Opini
Syair Tauhid Hamzah Fansuri
Katanya "Pada jamannya pula tidak ada yang mampu menandingi Hamzah Fansuri dalam kesusastraan. Karya-karyanya berpengaruh besar dalam gaya maupun tema
Selain syair, ajaran tasawufnya juga banyak dituangkan dalam Asrarul Arifin, Sharabul Ashiqin, Zinatul Muwahhidin, dan beberapa yang lainnya. Dalam karya itu memuat pengajaran tauhid tertinggi, yang menjadi ciri khas dari corak tasawuf abad ke-17. Pengaruhnya itu mengakar kuat dalam pengamalan agama di pemerintahan dan masyarakat Aceh setidaknya hingga 2 abad pasca ia wafat.
Ajaran tauhid yang dikembangkan oleh Hamzah dan pengikutnya memang kental dengan nuansa tasawuf wujudiyah. Istilah wujudiyah muncul dalam karya Nuruddin Ar-Raniry, seorang ulama asal India yang menjadi Qadhi pada masa Sultan Iskandar Tsani dan Sri Ratu Safiatuddin. Ia menisbahkan istilah itu kepada kalangan sufi yang berpaham wahdatul wujud di Aceh.
Dalam karyanya Hujjat As-siddiq li Daf'i Adz-dzindiq, Nuruddin memasukkan hamzah dalam paham wujudiyah mulhidah (sesat) disebabkan oleh beberapa ajarannya yang diklaim mengandung paham pantheistik, yaitu bersatunya wujud Tuhan dengan wujud alam (hulul). Seperti bunyi bait dalam syair perahu;
Dengarkan sini hai anak ratu.
Ombak dan airnya asalnya satu.
Seperti manikam muhith dengan batu.
Inilah tamsil engkau dan ratu.
Secara tekstual, syair tersebut mengandung makna persatuan Tuhan dan hamba terutama pada bait kedua (ombak dan airnya asalnya satu). Namun, jika didekati menggunakan konsepsi tasawuf, Hamzah membangun argumentasi Tauhid yang cukup jelas. Ia berusaha menjelaskan penegasian Tuhan dari makhluk yang dikenal dengan istilah Tanzih (transedensi), sekaligus membenarkan Tasybih (immanensi) Tuhan atas makhluk secara hakikat, bukan pada wujud lahiriyah yang sering disalahpahami.
Justru Nuruddin menggunakan sudut pandang ilmu Kalam yang membagi wujud itu pada dua yaitu wujud Tuhan dan makhluk, sehingga ia memahami syair hamzah dengan perspektif kalam yang bertumpu pada penalaran lahiriah teks. Maka, konsekuensinya jelas akan tampak seakan Hamzah mengakui persatuan Tuhan dan makhluk secara hakiki. Padahal, tidaklah demikian yang dimaksudkan Hamzah.
Penjelasan Hamzah Fansuri atas prinsip Tauhidnya itu terdapat dalam karya lain, seperti Zinatul Muwahhidin. Ia menjelaskan ajaran Tauhid dengan sangat lurus sebagaimana yang diyakini oleh mazhab masyarakat Aceh yaitu Ahlussunnah. Katanya;
"Allah Subhanahu wa Ta'ala tiada bercherai dengan 'alam. Tiada di dalam alam, di luar alam, dan tiada di atas alam, tiada di hadapan alam, tiada di belakang 'alam, tiada bercherai dengan alam dan tiada bertemu dengan alam, tiada hampir (dekat) dengan alam, tiada jauh dengan alam." Seperti yang dikatakan Imam Junaid Al-Baghdadi juga, "Huwa-l ana kama kana." Dia sekarang sebagaimana Ia terdahulu." Dan Firman Allah, "Subhanallahi 'amma yasifun."
Merujuk pada argumentasinya di tempat lain, Nuruddin meyakini bahwa konsepsi wujud dalam tasawuf itu lebih benar secara hakikat, dan tidak ada pertentangan dengan pandangannya tentang Tauhid. Tetapi, kasus fatwa dzindiq terhadap ajaran Hamzah Fansuri menjadi tanda tanya banyak kalangan, termasuk Syed Naquib Al-Attas mempertanyakan motif serangannya pada paham wujudiyyah.
Karena dampak atas tahkim tersebut melegitimasi sikap politik pemerintah saat itu untuk mengejar pengikut wujudiyah, serta karya-karya yang berafiliasi pada ajaran Hamzah Fansuri dan Syamsuddin as-Sumatrani dibakar, dan dimusnahkan. Sebuah catatan kelam dalam sejarah intelektual di kawasan melayu.
Peristiwa bibliosida itu juga disesali oleh Ali Hasyimi, katanya, "Dan amat disayangkan, oleh karena adanya permainan politik yang haus kekuasaan itu, telah menyebabkan musnahnya sekian banyak karya-karya yang berharga dari kedua Ulama Besar abad XVII ; Syekh Hamzah Fansury dan Syekh Syamsuddin Sumatrani." Andai saja karya-karya itu tidak dibumihanguskan, mungkin Aceh masih menjadi poros khazanah keilmuan Islam di Asia.
Hari ini jejak pemikiran Hamzah masih membekas dalam ekspresi seni, tarekat sufi, dan sebagian dalam pendidikan Aceh. Tetapi yang disayangkan, minim sekali yang mengkaji secara mendalam pemikirannya. Padahal pemikirannya, telah menjadi bagian dari falsafah hidup masyarakat Aceh dan dunia Melayu secara luas yang selalu bertumpu pada tauhid dalam menyikapi realitas hidup.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Syah-Reza.jpg)