Kupi Beungoh

Distopia Pengungsi Dunia

Narasi menolak pengungsi Rohingya, kini berhasil menguasai ruang publik di Indonesia, dan merupakan sebuah fenomena baru yang menyentak publik

Editor: Amirullah
ist
Akhsanul Khalis, Staf Pengajar/dosen di kampus swasta di Banda Aceh. Riwayat pendidikan: Alumni Magister Administrasi Publik UGM. 

Peristiwa itu terjadi pada tahun 1980-an, ribuan pengungsi terdiri dari anak-anak, perempuan dan laki-laki penghuni kamp tersebut dibantai dengan sadis oleh milisi bersenjata Kristen Maronit.

Motif pembantaian oleh ekstrimis milisi Kristen Maronit itu didasari masalah populasi penduduk (demografi) di Lebanon: 60 persen Kristen Maronit dan 40 % Islam. Kelompok Kristen Maronit ketakutan dengan masuknya gelombang pengungsi Palestina, karena disinyalir akan berpengaruh pada persaingan dominasi politik.

Kondisi tak kalah menyedihkan juga dirasakan jutaan pengungsi asal Suriah yang sekian tahun hidup terkatung-katung di kamp pengungsian Turki -dekat perbatasan kedua negara.

Kini, masalah pengungsi Suriah juga berkelindan dengan politik elektoral di Turki.

Pasalnya, penolakan keras terhadap pengungsi Suriah kerap dibungkus kepentingan politik elektoral yang seringkali berujung kepada serangkaian aksi persekusi dan kekerasan.

Gelombang penolakan keras terhadap pengungsi Suriah datang dari sejumlah partai politik berhaluan nasionalis sekuler Turki yang notabene oposisi terhadap Pemerintahan Erdogan.

Pengungsi Aceh

Nasib serupa juga pernah dirasakan sebagian orang Aceh. Di kala konflik bersenjata antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan Pemerintah Indonesia selama puluhan tahun, kondisi Aceh tentu sangat menyedihkan: pembunuhan, penculikan, penahanan dan penganiayaan bisa terjadi kapan saja.

Ketika eskalasi kekerasan sedang berada di puncaknya. Keinginan ingin hidup damai mulai kehilangan harapan, masyarakat sudah tidak aman saat mencari rezeki, akhirnya ribuan masyarakat Aceh nekat melarikan diri ke negeri jiran terdekat.

Malaysia adalah negara tujuan untuk mencari pekerjaan, kehidupan layak dan mencari suaka politik.

Sesampai di negara tujuan, justru dihadapkan pada kenyataan pahit. Pemerintah Malaysia menangkap dan mendeportasi pengungsi kembali ke Indonesia.

Bagi yang berhasil lolos dari penangkapan, mereka -pengungsi konflik Aceh- terpaksa hidup dalam kondisi kemiskinan dan penderitaan di negeri orang.

Walhasil di tengah kondisi melarat, secercah harapan pun datang. Banyak pengungsi asal Aceh di Malaysia mendapatkan bantuan dan jaminan perlindungan dari UNHCR -badan urusan pengungsi PBB.

Korban ketidakadilan

Menyikapi isu pengungsi asing haruslah dilihat pada akar masalahnya. Pengungsi di era modern tidak muncul tiba-tiba dari ruang hampa.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved