Kupi Beungoh

Perubahan Iklim Dan Krisis Pangan

Pembakaran bahan bakar fosil telah merusak lapisan ozon sehingga mengakibatkan terjadinya pemanasan global

Editor: Muhammad Hadi
FOR SERAMBINEWS.COM
Iswadi, alumni “Magister Hukum dan Kebijakan Lingkungan di University Of New South Wales, Australia 

Oleh: Iswadi *)

Alam sedang tidak baik-baik saja. Beberapa hari lalu, kita disuguhkan oleh berita yang membuat kita khawatir.

Harian Serambi Indonesia dan beberapa media nasional memuat berita tentang krisis kemanusiaan di Papua Tengah. Beberapa masyarakat Papua Tengah meninggal karena kelaparan dan gangguan kesehatan.

Krisis kemanusiaan yang terjadi di Papua Tengah disebabkan oleh bencana kekeringan akibat cuaca panas yang sedang melanda wilayah Indonesia akhir-akhir ini. Di Papua Tengah krisis serupa sudah sering terjadi dan setiap tahunnya semakin parah.

Sebenarnya tidak hanya di Papua Tengah, kejadian serupa juga terjadi di belahan dunia lainnya, misalnya negara-negara di benua Afrika. Krisis kemanusiaan terjadi akibat degradasi lingkungan karena perubahan suhu bumi.

Kegiatan manusia yang bersifat eksploitatif, khususnya sejak terjadinya revolusi industri pada abad ke-18 hingga kini, telah berdampak pada ranah yang sekalipun tak disentuh langsung oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari, yaitu lapisan ozon.

Baca juga: Barak Pekerja PT Satya Agung Aceh Utara Rusak Diterjang Angin Puting Beliung

Pembakaran bahan bakar fosil telah merusak lapisan ozon sehingga mengakibatkan terjadinya pemanasan global.

Pemanasan global merupakan penyebab terjadinya perubahan iklim, yaitu fenomena perubahan suhu muka bumi dan pola cuaca jangka panjang yang memicu terjadinya bencana ekologis yang sangat intens di berbagai belahan dunia, hingga berdampak pada rusaknya alam dan krisis sosial, salah satunya adalah kelaparan.

Cuaca Ekstrem

Perubahan iklim akan membuat cuaca ekstrim semakin sering terjadi. Berubahnya suhu muka bumi ini dapat meningkatkan siklus terjadinya El-Nino Southern Oscillation (ENSO).

Dalam banyak literatur ilmiah disebutkan bahwa pada umumnya siklus ekstrim ENSO terjadi per 5-7 tahunan, tetapi perubahan iklim akan membuatnya lebih sering yaitu per 2-5 tahunan.

Fenomena ENSO terdiri dari tiga fase: El Nino, La Nina, dan Netral. El Nino dan La Nina berdampak buruk bagi sektor pangan. El-Nino menyebabkan kekeringan.

Sementara La-Nina pemicu terjadinya banjir. Baru-baru ini, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat bahwa setelah tiga tahun berturut-turut kita berada dalam fase La Nina, sekarang kita akan menghadapi fase El Nino. Artinya dulu kita sering mengalami banjir sekarang memasuki fase kekeringan.

Saat ini hampir semua wilayah di Indonesia terkena dampak ENSO, salah satunya Aceh. Februari lalu, BMKG mengumumkan bahwa Aceh mengalami perubahan Zona Musim dari semula 5 (lima) menjadi 15 (lima belas).

Baca juga: Belum Genap Sebulan Menikah, Ini Alasan Ibu Kevin Minta Anaknya Ceraikan Mariana

Sehingga, kondisi Aceh yang seharusnya sudah memasuki musim kemarau, tetapi masih diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi. Begitu juga sebaliknya.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved