Opini

Tren Golput di Pemilu

“Jika seorang Muslim dihadapkan pada dua keburukan, maka pilih yang keburukannya lebih kecil. Tidak ragu lagi adanya pemimpin Muslim itu lebih kecil k

Editor: mufti
IST
Mardin M Nur, Dosen UIN Ar-Raniry Banda Aceh 

Mardin M Nur, Dosen UIN Ar-Raniry Banda Aceh

SALAH satu fenomena menarik pada pemilu serentak 14 Februari 2024, adalah keberadaan kelompok pemilih golongan putih (golput). Pencetus istilah ini adalah Imam Waluyo. Dalam istilah politik, golput adalah tindakan peserta pemilu yang tidak memilih satupun kandidat yang dicalonkan. Bentuknya, bisa tidak mendatangi Tempat Pemungutan Suara (TPS). Datang, tetapi mencoblos bagian putih kartu suara.

Boleh juga tidak memberikan hak pilihnya pada kandidat manapun.Golput berawal dari gerakan moral mahasiswa, pemuda dan budayawan. Dicetuskan pada 3 Juni 1971 bertempat di Balai Budaya Jakarta. Bertujuan memprotes pemilu 1971, pemilu pertama pada era Orde Baru. Pesertanya hanya 10 partai politik dibanding 172 partai pada pemilu pertama 1955. Tokoh yang memimpin gerakan ini adalah Arief Budiman.

Golput sering kali menuai kontroversi dalam masyarakat. Ada yang menganggapnya sah-sah saja. Ada pula yang menganggapnya haram. Mana yang benar?

Prediksi Golput

Data statistik golput dalam empat kali pemilu terakhir sangat fluktuatif.  Pada pemilu 2004, angka golput pemilihan presiden (pilpres)  20,24 persen. Pemilu 2009 golput 25,19 % . Puncaknya 2014 menjadi 30,22 % . Pada pemilu terakhir 2019, turun drastis, 18,03 % . (CNN Indonesia, 2/10/23). Data golput pilpres 2004, 2009 dan 2014 menunjukkan tren kenaikan rata-rata 4,99 % . Sedangkan pada 2019 terjadi penurunan yang sangat signifikan 12,19 % .

Sementara itu, tren golput pemilihan legislatif (pileg) tahun 2004 dan 2009, menunjukkan tren peningkatan. Sebaliknya 2014 dan 2019 terjadi tren penurunan. Pada pileg 2004 angka golput 15,93 % . Pileg 2009 naik 29,01 % .  Pada 2014 golput pileg turun, 24,89?n 2019 turun lagi, 18,31 % . (CNN Indonesia, 2/10/23). Artinya, pada 2004 dan 2009 terjadi tren kenaikan golput 13,08 % .
Sebaliknya 2014 dan 2019 terjadi penurunan sebesar 5,35 % .

Mengingat alotnya persaingan antar pasangan calon, diprediksi pada pilpres 2024, terjadi tren penurunan golput. Jika angka penurunan 5 % saja, maka golput 2024 diprediksi 13.03 % . Jika dikonversi dengan data pemilih tetap 204.807.222 orang, maka prediksi golput Pilpres 2024 mencapai 26.686.381 orang.

Lebih tujuh kali lipat pemilih Aceh yang hanya 3.742. 037 orang.
Seiring turunnya prediksi golput pilpres, diduga juga akan terjadi penurunan golput pileg. Andai angka penurunan golput diprediksi sama dengan lima tahun lalu 5,35 % , prediksi golput pileg 2024 adalah 12,96 % . Jika dikonversi dengan data pemilih tetap 204.807.222 orang, maka jumlah golput pileg mencapai 26.543.016 orang. Setara lebih tujuh kali lipat pemilih Aceh.

Kenapa Golput

Data statistik di atas sangat riskan. Perlu dicarikan solusinya. Kenapa mereka memilih golput. Ada beberapa alasan kenapa seseorang pemilih menjadi golput. Pertama golput apolitis, yakni tidak peduli terhadap politik. Keikutsertaan memilih hanyalah hak warga negara, bukan kewajiban. Mencoblos dianggap membuang waktu dan tidak menghasilkan duit. Kedua golput teknis individu, tidak ikut pemilu karena teknis personal. Misalnya keluarga meninggal, ketiduran, berhalangan hadir atau keliru mencoblos sehingga suaranya tidak sah.

Ketiga, golput administratif. Seperti tidak mendapat panggilan memilih. Keempat, golput politis, yakni merasa tidak ada calon yang sesuai dengan hati nuraninya. Misal rendahnya kualitas calon. Kriteria yang dikehendaki tidak sesuai kapasitas calon. Bahkan terkesan memperkaya diri. Kelima, golput ideologis yakni tidak percaya pada mekanisme demokrasi dan kebenaran hasil pemilu yang disediakan pemerintah. Pemilu menurut mereka adalah sistem thaghut yang berasal dari Barat, dan haram ditiru. Keenam, golput intimidasi yakni tidak hadir ke TPS dikarenakan adanya tekanan.

Golput haram

Golput dianggap penyakit demokrasi. Ketidakhadiran sebagian rakyat dapat mencederai hasil pemilu. Pemilu gagal mendapatkan suara mutlak dari seluruh warga Negara Indonesia. Kedaulatan rakyat dalam sistem demokrasi tinggal slogan. Legitimasinya menjadi rendah. Bayangkan dari data prediksi golput pilpres 2024 sebanyak 26.686.381 orang, jika mengarah pada satu pasangan calon, boleh jadi pemilu hanya berlangsung satu putaran dan dapat mengirit uang negara.

Kehadiran semua rakyat yang memenuhi syarat ke TPS adalah keniscayaan. Kehadiran ke TPS adalah bagian wujud menjalankan perintah Allah dan Rasulnya dalam memilih pemimpin. Agar negeri ini dipimpin oleh hamba Allah yang taat dan amanah. Tidak jatuh ke tangan orang-orang jahat.
Begitu pentingnya mengangkat pemimpin, Allah berfirman: “Sungguh Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya...,” (Qs. 4: 58).

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved