Kupi Beungoh
Pendidikan dan Tantangan Teknologi
Bangsa-bangsa yang telah mengalami kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi ini dapat dipastikan pendidikannya juga telah demikian maju
Pergulatan dengan masalah mendasar belum bisa teratasi, masalah krusial dan genting lainnya kini menjadi dilema baru dan mendera pendidikan di Indonesia.
Salah satunya adalah serangan virus perusak generasi melinial, yaitu berupa kecanduan terhadap penyalahgunaan teknologi android di kalangan siswa di sekolah.
Cerita tentang bagaimana siswa menyalahgunakan smartphone ketika pembelajaran berlangsung di sekolah bukan lagi hoax, melainkan fakta yang meresahkan dunia pendidikan sampai ke pelosok di negeri ini.
Berbagai pendekatan telah ditempuh pihak sekolah, mulai dari himbauan persuasif sampai kepada penegakan aturan ketat yang melarang keras siswa membawa smartphone ke sekolah.
Memang harus diakui bahwa keterikatan generasi melinial terhadap perangkat teknologi informasi dan komunikasi ini sulit dipisahkan.
Namun masalahnya generasi kita belum siap secara positif memanfaatkan kemajuan teknologi untuk mengakses ilmu pengetahuan, sains dan ilmu humanihora lainnya.
Sebagian besar masyarakat di negara berkembang belum mampu mengimbangi sentuhan teknologi kepada sasaran yang bermanfaat bagi dunia pendidikan.
Baca juga: Tidak Dukung Ganjar Sebagai Capres, Batal Jadi Caleg DPR RI dari PPP
Konon lagi di kalangan anak-anak dan remaja yang masih cenderung mengakses konten yang kurang berguna bagi pendidikan, bahkan bisa merusak mental mereka.
Baru-baru ini di sebuah sekolah menengah atas unggulan di Banda Aceh diadakan rapat silaturrahmi antara pihak sekolah, komite sekolah dan wali siswa sekaligus pembagian rapor tengah semester.
Sebelum rapor dibagikan, pihak sekolah dan komite meminta wali siswa untuk menyampaikan pandangan mereka terhadap rencana sekolah yang akan melarang siswa membawa smartphone (handphone android) ke sekolah.
Sebab, sekolah ini merupakan satu-satu sekolah menengah atas yang mengizinkan siswa membawa smartphone ke sekolah.
Namun dalam perjalanannya, kebijakan sekolah ini sudah mulai menuai kritikan dari sebagian orang tua siswa.
Hingga akhirnya kebijakan ini ditanggapi pihak sekolah dan akhirnya dibawa ke pertemuan ini. Dengan segala argumentasi dampak negatif penggunaaan gadget di sekolah disampaikan secara serius dalam pertemuan itu.
Kepala sekolah memaparkan sejumlah kasus yang terjadi pada siswa yang sudah sampai pada taraf kecanduan game online yang digunakan tanpa batas waktu.
Baca juga: Aceh dan Kepemimpinan Militer (VII) Al Mukammil: Hard Power dan Shock Therapy
Sehingga sebagian siswa mengantuk saat jam pembelajaran, di samping ada juga siswa yang nekat hengkang dari sekolah saat pembelajaran berlangsung hanya untuk online dengan rival gamers lainnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Muhibuddin-Hanafiah_Penulis-dan-Dosen-di-UIN-Ar-Raniry-Darussalam-Banda-Aceh.jpg)