Kupi Beungoh
Pendidikan dan Tantangan Teknologi
Bangsa-bangsa yang telah mengalami kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi ini dapat dipastikan pendidikannya juga telah demikian maju
Senada dengan pandangan pihak sekolah, sebagian besar orang tua juga membeberkan temuannya yang tidak kalah dahsyatnya terhadap apa yang menimpa anak-anak mereka di rumah, sehingga sampai pada satu kesimpulan yang klop, yaitu para wali siswa sepakat melarang gadget dibawa ke sekolah.
Bijak dan cerdas
Bagai mengusung satu tema besar bahwa smartphone telah menjadi musuh bersama wali siswa terhadap anak-anak mereka, sehingga kesepakatan untuk melarang pemakaian di sekolah bagai sebuah perjuangan yang begitu dramatis.
Sebelum palu keputusan di ketok oleh kepala sekolah, dalam suasana yang semakin bersemangat, seakan wali siswa yang hadir sedang merayakan sebuah referendum yang telah lama dinanti-nantikan.
Namun bersamaan dengan itu, masih ada diantara wali siswa yang merasa keberatan terhadap keputusan yang akan ditempuh itu.
Dari sudut deretan kursi paling belakang bangunlah dari kursi duduknya seseorang yang telah memegang microphone dan langsung berbicara dengan lantang.
Pria tegap berkulit gelap itu mengatakan; “saya tidak setuju dengan pendapat bapak dan ibu yang melarang anak-anak kita membawa gadget ke sekolah. Mereka adalah generasi milenial, generasi era revolusi industri 4.0, smartphone bagi mereka adalah nyawa.
Baca juga: Wisata Aceh Tengah di Mata Perantauan Gayo
Tanpa smartphone mereka akan mati, tidak bisa berbuat apapun. Gadget itu hanya sebuah perangkat, alat atau media yang bernilai dan penting bagi mereka.
Gadget itu bukan benda berbahaya. Ia tidak akan bisa membunuh anak-anak kita. Kita manusialah yang menentukan baik-buruknya.
Karena itu kita tidak perlu melarangnya, kita hanya perlu mengajari bagaimana menggunakannya pada kebaikan dan kepentingan mengakses ilmu pengetahuan”.
Suasana menjadi hening sesaat, namun kemudian muncul desas-desus, suara bisik-bisik sejumlah orang tua yang merasa ketus terhadap “perlawanan” kesepakatan mereka, sedikit mengubah suasana ruang pertemuan itu.
Beberapa saat kemudian, kepala sekolah dengan menggunakan otoritasnya mengambil keputusan bahwa kendati ada sisi manfaat menggunakan smartphone di sekolah namun mudharatnya lebih banyak.
Akhirnya satu hal diputuskan juga bahwa mulai semester depan siswa tidak lagi dibenarkan membawa perangkat komunikasi canggih itu ke sekolah.
Keputusan final ini didukung oleh ketua komite dan wali siswa secara dominan. Sementara sang “penolak” tadi secara perlahan menarik diri dan harus mengakui suara terbanyak.
Walaupun sebelumnya ia telah menawarkan satu solusi kepada sekolah agar smartphone dijadikan sebagai alat dan media pembelajaran sebagaimana yang terjadi di negara-negara maju yang pernah ia kunjungi dan melihat secara langsung bagaimana smartphone bernilai positif bagi siswa di sana.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Muhibuddin-Hanafiah_Penulis-dan-Dosen-di-UIN-Ar-Raniry-Darussalam-Banda-Aceh.jpg)