Kajian Kitab Kuning

Hukum Baca Doa Pakai Bahasa Aceh dalam Shalat

Bolehkah membaca doa menggunakan bahasa Aceh, atau bahasa lain selain bahasa Arab, di dalam shalat?

Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/MUHAMMAD HADI
FOTO ILUSTRASI - Bolehkan baca doa pakai bahasa Aceh dalam shalat 

Adapun jika doa dan zikirnya itu ma’tsur, maka ada tiga pendapat dalam masalah ini di kalangan ulama Syafi’iyah.

Pendapat pertama, bagi yang tidak mampu membaca dalam Bahasa Arab, maka ia boleh membaca terjemah dari doa dan zikir tersebut.

Jika ia mampu dalam Bahasa Arab dan tetap memakai terjemah, shalatnya batal.

Pendapat kedua, boleh membaca terjemah bagi yang mampu dalam Bahasa Arab ataupun tidak.

Pendapat ketiga, tidak dibolehkan membaca terjemah baik yang mampu dalam Bahasa Arab ataupun tidak, karena pada saat itu tidak darurat.

Al-Khatib al-Syarbaini mengatakan:

وَيُتَرْجِمُ لِلدُّعَاءِ) الْمَنْدُوبِ (وَالذِّكْرِ الْمَنْدُوبِ) نَدْبًا كَالْقُنُوتِ وَتَكْبِيرَاتِ الِانْتِقَالَاتِ وَتَسْبِيحَاتِ الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ (الْعَاجِزُ) لِعُذْرِهِ (لَا الْقَادِرُ) لِعَدَمِ عُذْرِهِ (فِي الْأَصَحِّ) فِيهِمَا كَالْوَاجِبِ لِحِيَازَةِ الْفَضِيلَةِ. وَالثَّانِي: يَجُوزُ لِلْقَادِرِ أَيْضًا لِقِيَامِ غَيْرِ الْعَرَبِيَّةِ مَقَامَهَا فِي أَدَاءِ الْمَعْنَى. وَالثَّالِثُ: لَا يَجُوزُ لَهُمَا، إذْ لَا ضَرُورَةَ إلَيْهِمَا، بِخِلَافِ الْوَاجِبِ،

Dianjurkan bagi yang tidak mampu dalam Bahasa Arab menterjemahkan doa dan zikir yang sunnah seperti qunut, takbir intiqalat, tasbih rukuk dan sujud, karena keuzurannya, tidak boleh bagi yang mampu, karena tidak ada uzur menurut pendapat yang lebih shahih, sama halnya seperti doa dan zikir wajib, guna memperoleh fadhilah.

Pendapat kedua, boleh bagi yang mampu juga, karena diposisikan selain Bahasa Arab pada posisi Bahasa Arab dalam pengungkapan makna.

Pendapat ketiga, tidak boleh sama sekali, baik bagi yang mampu maupun yang tidak mampu, karena tidak dharurat, berbeda dengan doa dan zikir wajib.
 
Kemudian al-Khatib al-Syarbaini menjelaskan:

فَإِنَّ الْخِلَافَ الْمَذْكُورَ مَحَلُّهُ فِي الْمَأْثُورِ.أَمَّا غَيْرُ الْمَأْثُورِ بِأَنْ اخْتَرَعَ دُعَاءً أَوْ ذِكْرًا بِالْعَجَمِيَّةِ فِي الصَّلَاةِ فَلَا يَجُوزُ

Sesungguhnya khilafiyah tersebut, posisinya pada yang ma’tsur. Adapun yang tidak ma’tsur dengan mengada-ada doa atau zikir dalam bahasa ‘ajamiyah (bukan Bahasa Arab) dalam shalat adalah tidak boleh. (Mughni al-Muhtaj I/384-385)
 
Penjelasan yang sama juga telah dikemukakan oleh Imam al-Ramli dalam Nihayah al-Muhtaj: I/534-535.

Setelah mengemukakan khilafiyah ulama Syafi’iyah dalam hal menterjemahkan zikir da doa yang ma’tsur dalam shalat, Jalaluddin al-Mahalli menegaskan,

ثُمَّ الْمُرَادُ الدُّعَاءُ وَالذِّكْرُ الْمَأْثُورَانِ، فَلَا يَجُوزُ اخْتِرَاعُ دَعْوَةٍ أَوْ ذِكْرٍ بِالْعَجَمِيَّةِ فِي الصَّلَاةِ قَطْعًا

Kemudian yang menjadi maksud dalam khilafiyah diatas adalah doa dan zikir yang ma’tsur. Karena itu, tidak boleh membuat-buat doa dan zikir (yang tidak ma’tsur) dalam bahasa ‘ajamiah (selain Bahasa Arab) dalam shalat tanpa khilaf. (Syarah al-Mahalli 1/192)
 
2.   Doa dan zikir tidak ma’tsur

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved