Jurnalisme Warga
Mengintip Tradisi Meugang di Aceh: Antusiasme Tinggi Meskipun Harga Melonjak
Mengintip Tradisi Meugang di Aceh: Antusiasme Tinggi Meskipun Harga Melonjak
Oleh: Muhammad Fahrul Razi dan Agamna Azka
(Mahasiswa Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam FDK UIN Ar-Raniry)
Ramadhan merupakan salah satu dari dua belas bulan dalam penanggalan Islam yang berada di antara bulan Sya'ban dan bulan Syawal. Ramadhan oleh Rasulullah digelar sebagai "Sayyid al-Syuhur” (penghulu bagi bulan-bulan lainnya).
Ramadhan merupakan bulan yang paling utama dibandingkan bulan-bulan lainnya.
Keutamaan bulan Ramadhan disebutkan dalam hadis nabi yang berarti: “Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “Kecuali amalan puasa.
Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya, disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku.
Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi” (HR. Bukhari dan Muslim)
Baca juga: Begini Niat Mandi Mau Puasa Ramadhan 2024, Tata Cara dan Waktunya, Lengkap Doa Setelah Mandi
Karena keutamaannya itu bulan Ramadhan menjadi bulan yang spesial dan paling dinanti nanti oleh ummat muslim. Segala macam kebutuhan untuk menyambut bulan ramadhan sudah mulai dipersiapkan oleh setiap umat muslim jauh jauh hari.
Tradisi Meugang di Aceh
Dalam persiapan menyambut bulan suci Ramadhan, Aceh sebagai daerah mayoritas muslim yang memiliki tradisi tersendiri. Tradisi ini disebut dengan “Meugang”.
Dilansir melalui web maa.acehprov.go.id, meugang adalah tradisi memotong dan memasak daging sapi atau kambing dan dinikmati bersama keluarga dan yatim piatu. Sementara menurut Kolektor Manuskrip Aceh, Tarmizi A Hamid, tradisi meugang telah berlangsung sejak 400 tahun lebih di Aceh.
Sejarah Meugang berasal dari masa kerajaan Aceh di mana sapi, kerbau atau kambing disembelih dalam jumlah banyak dan dibagikan kepada masyarakat secara gratis sebagai tanda syukur dan apresiasi atas kemakmuran negeri Aceh.
Baca juga: KWPSI Kembali Gelar Meugang Bersama Anak Yatim
Tradisi ini telah berlangsung sejak berabad-abad yang lalu, khususnya sejak masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607—1636 Masehi).
Kebiasan ini kemudian dilakukan oleh masyarakat Aceh sampai saat ini ketika dua hari sebelum Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha.
Harga Daging Melonjak di Aceh
| Layar yang Mengubungkan Kita |
|
|---|
| Asyiknya Belajar Alam di Sungai Lhok Buloh |
|
|---|
| Kepedulian Bupati Syech Muharram terhadap Aksara Arab Melayu melalui Program ‘Beut Kitab bak Sikula’ |
|
|---|
| Memetik Hikmah dari Peluncuran Buku MemoryGraph |
|
|---|
| Kenduri di Makam Putroe Sani, Dari Kejayaan Sultan Iskandar Muda ke Sunyi Makam Permaisuri |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/tradisi-meugang_-Muhammad-Fahrul-Razi-kiri-dan-Agamna-Azka-kanan.jpg)