Kupi Beungoh
Distopia Pengungsi Dunia
Narasi menolak pengungsi Rohingya, kini berhasil menguasai ruang publik di Indonesia, dan merupakan sebuah fenomena baru yang menyentak publik
Ada dua faktor secara garis besar yang menyebabkan pengungsi asing muncul:
Pertama, pengungsi banyak muncul di negara miskin dan berkembang yang dikoyak perang dan pemberontakan. Faktor sistem politik yang tidak demokratis: diskriminasi dan ketidakadilan sebagai pemicu ketidakstabilan politik dan keamanan.
Kedua, hegemoni imperialisme gaya baru yang memperburuk keadaan di sejumlah negara miskin dan berkembang. Pasca perang Dunia II, model penjajahan berubah wujudnya.
Meskipun tidak lagi dijajah secara fisik, namun penjajahan berlanjut di bawah kendali sistem kapitalisme global yang dipimpin negara adidaya pemenang perang.
Sebut saja Amerika Serikat, agar tercapai kepentingan geopolitik, tidak segan menggunakan pendekatan big stick diplomacy: memaksakan hubungan kerjasama di bawah ancaman.
Bagi negara miskin atau berkembang yang tidak ingin “berteman” akan berhadapan dengan ancaman: diciptakannya ketidakstabilan politik-ekonomi, digulingkan pemerintahan sah diganti dengan rezim baru yang siap bekerja sama meskipun punya kecenderungan menindas rakyatnya sendiri.
Sebaliknya, negara yang menerima ajakan Amerika Serikat akan mendapatkan tawaran “angin surga investasi”. Tentu di dalam tawaran menggiurkan itu, ada niat terselubung “tidak ada makan siang gratis”.
Ironisnya, disamping tawaran investasi pembangunan ala kapitalisme, masyarakat di negara miskin dan berkembang justru menjadi objek penderita.
Tak heran, target negara adikuasa model Amerika Serikat hanya berkepentingan mengeksploitasi sumber daya alam di sektor perminyakan dan pertambangan.
Hak atas kedaulatan lingkungan hidup bagi masyarakat dirampas demi kepentingan ekonomi negara adidaya.
Sementara itu resiko kerusakan lingkungan hidup kian mempertebal masalah kemiskinan, kelaparan kronis dan terpaksa kehilangan tempat tinggal.
Patut direfleksikan
Mengingat kompleksitas permasalahan global saat ini: perang, krisis ekonomi, perubahan iklim, dan ditambah lagi pengaruh negara adikuasa berwatak imperialisme kapitalistik. Ke depan, dari jumlah 114 juta pengungsi di seluruh dunia berpotensi akan terus bertambah.
Masalah pengungsi asing umpama benang kusut, nyaris tidak mungkin diselesaikan dalam waktu singkat. Solusinya dibutuhkan kerjasama tingkat global.
Hanya saja penulis ingin menggaris bawahi konteks masyarakat biasa dalam melihat masalah ini, semestinya membuka kesadaran memperkaya literasi tentang pemahaman geopolitik beserta nilai kemanusiaan, sehingga tidak latah terseret arus paham xenophobia.
Penulis: Akhsanul Khalis, Pemerhati Politik dan Sosial, Alumni Magister Administrasi Publik: Konsentrasi Public Policy.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
BACA TULISAN KUPI BEUNGOH LAINNYA DISINI
| Dari Thaif ke Aceh: Makna Isra Mikraj di Tengah Bencana |
|
|---|
| Jaga Marwah USK: Biarkan Kompetisi Rektor Bergulir dengan Tenang dan Beradab |
|
|---|
| Banjir Aceh yang Menghapus Sebuah Kampung |
|
|---|
| Serambi Indonesia Cahaya yang tak Padam di Era Digital |
|
|---|
| Ekoteologi Islam: Peringatan Iman atas Kerusakan Lingkungan dan Bencana Ekologis Aceh |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Akhsanul-Khalis.jpg)