Sabtu, 30 Mei 2026

Jurnalisme Warga

Mengunjungi Pengungsi Rohingya di Balai Meuseuraya Aceh

Setelah sampai di sana saya melihat Abah turun dari mobil dan melapor kepada bapak polisi yang berjaga di situ. Tampak dari kejauhan Abah berbincang d

Tayang: | Diperbarui:
Editor: mufti
IST
Safa Banat Jamilah, siswa kelas VII MTs Baitul Arqam melaporkan dari Banda Aceh 

Saat pemeriksaan, banyak pengungsi yang sakit, terutama banyak pasien yang sakit kulit, kudis di bekas-bekas luka mereka, batuk, dan pilek. Kondisi mereka pun kotor dan tidak terawat. Anak-anak di sana tidak menggunakan sandal atau alas kaki.

Bukan hanya Shabir, ada lagi pengungsi yang bernama Rafiq yang bisa bercakap-cakap dalam bahasa Inggris, tetapi tidak begitu lancar.

Di saat pemeriksaan singkat itu, ada seorang ibu yang kondisinya gawat darurat dan harus dibawa ke rumah sakit. Kata para sukarelawan yang saya dengar, ibu tersebut akan dibawa ke rumah sakit di Darussalam.

Banyak anak dan perempuan yang berada di sana dengan kondisi yang tidak bagus dan tidak aman. Saya berharap segera ada solusi untuk persoalan mereka. Saya juga mendengar banyak orang-orang yang marah atas kehadiran mereka di Indonesia, khususnya di Aceh. Namun, saya tidak setuju jika ada yang menyerang dan mengatakan hal-hal kasar dan buruk terhadap mereka.

Dalam pelajaran agama yang saya dapatkan selama saya bersekolah, mereka termasuk golongan kaum tertindas atau mustad’afin. Selayaknya sebagai muslim kita membantu mereka, kalaupun kondisi tidak memungkinkan untuk membantu, ada baiknya tidak perlu memaki ataupun menghujat mereka yang sedang tertindas. Saya berharap orang Aceh tidak termakan hasutan pihak-pihak yang dari jauh menonton dan kemudian memberikan masukan-masukan buruk pada orang Aceh agar berlaku kasar dan tidak manusiawi terhadap para pengungsi Rohingya.

Jika pertanyaannya apakah kita harus membantu mereka? Ya, kita harus membantu umat Islam dan mereka juga manusia seperti kita ini. Saya berharap persoalan ini lekas selesai dan para pengungsi itu bisa merasakan kehidupan yang normal. Mereka juga berhak hidup normal seperti kita.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved