Opini

Cermin Kemiskinan

LAPAR, mau makan tak ada makanan, mau beli makanan tak ada uang. Mengapa tak ada uang? Tak kerja. Kenapa tak kerja? Lowongan kerja susah, ada juga yan

Editor: mufti
For Serambinews
Dr Ainal Mardhiah SAg MAg, Dosen Tetap Pasca Sarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh 

Dr Ainal Mardhiah SAg MAg, Dosen Tetap Pasca Sarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh

LAPAR, mau makan tak ada makanan, mau beli makanan tak ada uang. Mengapa tak ada uang? Tak kerja. Kenapa tak kerja? Lowongan kerja susah, ada juga yang malas. Ada yang sudah dapat pekerjaan, tapi sudah dirumahkan habis masa kontrak. Intinya, banyak pengangguran.

Mengapa banyak pengangguran? Karena sulitnya mendapat pekerjaan di zaman sekarang ini, meski berbekal skill yang bagus, pendidikan yang tinggi, apalagi yang miskin yang tidak sekolah. Sementara kebutuhan hidup, kebutuhan perut mendesak, tidak bisa menunggu, pilihannya adalah merampok, mencuri atau dengan cara kriminal lainnya yang sedang tren "begal". Masalahnya adalah kemiskinan.

Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut angka pengangguran di Provinsi Aceh periode Agustus 2022-Agustus 2023, sebanyak 157 ribu orang. Angka yang fantastis. Mengutip CNN Indonesia data pengangguran di Indonesia mencapai 7,86 juta orang per Agustus 2023, dari total 147,71 juta angkatan kerja.

Realita kehidupan

Suatu ketika ada seseorang sedang memanjat pohon melinjo di kebun kami tanpa minta izin. Dia tidak mau turun meski telah diminta. Sebaliknya, terus melanjutkan memetik buah melinjo tanpa izin.

Selesai memetik sesuai dengan yang ia butuh, lalu pria itu turun dari pohon tersebut. Sambil mengutip buah melinjo di tanah yang tadi dipetik, dia berkata: "Mak long ka lhe uroe hana ge pajoh bu, hana breh, tengeh sakit (ibu saya sudah 3 hari tidak makan, tidak ada beras di rumah dan lagi sakit)".

Apa yang kita rasakan ketika mendengar kata-kata tersebut? Dia mencuri karena ibunya sudah 3 hari belum makan, tidak ada beras di rumah dan ibunya lagi sakit. Agar ia bisa membeli beras ia memilih mencuri, karena susahnya mencari pekerjaan.

Dalam kasus lain, di kampung sering kehilangan ternak sapi, kambing, dan ayam. Pada sebuah kesempatan, si pencuri tersebut menceritakan, bahwa ia gelisah dengan dosa-dosanya. "Dosa apa gerangan yang telah kamu lakukan?" "Saya pernah mencuri," begitu ia katakan. "Apa yang kamu curi?" "Ternak," katanya lagi.

"Untuk apa kamu mencuri?" Ia menjawab: “Saya ingin seperti kawan-kawan yang lain, mereka bisa beli apa yang mereka mau, bisa makan yang mereka inginkan, bisa kumpul-kumpul dengan kawan-kawan untuk senang-senang. Sedangkan orang tua saya bukan orang mampu. Hanya berkebun yang hasilnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja tidak cukup”.

Masalah ekonomi tidak hanya dirasakan oleh orang-orang yang tidak memiliki pekerjaan tetap, yang sudah menjadi pegawai negeri atau pegawai swasta juga mengalami hal yang sama. Dengan gaji yang terbatas, namun pengeluaran melebihi batas gaji yang diperoleh setiap bulan. Mengapa bisa demikian? Apakah mereka tidak pandai mengatur uang, agar tidak besar pasak dari tiang?

Saya rasa tidak demikian, sebabnya adalah karena biaya untuk kebutuhan hidup di negeri ini melebihi gaji yang didapatkan, dan semua kebutuhan tersebut mahal. Sebagai contoh pendidikan mahal, kesehatan mahal, listrik dan air mahal, belum lagi minyak kendaraan mahal, jajan anak-anak, kebutuhan anak (susu, pampers), pakaian, sembako, semua serba mahal. Belum lagi pajak jika memiliki kendaraan. Tidak ada kendaraan, sulit untuk berangkat kerja, berangkat sekolah. Dilema jadinya.

Hal ini merupakan tekanan berat bagi setiap diri, yang menyebabkan timbulnya stres dan depresi. Lalu memilih jalan pintas untuk mendapatkan uang termasuk dengan cara menjadi "begal", membunuh dengan sadis untuk mengambil harta seseorang.

Sebab lainnya adalah krisis dalam rumah tangga. Maraknya perceraian, anak-anak kehilangan pegangan, kehilangan perhatian dan kasih sayang, kehilangan teladan, sehingga anak stres dan depresi. Di sisi lain, guru sibuk dengan berbagai urusan sehingga urusan pendidikan agama pada anak didik terabaikan. Anak didik kehilangan figur guru dan orang tua teladan, anak didik kehilangan kesempatan mendapatkan pembiasaan dan pengajaran yang baik dari orang tua dan guru.

Lalu apa yang mereka dapatkan yaitu pekerjaan rumah, pekerjaan di sekolah, materi pelajaran yang tidak habis-habis dan sikap emosi dari guru dan orang tua yang lelah dengan keadaan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved