Jurnalisme Warga
Serunya Ikut ‘Nyoblos’ di TPS
Seperti masyarakat Indonesia pada umumnya saya dan keluarga menyambut gembira terlaksananya Pemilu 2024. Satu hari sebelum pelaksanaan sudah kami pers
CHAIRUL BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (Uniki) dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Pante Gajah, Peusangan, Bireuen
Pemilihan umum (pemilu) sebagai pesta demokrasi telah selesai dilaksanakan. Banyak cerita di balik hajatan rakyat dengan siklus lima tahun sekali ini. Khususnya di Aceh, kegiatan pemungutan suara berlangsung tertib dan aman. Tidak ada kotak suara yang dilarikan atau dibakar sepeprti di Papua sana.
Kartu suara untuk pemilihan presiden dan wakil presiden, calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, calon Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), dan calon Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK), semua telah dipersiapkan oleh kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS) di tempat pemungutan suara (TPS) pada wilayah masing-masing.
Seperti masyarakat Indonesia pada umumnya saya dan keluarga menyambut gembira terlaksananya Pemilu 2024. Satu hari sebelum pelaksanaan sudah kami persiapkan segala sesuatunya dan yang paling utama adalah membawa surat undangan pencoblosan.
Kami berangkat dari rumah menuju TPS di Kompleks Masjid At-Taqwa Desa Pante Gajah pukul 10.00 dan tiba di lokasi pukul 10.05 WIB. Suasana waktu itu sudah ramai, layaknya pesta. Banyak warga yang merantau terlihat pulang kampung hanya untuk ikut pemilu demi mencoblos pilihannya.
Berdasarkan informasi dari Geuchik Pante Gajah, Fathlar Murhadi, di sini tersedia tujuh TPS dengan jumlah pemilih ± 2.003 orang. Masing-masing TPS ± 280 pemilih. Sesuai dengan undangan, kami tercatat di TPS 1 dengan jumlah pemilih 289 orang.
Saat tiba di TPS sudah banyak warga yang berdiri saling bercerita. Khusus untuk orang tua tersedia tempat duduk. Kami pun menunggu giliran, sudah hampir 15 menit baru ada kesempatan untuk menyerahkan surat undangan. Sambil menunggu panggilan kami saling menyapa warga dan berkesempatan mengelilingi TPS yang ada di lokasi.
Berbagai cerita seru kami dapati pagi itu. Ada warga yang menjagokan pilihannya, ada caleg yang berkeliaran minta bantuan untuk memilih dia, ada juga timses yang terus memantau orang-orang yang ada di TPS.
Sementara itu, petugas KPPS dan PPS sibuk melayani warga yang terus berdatangan untuk memberikan suara kepada paslon presiden/wapres dan anggota DPD atau anggota legislatif pilihannya masing-masing.
Di setiap TPS juga tersedia informasi penggunaan hak pilih, terbagi dalam tiga ketentuan. Pertama, terdata dalam daftar pemilih tetap (DPT) yang dapat dicek melalui situs cekdptonline.kpu.go.id. Kita boleh menggunakan hak pilih di TPS mulai pukul 07.00 s.d 13.00 waktu setempat, mendapatkan semua surat suara, dan hadir sesuai ketentuan.
Kedua, daftar pemilih tambahan (DPTb), yaitu pemiliham DPT, tetapi karena alasan tertentu tidak dapat menggunakan hak pilih di TPS tempat pemilih terdaftar dengan mengurus dan membawa formulir pindah memilih ke TPS tujuan. Mereka untuk kategori ini diimbau untuk hadir paling cepat pukul 11.00 waktu setempat.
Ketiga, daftar pemilih khusus (DPK) tidak terdaftar dalam DPT, menggunakan hak pilih sesuai dengan alamat pada KTP, datang satu jam terakhir, dapat dilayani sepanjang surat suara tersedia dan mendapatkan semua surat suara.
Antusiasme masyarakat untuk ikut Pemilu 2024 ini memang berbeda dari yang lima tahun lalu. Ini terlihat dari banyaknya anak muda/generasi milenial yang ikut memilih. Tidak mau kalah, para orang tua juga berbondong-bondong datang ke TPS, meninggalkan seluruh kegiatan rutinnya seperti ke sawah atau ke kebun, termasuk juga aparatur sipil negara (ASN), dan karyawan swasta karena pemerintah telah menetapkan hari pencoblosan sebagai hari libur nasional.
Akhirnya, setelah satu jam menunggu, barulah saya dipanggil, dapat giliran mencoblos. Ini saat yang sangat dinantikan, lima tahun sekali. Memasuki TPS kita diminta menandatangani daftar pemilih. Petugas menyerahkan lima lembar kertas suara. Warna abu-abu untuk memilih capres dan cawapres, warna merah untuk memilih calon anggota DPD, kuning untuk memilih calon anggota DPR RI, biru untuk memilih calon anggota DPRA, dan warna hijau untuk memilih calon anggota DPRK. Kemudian, mereka mempersilakan saya masuk ke salah satu bilik suara yang kosong dari empat yang ada. Di sana sudah tersedia paku dan busa untuk alat mencoblos.
Suasana berbeda saya rasakan lima tahun lalu. Dulu pada bilik suara di sebelah ada yang bertanya siapa yang kita pilih, tetapi saat ini nyaris tak terdegar suaranya. Hanya suara kertas yang dibuka terdengar jelas. Mungkin semua sudah ada pilihan siapa yang akan dipilih sebelum masuk ke TPS.
Jurnalisme Warga
Penulis JW
Tahun Politik
Pemilu 2024
Coblos Surat Suara
CHAIRUL BARIAH
Serunya Ikut Nyoblos di TPS
TPS
| Langkahan Pascabanjir: Kesaksian dari Tanah yang Dihantam Bah dan Kayu |
|
|---|
| TKA Aceh di Peringkat 31: Apa yang Salah dengan Pendidikan Kita? |
|
|---|
| Kokurikuler sebagai Jalan Menuju Sekolah Aman Bencana di SMAN 1 Matangkuli |
|
|---|
| Pendidikan Aceh: Sinergi dan Optimis Pascabencana |
|
|---|
| ‘Makjun’ Warisan Leluhur Aceh Patut Mendapat Pengakuan WHO dan UNESCO |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/CHAIRUL-BARIAH-Penulis-JW-II.jpg)