Jurnalisme Warga
Sjamaun Gaharu, dari Pendidik hingga Militer
Gajinya memang kecil, tapi ada kelebihannya yang lebih penting daripada sekadar kekayaan materi.
Sebagai bentuk realisasi pembangunan kembali Aceh akibat perang berkepanjangan, seorang tokoh perjuangan nasional, Teuku Alibasyah (Talsya) menulis dalam Majalah Santunan (Nomor 47, September 1980) bahwa pada 1 Februari 1958 diadakan rapat yang membahas persoalan haluan dan ‘policy’ pembangunan pendidikan di Aceh yang telah jauh tertinggal.
Rapat ini diprakasai dan dipimpin oleh Penguasa Perang, Sjamaun Gaharu dan Gubernur Aceh, Ali Hasjmy. Rapat tersebut turut dihadiri oleh para staf lembaga dan orang-orang patut. Hasil dari rapat, terciptanya kesepakatan bersama untuk memajukan pendidikan di Aceh dan menjadikan pendidikan sebagai prioritas pembangunan.
Guna mempercepat realisasi, Talsya mencatat, disusun tiga landasan pokok yang mengandung perpaduan antarkomisi, yayasan, dan rakyat: 1) Komisi Pencipta sebagai badan, inspirasi, dan pencipta; 2) Yayasan Dana Kesejahteraan Aceh sebagai badan pelaksana; dan 3) Rakyat sebagai modal utama pembagunan raksasa Kompleks Pelajar Mahasiswa (Kopelma) Darussalam. (Santunan Nomor 47, September 1980) Pada 20 April 1959, dimulailah kerja bakti pembangunan Kopelma Darussalam dengan diayunkannya cangkul oleh Gubernur Ali Hasjmy, diikuti oleh Ketua DPRD, DPD, pegawai kantor gubernur, Jawatan Penerangan DI Aceh, RRI, Ketua, dan anggota YDKA.
Kemudian, 1 Mei 1959, Panglima Kodam Iskandar Muda, Sjamaun Gaharu dan Komandan KMK “G” Mayor A.K.I. Chourmain dimulai kerja gotong royong khusus bagi Angkatan Darat bersama para ibu Persit. (Teuku Muttaqin Mansur, dkk, 2020: 16-17).
Untuk menyukseskan pembangunan, Sjamaun Gaharu mengedepankan gotong royong. Senada dengan yang disampaikan anaknya, Mardy Gaharu (76 tahun) kepada saya via telepon (4 September 2021); aktif sebagai Konsultan di PT Pertamina, Jakarta.
Dalam obrolan tersebut ia mengatakan, Sjamaun Gaharu memprakasai pembangunan Koplema Darussalam dengan konsep gotong royong. Sebagaimana Sjamaun mengajak seluruh elemen masyarakat menyumbang apa pun, walau hanya sebatang pohon, satu kilo pasir, atau lainnya. Usaha ini dilakukannya agar timbul rasa memiliki dalam masyarakat terhadap Kopelma Darusalam.
Mardy menambahkan, sebagai pelajar, ia juga ikut serta dalam agenda ini. Waktu itu Mardy menyumbang beberapa keping battu bata untuk pembangunan Tugu Darussalam.
***
Amat banyak sumbangsih yang telah Sjamaun Gaharu sumbangkan terhadap bangsa Indonesia. Namun sayangnya, sejauh ini masih sangat sedikit publik yang mengetahui peran dan kontribusinya dalam mempertahankan kemerdekaan serta serangkaian agenda pembangunan Republik Indonesia yang melibatkannya. Maka, sudah selayaknya ia dijadikan tokoh yang dipanuti oleh segenap masyarakat, wa bil khusus bagi generasi muda Aceh.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/TM-ICHSAN-OKE.jpg)