Minggu, 12 April 2026

Jurnalisme Warga

Meriam Lada Sicupak dan Keteguhan Aceh untuk Kebebasan

Banyak literasi yang menuliskan bahwa meriam Lada Sicupak yang berarti “Segenggam Lada” memiliki cerita sendiri dalam penamaannya yang membuat saya se

Editor: mufti
SERAMBINEWS/FOR SERAMBINEWS.COM
MELINDA RAHMAWATI, Mahasiswi Pendidikan IPS, Sekolah Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA, melaporkan dari Jakarta 

MELINDA RAHMAWATI, Mahasiswi Pendidikan IPS, Sekolah Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA, melaporkan dari Jakarta

Historikal sejarah Aceh tidak dipungkiri sering membuat saya tergelitik untuk mengkajinya. Teriring rasa syukur tidak terkira di suatu sore tanggal 2 Desember 2023, saya mendapat berita gembira melalui Instagram. Berita itu menyebut, tanggal lahir salah satu tokoh perempuan Aceh yang saya kagumi, Laksamana Malahayati, kini menjadi salah satu perayaan internasional.

Sekalipun membuat saya tergerak untuk mengunjungi makamnya di Lamreh, Aceh Besar sana, akan tetapi saya mencoba terus menyadari dan bersabar akan ada saatnya saya akan ke sana. Namun kali ini, pusat perhatian saya tidak sepenuhnya tertuju pada tokoh laksamana laut perempuan pertama tersebut. Terdapat satu bagian kecil dari sejarah Kesultanan Aceh yang sangat populer di kalangan peneliti sejarah internasional, bagian itu adalah meriam Lada Sicupak.

Para mahasiswa pendidikan sejarah di pelbagai kampus yang ada di Aceh maupun masyarakat lokal lainnya tidak asing saat disebutkan nama senjata tersebut. Salah satu senjata yang menjadi simbol hubungan diplomatik antara Kesultanan Turki Usmani dengan Aceh yang sudah dimulai sejak 1560-an saat pemerintahan Sultan Alauddin Riayat Syah Al-Qahhar.

Kesultanan Aceh Darussalam dalam era kejayaannya telah menjalin hubungan bilateral dengan berbagai bangsa asing dalam perdagangan rempah dan barang dagang lainnya. Dalam beberapa catatan, saat Kesultanan Malaka diduduki oleh Portugis, Sultan Husain Ali Riayat Syah mengirim utusan untuk menghadap Sultan Selim II di Turkiye. Tujuannya hendak memohon bantuan melawan Portugis dan merebut kembali jalur perdagangan Selat Malaka yang dimonopoli oleh mereka. Permintaan itu dikabulkan Sultan Selim II dengan mengirimkan senjata dan tentara-tentara terbaiknya untuk membantu misi penyerangan tersebut.

Banyak literasi yang menuliskan bahwa meriam Lada Sicupak yang berarti “Segenggam Lada” memiliki cerita sendiri dalam penamaannya yang membuat saya semakin tergelitik untuk menelusuri literatur tentangnya.

Hikayat Meukuta Alam mencatatkan peristiwa tersebut dengan menyebut, Sultan Iskandar Muda mengutus perwakilan menghadap Sultan Ottoman dengan misi membantu melindungi Tanah Suci Makkah dan Madinah. Hanya saja, medan lautan yang ditempuh membuat mereka kehabisan perbekalan beras yang dibawa. Sedangkan muatan kapal berisi lada yang diniatkan sebagai hadiah persembahan kepada sultan terpaksa dijual, hingga akhirnya tersisa hanya segenggam lada saja.

Dengan senang hati Sultan Ottoman menerima segenggam lada dan menghargai kejujuran para utusan dari Kesultanan Aceh tersebut. Sebagai hadiah balasan, Sultan Ottoman mengirim para ahli pembuat senjata untuk memperkuat pertahanan Kesultanan Aceh. Dari sanalah hadir meriam Lada Sicupak yang menjadi ikon legendaris di antara sederetan persenjataan yang dimiliki oleh Kesultanan Aceh Darussalam untuk melawan Portugis.

Pada Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) 8 yang lalu, neriam Lada Sicupak ini pula yang terpilih sebagai maskot  PKA 8, meski ada beberapa maskot lain yang diikutsertakan dalam lomba.

Saya mengakui satu fakta mendasar dalam filtrasi bacaan tentang meriam ini. Dalam buku berjudul “Kesultanan Aceh dan Turki: Narasi Sejarah dan Ingatan Lokal” karya Mehmed Ozay tahun 2014, menjadi gerbang masuk petualangan saya dalam menelusuri catatan tentang meriam bersejarah ini dan jejak keemasan negeri di ujung Pulau Sumatra ini.

Hubungan diplomasi antara Kesultanan Turki Usmani dan Kesultanan Aceh Darussalam memang berawal dari perdagangan lada. Menilik garis waktu yang lebih jauh, kondisi persaingan dagang melawan Portugis di Malaka yang menyebabkan jatuhnya kerajaan-kerajaan di Tanah Melayu itu, tentu saja Kerajaan Samudera Pasai masa itu segera mengambil sikap untuk melawan Portugis yang sudah memonopoli perdagangan di selat tersibuk itu. Meskipun Kerajaan Samudera Pasai akhirnya runtuh dan berganti dengan Kesultanan Aceh Darussalam yang dipimpin oleh Sultan Ali Mughayat Syah tahun 1530 M, akan tetapi perjuangan untuk sebuah kebebasan tidak sekalipun padam. Dengan pelbagai cara kebebasan tersebut diupayakan dari cara diplomasi hingga peperangan. Para pemimpin Aceh masa itu sangat menyadari penuh makna kebebasan dan kesetaraan dalam hubungan antarmanusia. Sehingga, ketika tampak suatu kezaliman yang nyata, maka kebebasanlah yang harus diperjuangkan.

Tidak mengherankankan dalam tinjauan buku yang ditulis Jajat Burhanudin tahun 2016 berjudul “Pasang Surut Hubungan Aceh dan Turki Usmani: Perspektif Sejarah” menuliskan, meski serangan melawan Portugis di Malaka gagal, hubungan diplomatik antara Kesultanan Turki Usmani dan Kesultanan Aceh terus berlanjut. Sekalipun dalam Perang Aceh melawan Belanda, Kesultanan Turki Usmani tidak kembali hadir mengirimkan bantuan untuk perjuangan rakyat Aceh. Namun, jejak peninggalannya masih ada dan merekam semua peristiwa yang pernah terjadi antara dua kesultanan tersebut.

Hubungan diplomasi antara Kesultanan Turki Usmani dan Aceh hanyalah segelintir hubungan diplomatik yang bersinggungan langsung dengan jalur perdagangan rempah, sekaligus memperjuangkan kebebasan sebagai negeri yang berdaulat.

Dalam berbagai catatan hubungan diplomatik dengan bangsa luar, kita melihat sebuah hubungan yang setara. Saat negara luar menjalin hubungan dagang di Aceh, terdapat juga kebudayaan luar yang dibawa dan dimanfaatkan oleh Kesultanan Aceh.

Dalam situs tarmiziahamid.com, kertas-kertas Eropa yang digunakan oleh para ulama Aceh untuk menulis kitab dan lainnya, serta tinta khusus yang terbuat dari rendaman biji besi yang jelas sangat berkualitas, menjadi salah satu bukti kemajuan peradaban Kesultanan Aceh Darussalam berkat hubungan diplomasi yang terjalin.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved