelas.
Pencarian pertama berhenti di situ, tetapi upaya itu masih tetap saya teruskan pada kesempatan lain.
Setiap kali membaca pernak-pernik bahasa Aceh, langsung saya teringat nama Pak Kalam.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/TASAKTI-peminat-manuskrip-dan-sastra-Aceh-melaporkan-dari-Banda-Aceh.jpg)