Opini

Dilema Suami Homoseksual

Miris melihat fenomena ini, di saat pasangan mendambakan keindahan dan kebahagiaan tatkala menyatu dengan pasangannya sehingga fitrah dan naluri seksu

Editor: mufti
IST
Agustin Hanapi 

Islam memberikan perhatian luar biasa kepada pemeluknya untuk dapat menyalurkan naluri biologisnya melalui pernikahan dan ini merupakan anugerah yang sungguh luar biasa maka sungguh aneh ketika ada yang menyimpang dari fitrah suci nan indah ini. Suami yang seperti ini telah menjerumuskan dirinya ke jurang yang hina, tidak lagi memiliki rasa malu terhadap sesama, dorongannya kerap menuntut untuk terus melakukan aktfitas terkutuknya meski banyak mata yang melihat dan menyaksikan.

Keluarga yang memiliki seorang pemimpin rumah tangga penyuka sesama jenis diyakini tidak akan memperoleh kebahagian karena istri mengalami penderitaan batin yang begitu berat, ketidakpercayaan terhadap suami, keresahan dan kegelisahan, ditambah rasa malu yang harus ditanggung bersama anak-anaknya sehingga kebahagiaan yang didambakan tidak pernah terwujud.

Untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan di atas, maka sebelum menikah kita perlu mengenali calon pasangan dengan mengamati aktivitas kesehariannya, menanyakan masyarakat dan tetangga tempat ia tinggal, mengintip media sosial dan akun lain yang ia punya, peka terhadap karakter, pergaulan serta ciri-ciri yang menunjukkan keanehan dan hal lain yang tidak lazim.

Penyuka sesama jenis memiliki kejanggalan seperti suka memberikan perhatian khusus dan berbeda kepada kawan lelakinya, selalu terobsesi dengan lelaki, jarang dan hampir tidak pernah membicarakan tentang perempuan, memandang lelaki penuh dengan penghayatan dan tatapan.

Suka, senang memeluk dan meraba atau menyentuh lelaki lainnya seperti bahasa kasih yang harus ditunaikan, selain itu gaya berpakaian yang stedi atau selalu rapi dan gerak tubuh yang cenderung lebih gemulai. Ada kecenderungan untuk merasa cantik dalam dirinya bahkan lebih cantik dari perempuan, atau gagah namun lembut dan ingin mengayomi dan melindungi pasangan laki-lakinya, kerap membela teman lelakinya yang merupakan pasangannya. Terlihat sangat mesra dan berbinar matanya jika melihat lelaki atau pasangannya.

Maka harus cerdas dan teliti sebelum menerima lamaran calon pasangan hidup, jangan kita hanya berfokus melihat pada status, harta, fisik dan nasab tetapi bagaimana sepak terjangnya di masyarakat dan kesehariannya dalam bermuamalah.

Ketika tahu ada indikasi menyimpang, lebih baik menolak dan mengabaikan lamarannya, jangan pernah  berpikir bahwa dia akan berubah seketika begitu menikah dengannya. Namun membutuhkan perjuangan panjang dan usaha keras, bantuan banyak pihak serta biaya besar agar dapat berubah itu pun jika dibarengi dengan kesadaran penuh dari yang bersangkutan bahwa dia sedang menderita sakit  dan tidak normal agar keluar dari jeratan homoseksual.

Untuk itu selektiflah dalam memilih calon pasangan hidup, dan jika ternyata setelah berumah tangga baru disadari bahwa suami homo dan menyimpang maka diskusikan secara baik-baik lalu mengajaknya ke psikolog atau psikiater dan lainnya agar bisa sembuh. Jika tidak, maka lebih baik melepaskannya karena sulit mengantarkan kita untuk sampai pada gerbang samara sebagaimana yang diharapkan.
Jangan sampai pernikahan suci nan kokoh dambaan kita ternoda oleh penyakit sosial yang sungguh mengecewakan itu.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved