Kupi Beungoh

Pendidikan dan Tantangan Teknologi

Bangsa-bangsa yang telah mengalami kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi ini dapat dipastikan pendidikannya juga telah demikian maju

Editor: Muhammad Hadi
FOR SERAMBINEWS.COM
Muhibuddin Hanafiah, Penulis dan Dosen di UIN Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh 

Akibat dari kesepakatan ini, maka sejumlah konsekuensi harus dipenuhi oleh pihak sekolah. Terutama tentang hal-ihwal yang berhubungan dengan pemanfaatn smartphone sebagai pendukung kegiatan pembelajaran selama ini.

Misalnya ketersediaan komputer (PC) yang terkoneksi langsung dengan jaringan internet yang ditempatkan di sejumlah lokasi sehingga memudahkan siswa untuk mengaksesnya untuk kepentingan penyelesaian tugas-tugas pembelajaran.

Baca juga: Rocky Gerung vs Moeldoko : Anomie, Anarki, dan Despotik Mayoritas - Bagian II

Para guru di sekolah juga harus mengadaptasikan metode pembelajaran yang selama ini sangat terikat dengan pemanfaatan perangkat teknologi yang dimiliki siswa secara online di kelas.

Dan satu hal lagi yang mungkin belum terpikirkan atas keputusan bersama ini adalah bagaimana nanti siswa mengakses layanan transportasi online untuk kepentingan pulang dari sekolah bila suatu keadaan dibutuhkan?

Apakah pihak sekolah akan menyediakan perangkat khusus untuk kebutuhan ini?  Jika iya apakah akan bisa terlayani semua siswa?

Kemungkinan permasalahan seperti ini akan dibicarakan oleh pihak sekolah dengan siswa secara langsung. Sebab, pihak sekolah masih butuh waktu sekitar satu minggu untuk mengadakan sosialisasi ini dengan siswa.

Kemungkinan pembicaraan ke arah permasalahan di atas akan ditanyakan siswa kepada pihak sekolah.

Kita berharap semoga ada solusi terbaik sehingga energi siswa, wali siswa, komite dan guru tidak terkuras pada masalah ini saja. Masih banyak perihal lain yang harus dipikirkan oleh semua stakeholder pendidikan.

Mencari solusi

Pertanyaan yang kemudian muncul di benak kita adalah bagaimana dengan alternatif yang harus ditempuh oleh sekolah-sekolah di pelosok Aceh jika dihadapkan pada masalah serupa di atas?

Dimana akses ke dunia maya hanya bisa dilakukan melalui smartphone secara individual. Sementara untuk menyediakan sejumlah unit komputer yang memilika jaringan wify sangat terbatas—untuk tidak mengatakan tidak ada sama sekali.

Maka larangan membawa smartphone ke sekolah menjadi dilematis tidak saja bagi siswa tetapi juga bagi guru.

Pilihannya tidak lain adalah mengurangi ketergantungan kepada perangkat teknologi tersebut dan kembali memanfaatkan media manual, referensi cetak dan mengakrabkan metode pembelajaran dunia nyata (lingkungan sekitar) di sekolah.

Baca juga: Ini Enam Bukti Sejarah Kejayaan Kerajaan Aceh Masa Sultan Iskandar Muda Antara 1607-1636 M

Dalam keadaan seperti ini, semua elemen di sekolah menjadi titik pusat pendidikan. Siswa, guru, buku dan lingkungan sekolah menjadi subjek utama pendidikan yang ril dan tersentuh.

Tanpa smartphone di genggaman, siswa menjadi lebih leluasa membangun jejaring sosial secara nyata dan langsung tanpa perantara dengan siapapun di lingkungan sekolah.

Kebersamaan, keperduliaan dan sikap kooperatif terbentuk dengan sendirinya di kalangan siswa. Dimensi pengembangan interaksi sosial inilah yang telah tergerus selama ini akibat dari hadirnya perangkat komunikasi dan informasi “cerdas” tapi membunuh karakter sosial manusia.

Dampak merenggangnya hubungan sosial antar individu manusia tentu tidak saja terjadi di kalangan siswa, bahkan antar guru di sekolah, antar orang tua di rumah justru menjadi masalah yang belum ada solusinya hari ini.

Nah, konon lagi jika hal ini dibiarkan terjadi di lingkungan lembaga pendidikan.

*) PENULIS dan Dosen di UIN Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved