Kupi Beungoh

Perubahan Iklim Dan Krisis Pangan

Pembakaran bahan bakar fosil telah merusak lapisan ozon sehingga mengakibatkan terjadinya pemanasan global

Editor: Muhammad Hadi
FOR SERAMBINEWS.COM
Iswadi, alumni “Magister Hukum dan Kebijakan Lingkungan di University Of New South Wales, Australia 

Anomali iklim tersebut berdampak pada penurunan hasil panen hingga menyusutnya lahan akibat rusak karena bencana banjir.

Misalnya berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), akibat banjir di sebagian daerah di Aceh beberapa waktu lalu, luas area panen sawah berkurang dari 297.000 hektar di 2021 menjadi 276.000 hektar di 2022. Sehingga jumlah produksi padi pun ikut menurun.

Krisis Pangan

Produksi pangan terus mengalami penurunan akibat bencana semakin sering terjadi. Disisi lain kebutuhan pangan semakin meningkat karena jumlah penduduk terus bertambah.

Kita akan menghadapi fenomena Feeding Frenzy dimana jumlah konsumen lebih banyak daripada  pangan itu sendiri.

Badan Pangan Dunia (WFP) mengungkapkan bahwa saat ini sekitar 345 juta orang berada dalam kategori kekurangan pangan akut (acute food insecurity) di 82 negara.

Dimana masyarakat tidak memiliki cukup makanan untuk dikonsumsi dan berada dalam posisi rentan kelaparan.

Indonesia sendiri saat ini berada dalam kategori tingkat kelaparan moderat berdasarkan data dari Global Hunger Index. Artinya sebagian masyarakat Indonesia masih tidur dalam keadaan lapar di malam hari. Dan stunting (gagal tumbuh) pada anak-anak kita masih terjadi. 

Di tengah tingginya angka kelaparan dan kekurangan pangan yang disebabkan oleh berbagai faktor, perubahan iklim memperparah status quo.

Baca juga: Tanggapi Panic Buying di Malaysia, Mendagri Ingatkan Dampak Fenomena El Nino

Perubahan iklim mengubah geopolitik pangan dunia. Setiap negara mulai mengantisipasi dampak perubahan iklim terhadap ketahanan pangan mereka.

Negara-negara produsen pangan terbesar mulai mengurangi dan bahkan menghentikan ekspor komoditas pangannya ke negara lain guna menjaga ketahanan pangannya sendiri.

Tentu hal tersebut berdampak bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional.

Baru-baru ini misalnya, Vietnam mengurangi ekspor beras untuk memastikan ketahanan pangan nasionalnya dalam menghadapi dampak perubahan iklim.

Beberapa waktu lalu India juga pernah menghentikan ekspor gandum karena gagal panen yang disebabkan oleh gelombang panas yang berkepanjangan melanda India. Pada saat itu, hampir semua negara yang bergantung pada India terkena dampak, termasuk Indonesia.

Adaptasi

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved