Kupi Beungoh
Distopia Pengungsi Dunia
Narasi menolak pengungsi Rohingya, kini berhasil menguasai ruang publik di Indonesia, dan merupakan sebuah fenomena baru yang menyentak publik
Oleh: Akhsanul Khalis*)
Narasi menolak pengungsi Rohingya, kini berhasil menguasai ruang publik di Indonesia, dan merupakan sebuah fenomena baru yang menyentak publik nasional maupun internasional.
Fenomena ini menarik untuk dicermati, karena senada dengan di belahan dunia lain: di negara manapun, agak sulit menerima orang asing berstatus pengungsi.
Acapkali pengungsi asing dianggap membawa pengaruh buruk di negara tujuan. Sehingga pengungsi asing layak disebut sebagai masyarakat distopia (terkesan menakutkan), lawan kata dari istilah utopia (masyarakat ideal) yang diciptakan Santo Thomas More.
Terlanjur dicap buruk, barangkali luput dalam ingatan publik, bahwa berbagai masalah yang menyertai pengungsi, pada dasarnya mereka adalah juga korban.
Fenomena global
Kendati pengungsi adalah korban, namun trend penolakan pengungsi asing di dunia kian meningkat. Dibandingkan di Indonesia, kultur anti pengungsi asing di Eropa lebih mengakar kuat. Kondisi itu diperkuat oleh penelitian Bulcsú Hunyadi dan Csaba Molnar yang di publish dalam Freedom House: Bangkitnya Xenofobia di Eropa Tengah.
Berdasarkan hasil penelitian keduanya, krisis pengungsi mancanegara dan imigran telah meningkatkan xenophobia (ketakutan terhadap orang asing) hampir seluruh Eropa.
Beberapa bukti menunjukkan sentimen xenophobia justru tersebar luas di Eropa Tengah walaupun beberapa negara di kawasan itu dalam kategori kekurangan populasi karena angka kelahiran rendah dan bukan tempat tujuan akhir pengungsi asing.
Fenomena ini dalam pengertian Hunyadi dan Molnar disebut efek ketakutan terhadap “pengungsi tak berwajah”.
Ungkapan “pengungsi tak berwajah” bermakna: efek ketakutan terhadap pengungsi asing di media sosial.
Karena dalam penelitian lain oleh Törnberg dan Wahlström (2019), terungkap bahwa media sosial berperan penting dalam membangun opini berbau xenophobia terhadap imigran dan pengungsi di sejumlah negara-negara Uni Eropa.
Seiring menyebarnya xenophobia di Eropa, perdebatan anti pengungsi asing sudah berada di atas ring pertarungan ideologi politik nasional. Kubu paling anti pengungsi identik dengan ideologi ultranasionalis (nasionalisme ekstrim).
Partai-partai sayap kanan yang berideologi ultranasionalis di Eropa sukses mendulang dukungan politik.
Sejak dulu partai politik sayap kanan dikenal lihai mengolah dan mengawetkan narasi ketakutan terhadap pengungsi asing dengan isu keamanan, penguasaan ekonomi dan ancaman terjadinya perubahan identitas budaya dari pendatang asing.
Ketakutan terhadap pengungsi tidak hanya terjadi di sejumlah negara Uni Eropa. Di kawasan Timur Tengah juga kerap muncul gelombang politik anti pengungsi. Sampai kini, persekusi dan pengusiran paksa terhadap pengungsi Palestina dan Suriah tak kunjung usai.
Sejarah pernah mencatat tragedi pembantaian pengungsi Palestina di Lebanon. Peristiwa yang dikenal dengan Sabra dan Shatila.
| Dari Thaif ke Aceh: Makna Isra Mikraj di Tengah Bencana |
|
|---|
| Jaga Marwah USK: Biarkan Kompetisi Rektor Bergulir dengan Tenang dan Beradab |
|
|---|
| Banjir Aceh yang Menghapus Sebuah Kampung |
|
|---|
| Serambi Indonesia Cahaya yang tak Padam di Era Digital |
|
|---|
| Ekoteologi Islam: Peringatan Iman atas Kerusakan Lingkungan dan Bencana Ekologis Aceh |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Akhsanul-Khalis.jpg)