Minggu, 14 Juni 2026

Salam

Fanatisme Buta Mengalahkan Akal Sehat

Kalau diartikan dalam bahasa Indonesia, kira-kira begini bunyi-nya: “Apabila tidak mendukung * (narasumber menyebut nama salah satu capres di Pilpres

Tayang:
Editor: mufti
Serambi on TV
Ketua MPU Aceh Himbau Masyarakat Jangan Terlalu Fanatik Dalam Pemilu 2024 

APABILA se daripada dukung * (sensor), nyan tanda-tanda mata kabuta, hate kabuta, geulinyueng ka klo, hana jeut le keu manusia, asoe nuraka tulen.” Rangkaian kalimat dalam video yang kerap muncul di grup WhatsApp maupun media sosial ini, sepertinya cocok untuk menggambarkan tentang fanatisme da-lam pemilu dan pilpres.

Kalau diartikan dalam bahasa Indonesia, kira-kira begini bunyi-nya: “Apabila tidak mendukung * (narasumber menyebut nama salah satu capres di Pilpres 2019), itu pertanda matanya sudah buta, hatinya sudah buta, telinga sudah tuli, tidak bisa lagi diang-gap sebagai manusia, (dan) akan akan bulat-bulat masuk neraka.”

Memang video itu sudah tidak relevan lagi di masa seka-rang. Karena sang capres yang didukung oleh tokoh tersebut, pada akhirnya bergabung dengan kubu yang dulu menjadi la-wannya. Sang tokoh dalam video juga sudah memberikan kla-rifikasi, bahwa pernyataan itu dia sampaikan dulu ketika rak-yat dihadapkan pada pilihan yang sangat sulit, sehingga dengan terpaksa harus memilih “yang buruk” daripada “yang terburuk”.

Namun, belakangan, video berisi pernyataan itu kembali ramai dibahas di berbagai platform media sosial, sejak awal dimulainya tahapan Pemilu dan Pilpres 2024. Dalam banyak percakapan di grup-grup WhatsApp, video dan pernyataan tokoh ini menjadi salah satu contoh “bentuk fanatisme berlebihan dalam pemilu.”

Ya, fanatisme berlebihan dalam pemilu kerapkali menimbul-kan kerugian bagi diri sendiri dan orang lain. Pilpres 2019 lalu menjadi salah satu pelajaran terbesar dalam sejarah Indone-sia, tentang betapa fanatisme berlebihan menimbulkan kerugi-an yang sangat besar, kehilangan harta benda hingga jatuhnya korban jiwa. Ujung-ujungnya banyak orang merasa kecewa, teru-tama ketika sang idola bergabung ke sana.

Untungnya, pada pilpres kali ini ada tiga pasangan capres yang muncul, sehingga friksi dan perbedaan dukungan tidak se-dahsyat pada pilpres 2019 lalu. Namun, bukan berarti fanatis-me itu hilang sama sekali. Fanatisme berlebihan tetap ada, tapi dalam bentuk berbeda. Di antaranya adalah perusakan baliho para caleg, hingga larangan berkibarnya bendera partai lain se-lain partai yang didukung oleh kelompok tertentu.

Dalam kaitan inilah, Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh Tgk H Faisal Ali mengimbau masyarakat Aceh untuk menghindari sikap fanatisme yang berlebihan dalam menyam-but pesta demokrasi 2024. "Kepada masyarakat kami harap untuk tidak terlalu berlebihan terhadap satu-satu calon, jangan sampai memfitnah calon yang lain, dan sampai melakukan tin-dakan-tindakan yang merugikan pihak lain," ujar Tgk Faisal, di-lansir media ini Jumat (26/1/2023).

Sosok yang akrab disapa Abu Sibreh ini menjelaskan, masya-rakat boleh saja berkomitmen untuk mendukung calon pilihan-nya dalam Pemilu 2024. Namun dalam memberikan dukungan tersebut jangan terlalu berlebihan atau fanatik. Sebab, terang Tgk Faisal Ali, sikap fanatisme sering membuat seseorang me-lakukan tindakan yang bukan hanya tidak sesuai dengan demo-krasi, tapi juga tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Bahkan, sikap berlebihan dalam memberi dukungan tersebut juga bisa sampai menimbulkan gesekan atau perpecahan antar sesama. "Kalau terlalu fanatik, kita akan menjelek-jelekkan calon yang lain dan kita akan berupaya melakukan tindakan yang kadang-kadang menye-babkan pihak lain dirugikan dalam segala aspek," jelas Tgk Faisal.
"Tidak boleh ada gambar yang lain, tidak boleh ada calon yang lainnya, tidak boleh ini tidak boleh itu itu, itu akan membu-at nilai ukhuwah di antara kita terganggu," sambungnya.

Meski demikian, masyarakat diminta untuk tidak boleh le-ngah agar proses pemilu bisa berjalan dengan tertib, jujur, adil, dan bertanggung jawab.

Kita tentunya sepakat dengan pernyataan Ketua MPU Aceh ini. Berdemokrasi dengan cara yang baik dan sewajarnya, ka-rena tidak ada satupun yang bisa menjamin, bahwa calon yang kita dukung ini tidak akan mengkhianati harapan kita. Jangan sampai fanatisme mengalahkan akal sehat kita. Ingatlah petu-ah bijak orang tua Aceh, “nyoe pulitek, ditaguen manok, watee masak ka itek.” Wallahuaklam.

POJOK

Ofisial Persidi Idi tendang wasit
Bagaikan pepatah “tak ada rotan, akar pun jadi”

MPU Aceh imbau masyarakat tak terlalu fanatik dalam Pemilu 2024
Entah pepatah atau bukan, bunyinya begini “nyoe pulitek, ditaguen manok dipeugah itek”

Pejabat Diskop UKM Aceh Besar jadi tersangka dugaan korupsi retribusi pasar
Gara-gara duit setitik, rusak kehidupan sebelanga

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 02:00 WIB
Qatar
Qatar
1 - 1
Switzerland
Swiss
Grup C - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 05:00 WIB
Brazil
Brasil
1 - 1
Morocco
Maroko
Grup C - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 08:00 WIB
Haiti
Haiti
Live
Scotland
Skotlandia
Grup D - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 11:00 WIB
Australia
Australia
VS
Turkiye
Turki
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved